My Mind
Hari ini satu topik artikel di koran Kompas, menarik perhatian saya untuk membacanya. Agak kaget juga membaca headline dan isi beritanya. Berita itu menyebutkan, 60 % lulusan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Indonesia tidak terserap lapangan kerja...!

Tanya kenapa...

Mungkin, banyak orang yang terkejut membaca isi berita tersebut. Sudah demikian parahkah kualitas lulusan PTN, sehingga lebih banyak lulusannya yang tidak terserap oleh lapangan kerja yang tersedia di tanah air? Apa jangan-jangan, mereka malah bekerja di luar negeri?

Saya bukannya pesimis, tapi saya tidak yakin kalau 60 % lulusan PTN yang tidak terserap oleh lapangan kerja di Indonesia itu, memang memilih bekerja dti luar negeri, atau dibandingkan mengisi banyak lowongan kosong di negerinya sendiri.

Seharusnya pemerintah (dalam hal ini Dirjen Dikti Depdiknas) memperhatikan informasi yang disampaikan melalui media massa ini, sebab kini terbukti, mendidik orang-orang yang dapat lolos ujian masuk PTN atau yang sejenisnya, ternyata pada akhirnya malah menjadi beban pemerintah karena kelak menjadi pengangguran juga.

Jelas, dalam mendidik seseorang di PTN, pemerintah tidak sedikit pula mengalokasikan anggaran. Artinya, mereka yang masuk PTN, telah mendapatkan biaya sekolah dari pemerintah yang nilainya tidak sedikit.

Pemerintah seharusnya malu mendapatkan informasi seperti itu, sebab PTN berada dibawah "timangan" langsung pemerintah sendiri.

Padahal, berbagai fasilitas negara dan program beasiswa disiapkan untuk mendidik serta membebaskan biaya pendidikan manusia-manusia intelek agar bisa menjadi motor utama pembangunan di negara kita. Namun ternyata, setelah lulus, mereka justru menjadi beban pemerintah.

Maraknya pemanfaatan relasi (koneksi) untuk memasukkan seseorang bekerja, sering kali menjadi penyebab, kenapa banyak lulusan PTN atau PTS dalam negeri, yang tidak dapat terserap dalam lapangan kerja di tanah air. Harus diakui, banyak orang yang memang memanfaatkan koneksi agar bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan.



Apa karena mereka keseringan demonstrasi sehingga dianggap sah-sah saja kalau mereka akhirnya sulit mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya di kampus kedalam dunia kerja?

Atau, apakah ini masalah mental para lulusan PTN, yang belum siap memasuki dunia kerja? Atau lagi, mereka memang tidak siap bersaing dengan para lulusan PTS atau lulusan Perguruan Tinggi luar negeri, karena kualitas mereka sendiri hanya mentok pada bangku kursi kuliah, yang cenderung jauh berbeda dengan keadaan di lapangan (dunia kerja)?

Jadi melayang-layang berkhayal nih... bagaimana kalau setiap perusahaan yang sedang membutuhkan karyawan baru untuk mengisi lowongan yang kosong di tempat mereka, tidak perlu menuliskan secara besar-besar kalau kantor mereka mencari calon karyawan yang baru lulus dari PTN karena para lulusan PTN sendiri, tidak berminat untuk bekerja, tapi masih betah belajar?

Alasannya, kasihan kan, banyak lulusan PTS tidak terkenal dan dianggap kelas kambing, akhirnya merana karena susah mendapatkan pekerjaan hanya karena di CV mereka disebutkan kalau mereka lulusan PTS yang tidak terkenal serta dianggap kelas kambing (sebab otak mereka tidak mampu membawa dirinya masuk PTN dan orang tua mereka gak mampu bayar mahal di PTS yang sudah memiliki nama) meskipun sesungguhnya mereka cerdas dan memenuhi kriteria yang dibutuhkan banyak perusahaan apabila mereka diuji.

Jadinya, mereka yang benar-benar pintar tapi "kebetulan" gagal masuk PTN dan tidak mampu bayar uang kuliah di PTS terkenal, menjadi bagian dari pengangguran juga.

