Showing posts with label poems. Show all posts
Showing posts with label poems. Show all posts
My Mind

TAK INGIN HATI INI TERLUKA

Oleh :  Sarlen Julfree Manurung

 

 

Hati ini terluka,

Sukma ini seakan berdarah-darah...

 

Semburat kepedihan mengalir sudah

Ada sebongkah gelisah menyesakkan dada

Ciptakan lebam hati, luruhkan raga dalam pasrah

Hingga sejenak tak mampu membasuh asa,

Dan mulut ini hanya bisa terkatup tanpa suara,

Tak mampu berkata-kata...

Tak siap merangkum ucapan dalam rasa...

 

Telinga ini melepuh memerah...

Kepala ini berputar berdentak, tak tentu arah

Saat raga ini hanya bisa mengaduh,

Saat diri ini tak lagi bisa bersandar pada pundaknya

Dirinya menjauh, entah kenapa...

 

Kepedihan yang menerjang,

Hembuskan aroma tajam laksana lada

Tak ingin diri ini menyangsi,

Namun tak ingin pula dihempaskan...

Dilepaskan pelan-pelan,

Digoreskan kepenatan teramat dalam,

Hingga tercabik-cabik... Mengguncang lara... Penuh guratan kelam...

 

Dalam keheningan,

Diantara gundah gelisah penantian

Berharap ada semburat kebahagiaan yang menyapa...

Menyejukkan suasana hati,

Meredakan keresahan...

Sembuhkan duka nestapa,

Hadirkan lagi pesona pelangi,

Agar tak ada lagi derai air mata...

 

Pintaku,

Jangan biarkan dirimu menjauh...

Jangan biarkan hati ini melemah dan merapuh

Walau gelora cinta tak lagi seindah yang dahulu

Dan segenap hasrat, tak mungkin lagi berlabuh

Biarlah... biarlah itu semua larung bersama sang waktu

Karena bagiku,

Kebisuan sikapmu, menyiksa relung kalbuku...

 

Biarlah, sudahlah...

Biarlah semuanya berlalu

Sudahi saja kisah temaram kasih yang pernah kita rajut

Jika itu memang mau mu...

Meski kesedihan ini, bukan anganku...

 

Pergilah, jika itu membahagiakan dirimu...

Tapi tolong,

Jangan sakiti hati ku... lagi

 

 

 

Jakarta, 27 Januari 2011

Labels: 0 comments | | edit post
My Mind

D O A

By  :  Sarlen Julfree

 

 

Dalam resah dan gundah,

Raga ini bersimpuh

Di sudut ruangan, menghadap hadirat Tuhan

 

Menundukkan wajah, tak mampu menatap langit

Diam sejenak, menangis kemudian...

Berucap dengan suara parau bergetar

Takut salah, malu pada Tuhan

 

Perlahan dan teramat pelan,

Bait-bait kata terucap

Mengaku dan mengaduh...

Mengungkap segenap bilur-bilur kesalahan,

Antara kekotoran kata-kata, dan joroknya alam pikiran...

Tak terbilang pula rupa tindakan bodoh yang pernah dilakukan,

Sungguh, tiada lagi terhitung jumlahnya...

 

Kata-kata yang mengalir,

Seakan terpahat tanpa ada kata akhir

Memohon dengan memelas,

Menyesal dalam sesegukan tangis,

Merindu untuk diampuni, dihampiri dengan penuh kasih

Berharap Tuhan tak mengingat-ingatnya lagi...

Hingga noda hilang, kembalikan keceriaan

 

Lamat-lamat,

Sebongkah harapan semakin kencang dicurahkan

Tak ingin hati ini lama meredam penat

Karena t'lah lelah memendam gundah...

Hingga terpuruk jiwa luluh ke tanah

Tak kuat menanggung beban...

Tak kuasa merapati kebodohan...

Sebuah derita kalbu, sukma yang mengaku

 

Berserah sudah...

Merendah dalam pasrah...

Berharap, semua sesak segera usai

Saat barisan kata-kata doa, dinaikkan

Dalam ketegaran, hati ini percaya :

Tuhan tak akan pernah menjauh,

Tuhan tak pernah tidur

'tuk dengarkan segenap pinta,

Hingga sungguh, mukjizat itu nyata...

Ketika masalah diserahkan

Dalam rengkuhan kasih, urapan tanganNya

 

Tuhan... Tuhan... Ya Tuhanku...

Ini aku anakMu...

Tilik hatiku, kasihanilah aku,

Pegang tanganku erat-erat...

Dekap aku dalam hangat KasihMu...

Dengarlah pintaku...

Jangan biarkan aku terjatuh,

Semakin lemah karena dosa-dosaku...

 

 

 

Jakarta, 15 Desember 2007

Labels: 0 comments | | edit post
My Mind
Perempuan, Bahagia, Cinta  (Sebuah Gubahan)
By : Sarlen Julfree Manurung


Ketika dibilang dirinya cantik,
Dikiranya menggoda... dibilangnya gombal... dibilangnya manis di bibir saja...

Ketika dibilang jelek,
Dianggapnya menghina... dikatakannya kasar... dibilangnya gak romantis... pokoknya dikecam habis...

Kalau dibilang lemah,
Tak akan berhenti protes... pelan-pelan menunduk nangis... dibilang gak punya perasaan...

Waktu dikatakan perkasa,
Ngakunya emansipasi... ceritanya biar ditakuti... maksudnya biar gak digoda...

Maunya diperhatikan setiap waktu,
Kalau nggak, ngambek dehhh...

Inginnya dibilang yang paling cantik,
Kalau nggak, pinggang dicubit dengan muka cemberut...

Hukumnya : wajib nelpon, wajib kirim sms dan wajib jemput,
Kalau nggak, dicuekin abisss...
Kata hatinya : "Dia dah gak cinta lagi..."

Berharap selalu dibanggakan,
Tapi dirinya sendiri sulit ucapkan kata bangga dan bahagia... tentang kekasihnya...

Suka gak suka, pokoknya harus suka...

Perempuan dengan segenap pernak-pernik kehidupannya...
Ramah, gemulai, indah, mempesona, bikin resah...
Tak pernah ada kata cukup untuk dapat membahagiakannya
Padahal sebaliknya, perempuan tak mencoba untuk mencari tahu,
Seakan-akan tak pernah memikirkan,
Apakah sang pria bahagia dengan segenap sikapnya...???
Apakah sang pria bahagia hanya diminta membahagiakan...???
Apakah sang pria bahagia dengan aturan yang dibuatnya...???

Perempuan terkadang lupa,
Ceriwis itu, bukanlah nyanyian nina bobo
Marah-marah itu, bukanlah mimpi indah kala malam menjelang
Larang-melarang itu, bukanlah kesenangan saat di Dufan
Dan... Bentak-membentak itu, bukanlah ospek mahasiswa baru...

Cinta itu indah dirasa apabila aku dan kamu tidak saling membatasi
Sepertinya halnya mau menerima tapi tidak mau memberi

Cinta itu ruang kalbuku - kalbumu
Bukan hanya milikmu, hanya tentangmu, hanya mengarah padamu...

Cinta itu bukanlah argumentasi, tapi hati dalam reality

Cinta itu... terkadang seperti mimpi, tapi bukan ilusi...

Cinta itu... tidak nanti, tapi juga saat ini...

Cinta itu... bahagiaku adalah bahagiamu...

Yaaa... Cinta 'kan bahagiakanku - bahagiakanmu... kemarin, sekarang, esok...

Hadirkan cinta dari hati, agar sikapmu, tak membuat kasihmu resah...



Jakarta, May 4, 2009
(tepat setahun lalu diposting di Multiply.com : sarlen.multiply.com/journal/item/367)
Labels: 0 comments | | edit post
My Mind

ISI HATI KU


mentari terlelap di atas bukit

kurasakan ada secercah harapan disana

ingin menari aku di antara lembayung cinta

ingin terhampar aku di antara getar-getar asmara

di antara kesunyian dan temaram bintang-bintang,

yang larut bersama senyum manis bidadari,

dalam hatiku…


senja yang berlanjut malam,

namun hatiku tak ingin kelam

karena ada rembulan yang menemani ku

rembulan yang sinarnya hanya aku yang mampu membacanya

meski rusuh dan susah hatiku…


ketika membuai, niscaya warna hatiku berubah

karena aku adalah ilalang yang kadang terlena

terpaku kala tak berhembus angin

bergerai kala ada cinta yang menerpa


waktu terus berdetak,

dan aku pun menginginkan ia

karena hasrat ku pun tak ingin hanya diam

meski alur yang kucari belum dapat ku raih,

meski masih ada arah yang ingin aku gapai


sukma jiwa ku

ku harap engkau tau,

bahwa masih ada harapan di depan sana

karena apa yang ku pikirkan,

kadang…

tak seindah yang aku harapkan…


ingin ku pacu keindahan itu bersamamu

menapaki hari-hari, melalui sang waktu

bersamamu, denganku

dalam sisi hati yang sama

karena kamu pun tau, siapa aku


tersenyumlah adinda…

tertawalah, kasih…

jangan biarkan keceriaan itu sirna dari wajahmu,

karena aku pun tak ingin melaluinya dalam ratap dan termenung,

bersamamu…

Labels: 0 comments | | edit post
My Mind
HINGGA AKHIRNYA KITA
By  : Sarlen Julfree Manurung