Pemerintah harus melakukan upaya lebih besar dan berdaya guna apabila informasi yang disampaikan lewat media massa tersebut tidak menjadi bulan-bulanan pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pemerintah. Apalagi, sebentar lagi mau pemilu... inget tuhhh...


.SJM
Labels: | edit post
4 Responses
  1. Regina B Says:

    "Alasannya, kasihan kan, banyak lulusan PTS tidak terkenal dan dianggap kelas kambing, akhirnya merana karena susah mendapatkan pekerjaan hanya karena di CV mereka disebutkan kalau mereka lulusan PTS yang tidak terkenal serta dianggap kelas kambing (sebab otak mereka tidak mampu membawa dirinya masuk PTN dan orang tua mereka gak mampu bayar mahal di PTS yang sudah memiliki nama) meskipun sesungguhnya mereka cerdas dan memenuhi kriteria yang dibutuhkan banyak perusahaan apabila mereka diuji. "

    memang gak menjamin yg lulusan sekolah terkenal bisa bekerja (bukannya tidak bisa belajar lho), tapi masalahnya yg lulusan sekolah tidak terkenal katanya jg banyak yg gak bagus karena bahan ujiannya lebih mudah (katanya). setahuku, kalau di indo biasanya pas screening di perusahaan, yg lulusan sekolah tidak terkenal harus dpt nilai lebih tinggi atau full mark daripada yg lulusan sekolah tidak terkenal. selain itu, yg lulusan dari PT itu, biasanya langsung nangkring jadi supervisor, nah kalo semua jd supervisor, sapa yg jadi bawahan?


  2. Yup, saya setuju.

    Menurutku, masalah terbesar penerimaan karyawan baru untuk mengisi lowongan yang kosong, adalah adanya penetapan standar yang berlebih-lebihan (misalnya : IPK harus tinggi) dan tidak memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua orang untuk dapat mengisi lowongan yang ada. Dalam hal ini, setiap perusahaan membuka arena kompetisi dan kompetensi setiap orang, agar memiliki peluang yang sama besar.

    Penetapan standar yang berlebih-lebihan, justru menutup pintu kompetisi dan kompetensi tersebut. Padahal, pada saat baru masuk kerja, semua calon karyawan akan mengalami masa percobaan juga.

    Saya kurang setuju apabila saat ini, setiap perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, selalu memasukkan kriteria standar nilai IPK tinggi agar bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut. Padahal tidak ada jaminan (bahkan tidak ada yang berani menjamin), seseorang yang lulus dengan IPK tinggi, akan mampu mengaplikasikan tingginya IPK yang dimilikinya ke dalam dunia kerja.

    Karena kenyataannya, banyak orang yang ber-IPK tinggi, ternyata hanya mengerti teori yang diajarkan di kampus semata, sedangkan di "hutan rimba" dunia kerja, teori yang diajarkan di kampus, banyak juga yang tidak terpakai (dengan catatan, seseorang tersebut, melamar lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan yang diambil pada saat kuliah).

    Buat saya, nilai IPK bukanlah standar yang menentukan apakah seseorang memang bisa mengaplikasikan ilmu yang diterimanya di kampus kedalam "hutan rimba" dunia kerja. Saya lebih cenderung memilih memasukkan lamanya pengalaman kerja karena seseorang yang berpengalaman, lebih tahu "medan" yang harus ditempuhnya.

    Sedangkan untuk yang baru pertama kali bekerja, saya lebih setuju untuk menghadapinya dengan psikotest, karena memang, dalam dunia kerja, kemampuan nalar tinggi, sangat diperlukan untuk mengambil keputusan dan cepat menyelesaikan pekerjaan.


  3. darma yoga Says:

    Lulusan PTN hanya sedikit yang bekerja di indonesia... menurutku PTN hanya bwt formalitasnya aja, biyaya agak mahal sedikit... sedangkan lulusan PTS banyak yang bekerja... biarpun kuliah yang ditempat yang tidak terkenal yang penting mutunya bagus dan bisa bekerja...
    Buktikan sendiri...


  4. darma yoga Says:

    Pekerjaan tergantung nasib seseorang....


Post a Comment