Di saat kaki goyah menapak 'tuk melangkah,
Dan tubuh ini limbung menanggung beratnya beban masalah,
Satu bintang cerlang selalu hadir menaungi hati dan hidup kita
Menuntun kita, menjaga kita, mengurapi kita
Membimbing alur kehidupan kita,
Ke padang rumput hijau yang luas membentang
Hingga akhirnya kita tahu, arah mana yang harus dituju

Yesus Kristus, Bintang cerlang kehidupan
Suci, penuh kasih, abadi Ia
KepadaNya kita bisa mengadu
KepadaNya kita bisa memohon pengampunan dosa
Mengungkapkan rasa, bersimpuh, menangis
Meruntuhkan sesak, resah, dan gelisah
Membangkitkan harapan, sembuhkan luka
Karena cintaNya pada kita, tiada berkesudahan
Hingga kita sadar, kasihNya begitu mendalam pada kita

Ia telah lahir,
Ia telah hadir...
Memanggil dengan lembut,
Jiwa-jiwa yang bimbang dan ragu,
'Tuk menerima uluran tangan dan kuat kuasa kasihNya
Agar tidak jatuh dan semakin tenggelam dalam dosa
Hingga akhirnya aku, kamu, kita, mereka
Beroleh keselamatan
Dan pada akhirnya,
Membawa kita untuk tinggal bersamaNya,
Di Rumah Bapa di Sorga, dalam kekekalan
Anugerah terindah bagi orang-orang yang percaya,
KepadaNya...



Jakarta, 22 November 2008
Time : 12.55 PM

Dibuat untuk digunakan pada perayaan Natal AWG - Perkantas pada tanggal 12 Desember 2008, yang akan datang
Labels: 1 comments | | edit post
My Mind
Bertobatlah...!
By  :  Sarlen Julfree Manurung


Memberi dengan teramat lebih
DiberikanNya cinta kasih itu sebagai anugerah
DicurahkanNya dengan melimpah-limpah
DiuraikanNya agar manusia mengerti maknanya
Tak hanya sekedar kata,
Tak hanya sekedar tahu...

HadirNya untuk mengangkat jiwa-jiwa yang terhempas
Meredam duka, lara, dan derita
Menghapus derai-derai air mata
Menyembuhkan luka yang membekas...
Karena kasih, adalah karunia yang dapat kita rasa...

Tuhan,
Seperti embun di pagi hari,
Seperti terang rembulan di gelap malam,
HadirMu membuka mata setiap insan
Memberi arti bagi jalan kehidupan
Hingga bibir ini mengaku dan percaya,
Bahkan Engkau adalah Yang Kuasa
Engkau adalah Jalan Keselamatan
Melebihi cipta angan dan mimpi manusia,
Atau bahkan, buai-buai penguasa neraka

KasihMu melebihi pemberian sahabat
Aku, kamu, kita semua... bisa mengadu padaNya
Menuturkan resah,
Menggapai harapan...
Yang ‘kan menjadi nyata andai kita percaya
Dan setia dalam iman, kepadaNya

Manusia-manusia yang tak percaya,
Menghampiri ‘tuk menghujat dan mendukakan,
Hadirkan noda hitam dalam kehidupan kerukunan
Oleh penguasa-penguasa kecil atas nama norma,
Menindas dan hadirkan kekejaman
Tiada pancaran kasih dirupakan...
Karena tertutup sudah mata iman
Atas hadirnya Firman sebagai Manusia

Itu memang harus terjadi…
Nama Kristus dihujat, dihinakan
Bait-baitNya dipaksa tiada berdaya
Ditindas hingga punah demi sebuah arti
Meski bila ditanya,
Tak tahu mereka maknanya…

Bulir-bulir darah Kristus belum menyentuh mereka
Kasih terindah surgawi hanyalah angan dalam benak
Dihembuskan seakan serupa namun tak sama
Agar tak ada yang percaya,
Agar mereka tak menerima Kristus
Menutup pintu Kasih dari Sang Bapa
Hingga akhirnya, sama-sama masuk neraka…

Iman kepada Kristus adalah hakekat terindah
Untuk menggapai kehidupan,
Untuk merasakan kesempurnaan
Untuk hidup dalam damai...
Karena kasih, tiada berkesudahan
Dulu, sekarang, selama-lamanya
Dan bisa diperoleh,
Andai aku, kamu, kita, mereka...
Menempuh jalan pertobatan
Titik balik kehidupan seorang anak manusia,
Agar memperoleh keselamatan,
Merasakan jalan penuh kasih,
Sekarang dan selama-lamanya…



Jakarta, 19 Desember 2007
Dibuat model baru pada tanggal 9 November 2008
Jam  :  22.25 PM
Labels: 4 comments | | edit post
My Mind
SIMPHONY JIWAKU
By  : Sarlen Julfree Manurung



Aku lelah...
Aku butuh embun membasuh asaku
Kala lara terpendam dan tak lagi tenang...

Cermin yang kutaruh, hadirkan bulir-bulir kepenatan
Hingga aromanya mampu hempaskan segenap rasa
Menenggelamkanku dalam bayang-bayang...
Menjauh dari segenap aral,
Lepaskan segenap harap, dalam kedamaian

Sepi menaungiku...
Sekejap, aku terjebak dalam kepalsuan
Mulutku bimbang,
Diriku kalut...
Resah membuat mataku berkabut
Aku lemah,
Hatiku hancur bagai puing-puing
Meski gemerlap dunia ada disekitarku

Dalam murka, aku ingin tegak berdiri...
Ingin rasanya aku menjerit,
Tapi hatiku terlalu sakit...
Ingin aku berlari,
Tapi tugasku belum selesai...
Ingin aku menoleh,
Tapi aku tak ingin mengulang kesalahan...
Aku tak ingin menyesal...

Duhai simphony jiwaku,
Saat teduh sikap menaungiku,
Aku tak ingin larung dalam kebencian,
Aku tak ingin terpaku dalam kesal
Aku mungkin bukan mentari,
Aku juga bukan peri suci,
Tapi aku bukanlah duri...
Karena cintaku, tak pernah basi...




Jakarta, 9 November 2008
Time :  21.45 PM
Labels: 1 comments | | edit post
My Mind
Mari Datang KepadaNya
By :  Sarlen Julfree Manurung


Satu hari di bulan Desember
Dentang lonceng Gereja riuh bersahutan
Memanggil, mengundang anak-anak Tuhan untuk datang
"Mari masuk, mari semuanya masuk..."
Pintu Rumah Tuhan telah terbuka
Terbuka untukku, untuk kamu, untuk mereka, untuk kita semua,
Sehingga kita bisa larung dalam sukacita,
Bersama-sama merayakan, lahirnya bayi Yesus di Betlehem
Raja diatas segala raja, Tuhan, Juru Selamat manusia

Gita Sorga Bergema...
Berkumandang agung mensyukuri anugerahNya
Laksana ribuan malaikat sorga turut bersuka
Getarkan rasa, menggugah sukma
Sembuhkan hati yang terluka
Berganti sukacita, hadirkan harapan
Bagi manusia yang merindukan hadiratNya
Sekarang, esok, hingga pada akhirnya...

Ia hadir untuk kita,
Ia adalah pelita yang menerangi jalan hidup kita
Ia menaungi hidup kita dengan kasihNya
Karena hadirNya, adalah penggenapan Firman Allah
Agar kita beroleh keselamatan,
Agar kita tidak tenggelam kedalam lumpur dosa,
Namun beroleh kemenangan,
Beroleh kasih dan anugerah dari Bapa, Allah kita

Mari datang padaNya...
Mari sembah dan puji Dia...
Bersorak-sorailah dengan penuh sukacita
Dan nyatakan kepada seluruh umat manusia,
Bahwa Yesus adalah Tuhan, Juru Selamat manusia
Yang menjadikan semuanya indah pada waktunya,
Apabila kita datang padaNya,
Apabila kita menyerahkan hidup kita, kedalam naungan kuat kuasaNya...

Terpujilah Tuhan, kekal sampai selama-lamanya




NOTE :
Diselesaikan pada tanggal : 5 November 2008
Dibuat atas request Elvhia Elita br. Sinaga
Labels: 4 comments | | edit post
My Mind
S A N G    P E N A R I
By : Sarlen Julfree



Pintu puri telah terbuka
Maya-maya menari beriring syahdu irama
Menyentak, merampak, mendegam
Berputar elok melayang bagai layang
Dalam derap-derap serempak, lambat-lambat

Gemulai berdendang gerak tanpa suara
Lamat-lamat merdu pedendang di sambut tepuk-tepuk
Makin lincah menapak hingga temaram tak lagi nampak
Dan jantung jejaka berdegup oleh ayu parasnya
Cemburu sang biduan tak menghapus suka

Sorot terpancar menyambut hadir maya lainnya
Hingga ramai sesak panggung sandiwara di buatnya
Menambah riuh suara decak pemirsa sekitarnya
Yang terkesima oleh paras dan langsing mereka
Walau panas udara, kini tak lagi terasa

Menyiksa telinga dentum-dentum genderang
Berpadu liuk-liuk suara seruling beradu
Di antara songsong nada :
Ting-nang-ning-nung-ning-nang-ning nung suara gamelan
Dan berat surat gong menyentak pedendang
Kala suasana tak dapat lagi di nyata

Gemulai gerak makin cepat
Para abdi makin semangat menyentak
Mengiringi lincah-lincah langkah menapak
Yang tak kaku walau semilir angin menyiksa muka
Dan kadang tercium wangi tubuh yang kian lelah

Gemuruh suara tepuk membahana di sana
Menyambut pulangnya sang maya di balik tirai merah menyala
Menutup pentas sang penari di kala mentari mulai bersinar
Tanda sang suryai mulai menjelang
Dan kehidupan ‘kan kembali berjalan

Labels: 4 comments | | edit post
My Mind
Aku adalah seorang cowok yang jayus abis...
Wajahku memang terlihat minimalis,
Tapi jangan salah, aku tetap terlihat manis
Diatas bibirku yang tipis,
Melintang sedikit kumis
Rambutku pakai poni hingga menutupi alis,
Gak keren-keren amat, tapi tetap modis...
Namun yang pasti, aku bukan pecinta sejenis...

Meskipun agak ceriwis,
Tapi aku bukanlah cowok romantis...
Apalagi, dompetku sering kali kembang-kempis
Gaji dan uang keluar, jumlahnya selalu remis...
Pokoknya, jarang banget pernah punya uang taktis,
Untuk sekedar bikin rambut kelimis,
Atau beli parfum biar badan gak bau amis...

Tapi aku orangnya gak pernah pesimis
Untuk mencintai seorang gadis,
Anak juragan angkot, asal Ciamis,
Aku tetap PeDe dan tampil necis...
Seperti mau melakukan kegiatan bisnis,
Meski berangkat ke rumah pacar, harus naik bis...

Sampai rumah pacar, disuguhi kopi dan martabak manis...
Duduk disamping pacar, yang berbaju tipis...
Melihatnya, muka mesam-mesem najis...
Ingin colak-colek, tapi tangan selalu ditepis..
Sampai akhirnya sedikit menjauh, karena ada Oom Kumis

Meski perut mules, tapi tetap cengangas-cengingis..
Karena tadi di jalan, aku sempat iseng beli rujak petis
Yang pedesnya gak abis-abis
Seakan perut diiris-iris...
Akhirnya ijin, pura-pura mau pipis...

Nggak tahan sakit dan terus-terusan meringis,
Akhirnya pamit pulang di tengah hujan gerimis
Gengsi nahan pedih sampe mata mau nangis...
Meski hati, masih ingin disamping si manis



Jakarta, 07 August 08

Labels: 13 comments | | edit post
My Mind
Ingin Memiliki mu Selamanya...
By  :  Sarlen Julfree


Dapatkah aku memelukmu erat-erat?
Melepaskan dahaga rindu yang lama tertanam di kalbu
Yang selama ini kucitrakan hanya sebatas angan-angan,
Diantara sepi temaram malam,
Atau saat gundah menaungi hati nan resah...
Merengkuh dirimu dalam mimpi...

Bolehkah aku menatap matamu lekat-lekat?
Sepasang binar mata yang membuatku jatuh hati padamu
Keindahan yang ronanya mampu menyatukan rasa dalam hatiku
Menghangatkan kebekuan sukma,
Membuatku semakin terpuruk,
Dalam kasmaran...

Dapatkah aku memilikimu?
Karena bagiku, kamu, adalah pelangi hatiku
Karena hadirmu, menuntunku pada aral baru kehidupan
Karena kasihmu, resahku tak lagi merajuk...
Karena tawa candamu, menghela kepedihan yang kurasa...
Karena tanpamu, keceriaan wajahku hanyalah kepalsuan
Kamu... lukiskan elok gairah kehidupan,
Tanpa aku merasa perlu, terhempas oleh keraguan....

Dapatkah?
Mungkinkah?
Engkau menjadi belahan hatiku... selamanya...


Jakarta, 27 Juli 2008
Time : 23.05 PM
dedicated for Ira Rupina Sinaga



Labels: 10 comments | | edit post
My Mind
Meredam Prahara Cinta
By :  Sarlen Julfree


It is a bad day…
Ketika kamu ingin menggapai cinta,
Cinta itu justru mencampakkan mu
Menganggapmu sebagai seseorang yang sedang bermimpi
Menganggapmu sedang terlelap dalam khayalan…
Menganggapmu terlalu berharap pada cinta...
Bagaikan seseorang yang tak mengerti,
Kalau cinta, memang untuk dibagi…
Meskipun dirinya tahu, kalau kamu, bersungguh-sungguh…

It is a hard day…
Penolakan itu merapuhkanmu
Membuatmu tak henti menangis tersedu,
Hingga mampu meremukkan hati,
Menjerumuskanmu ke dalam jurang kepedihan,
Hadirkan sederet luka, hempaskan harapan…
Sepi, masih tetap sendiri...

It is not a good way…
Jika engkau membiarkan dirimu larut,
Melarung dalam kepedihan yang tak ingin kamu rasakan…
Terlalu lama merenungi kehampaan yang telah tercipta,
Dan membuat hidupmu tiada bergairah…
Oleh penat prahara cinta, yang hinggap di hati mu

It is time for wake up…
Kehidupan menunggumu ‘tuk kembali
Menjadi dirimu yang dulu lagi…
Meskipun berat ‘tuk melupakan,
Meskipun pedih ‘tuk mengingat,
Betapa tertindas hati karena kecewa…
Namun waktu tak pernah mau kompromi,
Membiarkan mu lupa pada masa depan hidupmu...

Mungkin, itu semua memang harus kamu jalani
Karena lebih baik cinta ditolak,
Dari pada hatimu meratap, setelah cinta lama melekat…
Itu adalah sebuah tanda,
Bahwa kamu masih harus mencari,
Mendapatkan cinta dari pribadi yang lebih baik,
Yang terbaik untuk hati dan hidupmu…

Biarkan semusim berlalu,
Asalkan kamu,
Prahara cinta bukanlah akhir hidup,
Yang akan menenggelamkan hidupmu…


Jakarta, 21 July 2008
My desk, time : 17.05 PM
Labels: 9 comments | | edit post
My Mind
Tak Ingin Berprasangka
By  : Sarlen Julfree


Ketika aku ingin membuka lembaran baru,
Aku tahu apa yang harus aku lakukan...
Aku tak mencoba 'tuk memaksa orang lain,
Agar melihat dan memandang aku,
Seperti adanya aku...

Kehadiranku,
Selalu kunyatakan,
Seperti jelas yang kuinginkan...
Seperti lancar kutuliskan...
Seperti ramah kukatakan...
Apa adanya...

Apa yang kuberikan adalah ketulusan
Apa yang kutaruh, ada dasar dari nurani
Dan apa yang terucap, bukan buah kepalsuan...

Ada hawa baru yang kubawa,
Ada kasih yang kutebar,
Ada harap 'tuk perbaiki asa,
Ada kebahagiaan yang ingin engkau peroleh...

Ketika orang lain memberi sejuta alasan,
Aku hanya tersenyum
Karena ketika aku harus katakan : :hentikan...!"
Aku berharap mereka tahu,
Tak ada lagi satu alasan, untuk membual...

Aku memang memiliki besar harap,
Kepada mereka, atau salah satu dari mereka
Untuk selalu membuka mata dan hati,
Sekejap demi sekejap,
Melihat dan memperhatikan
Tak hanya memandang satu sisi ego saja
Bahwa inilah perbedaan dalam alur seutuhnya...

Aku memang bukan yang terbaik,
Tapi aku tahu bagaimana cara memberi yang terbaik...
Karena hanya yang terbaik,
Layak mendapatkan yang terbaik...

Aku tak ingin menjadi badai bagi kehidupan orang lain
Aku tak ingin membuat nafas memburu diantara amarah,
Aku tak ingin menjadi batu sandungan bagi mereka...
Meskipun ada makna mengetuk hati didalamnya...

Mungkin, sangatlah mungkin...

Sekarang,
Aku ingin orang lain benar-benar tahu,
Sungguh tiada yang mudah,
Bila kita tak tahu,
Sebaris alur tindakan yang akan kita perbuat, kemudian...
Menghadirkan satu pilihan agar kita memilih

Aku hanya akan berkata : "Tunggu, berikan waktu 'tuk merenung..."

Ketika orang lain berkata sejuta larung padaku,
AKu tahu,
Ada batu yang dilemparkan padaku...
Tapi aku bukan kayu...
Aku juga bukan manusia batu...
Namun jelas ingin kukatakan :
"Tolong, perhatikan langkahmu,
Karena mungkin saja,
Ada batu yang 'kan menyandung di jalan,
Yaitu batu yang sama,
Yang telah kamu lemparkan padaku..."

Aku begitu,
Karena aku ingin mengambil satu aral yang tepat,
Dengan kata yang tepat,
Kesimpulan yang tepat,
Dan menatap jauh ke dalam mata,
Dengan tepat...

Jangan pernah menilai ketika engkau menimbang,
Namun menimbanglah ketika engkau akan menilai...

Kualitas diri memang dapat diasah,
Namun kualitas hati, siapa yang tahu...

Lubuk hati memang yang paling jujur,
Karena tanpa hati, tak bisa engkau jujur...
Hingga apa yang diperbuat menjadi beban,
Bahkan bisa juga melibatkan yang lain...

Nah,
Sekarang engkau sudah tahu
Kalau aku, hanya ingin menyambut fajar,
Melalui keindahan temaram malam,
Dalam sebuah penantian...
Menunggu... menanti... berharap yang terbaik...
Agar ketika aku harus larung dalam badai,
Aku tahu harus berbuat apa serta berkata apa...

Jaga mulut...
Jaga hati...
Jaga rasa...
Untuk cinta dari hati...
Mengungkap nada-nada kasih...



Jakarta, 6 Juli 2008



Labels: 2 comments | | edit post
My Mind
Ketika aku berbaring dalam hamparan sepi,
Hati ini seakan terus mengaduh
Berteriak mencari jejak,
Secercah sinar bintang yang kerlip cemerlang

Diri ini hanya bisa terpaku menatap kegemilangan
Satu sisi kehidupan yang telah lama tak lagi aku gapai
Entah kenapa itu bisa terjadi,
Yang kurasa hanyalah,
Aku harus menitinya kembali...

Badut-badut itu berkata serak
Terkadang teriak, terkadang merajuk 'tuk memaksa
Meminta aku bertindak lebih,
Namun kakiku seakan malas bergerak
Karena cinta yang diucap hanya sebatas keinginan,
Agar aku patuh seperti mau mereka...

Aku lelah,
Harapanku hanya sampai di batas mulut
Tak didengar, walau sejenak
Hingga aku pun merasa,
Kalau hidup senang itu hanyalah angan-angan dalam benak

Kehangatan mentari memang menghampar sudah
Tapi asa ini hanya maju selangkah
Mungkin tak patuh,
Tapi aku tak ingin selalu mengaduh
Karena aku tahu,
Ada kekuatan disampingku,
Ada karunia sempurna yang aku miliki
Dan ada cinta yang membuat aku dapat menatap masa depan
Mungkin bukan sekarang,
Namun satu waktu nanti...

Labels: 4 comments | | edit post
My Mind
Terkadang,
aku menganggap, segenap harap adalah imajinasi...
Terkadang,
aku berpikir, kehidupan baru terasa apabila kita kaya...
Terkadang,
aku hanya bisa diam, karena aku bingung memberi arti pada curhatmu...
Terkadang,
aku berpikir, andai saja mereka tahu segenap keinginanku, mereka tidak hanya tinggal diam...

Aku mendengarkan, karena aku mau...
Aku menulis, karena aku ingin...
Aku berkata, karena memang aku harus menegurmu...

Kini, aku memiliki penuh harap, agar kamu, tahu akan isi hatiku...
Sebab aku sendiri tak ingin hanya berjalan sendiri, tanpa kamu tahu, ada sisi lemah dalam diriku...
Mendekatlah... Bantu sejukkan hatiku...
Labels: 2 comments | | edit post
My Mind
Ingin Menggapai Asa
By : Sarlen Julfree


Hidup dalam senyap, tak ingin kaki terantuk
Setali harapan ditoreh pada hati yang lelah
Menganyam kehidupan pada biduk dipantai,
Dikayuh kencang-kencang mengarungi luas samudera
Hingga ke batas sisi,
Hamparan pasir putih yang belum pernah dipijak...

Meskipun mata lemah ingin terpejam,
Tapi sukma ini terus mengucap
Mengimbuhi jiwa yang melayang,
Melarung bersama dera kepedihan yang menjelma
Kecewa dan resah menyatu dalam angan-angan

Ingin rasanya mengaduh, tapi getar tak berpadu
Hasrat yang menggebu menyesakkan dada sudah,
Risalah waktu yang berputar seakan tak mau menunggu
Dentangnya membuat kalut, tak tahu harus berbuat apa
Saat senyap menjadi ruang dalam kalbu

Bosan, muak, jenuh...
Langit, apakah diri ini harus berbuat lebih?
Tolong sampaikan pada rembulan,
Kalau hati dan benak ini lelah menggapai sampah
Biarkan alam sadar membuat mata terbuka,
Agar keindahan nirwana,
Tak hanya bayang-bayang di depan mata



Jakarta, 24 Maret 2008


Labels: 0 comments | | edit post
My Mind
MENDEKAP SATU CINTA BARU
By : Sarlen Julfree


Sebatas merindu
Aku tak ingin mendusta
Tapi yang ku rasa, adalah sebuah karunia
Ketika ku dapatkan pesona baru darimu,
Keindahan yang terpancar dari agung karya Sang Pencipta
Yang ingin ku gapai...
Yang ingin ku rengkuh...
Yang ingin ku nyatakan...
 
Satu aral kan ku lalui
Andai saja kau tau apa yang ingin ku berikan
Andai saja kau mengerti dengan apa yang aku rasakan
Buah kasih dari dasar hati
Yang ada dan nyata dalam diri ku
 
Aku tak ingin itu hanya sejenak saja
Karena diriku telah terpaku oleh satu sisi
Dan ingin kembali memacu suatu asa pada sisi yang lain
Yang sempat terhilang kala bimbang menapak hidupku
 
 Duhai keindahan...
Aku tak ingin memori itu menjadi kelam yang rapuh menjebak ku
Karena hidupku bukan lah masa lalu
Dan apa yang ingin ku gapai,
Tak hilang terbuai karena kepalsuan yang terpendam
Saat engkau berada di dekatku
Saat engkau buka hatimu untukku...

Apa yang ku rasakan kini,
Adalah...Keindahan dalam satu makna cinta

 
120606


===

AKU DISINI UNTUKMU
By : Sarlen Julfree


Aku terpaku memandang tatap matanya...
Aku terhanyut oleh syahdu lembut suaranya...
Aku terbuai oleh riang sikapnya...
Aku...
Ya aku...
Aku jatuh hati padanya...

Di temaram rembulan purnama,
Di antara keramaian di sekitar kita
Jiwaku seakan melayang mendamba,
Seakan aku ingin bersanding menemaninya
Di saat sedih,
Di saat suka,
Di saat ia ingin bersamaku

Aku ingin bersamanya...

Waktu-waktu  ku kini tak lagi sepi
Di saat penantian, aku pun merindu
Berharap ia segera datang,
Menghampiri ku, menyapaku...
Membawa satu irama baru
Dan melepas segala jenuh yang tlah lama terpagut

Mimpi,
Hadirmu adalah bagian terindah dari mimpiku
Hadirmu, membawa aku dalam kehangatan baru
Yang sempat redup oleh memori sang waktu
Dan kini tlah berganti warna, oleh hadirmu...

Sayang,
Jangan luruhkan hatimu oleh pedih
Karena ku harap,
Kehadiran ku dapat membuat engkau ceria,
Membuat engkau tersenyum,
Membuat engkau menjadi bidadari bagi yang lain
Tak lagi termenung dan terpasung
Seperti irimu yang dulu

Kasih
Aku ada disini...
Untukmu ...

090606

===

S A N G
By : Sarlen Julfree



Tiada kala saat sukma menyapa
Meski sang jiwa terlena dalam aneka fana
Menatap, menggegap...namun tak sama
Karena angkara adalah bagian dari cinta...

Tersusup oleh nurani sang dewi
Wira jenaka terpana saat menyapanya
Di saat terlintas lalu bersama dayang sang pertiwi
Menaungi hamparan taman dewa dan durja kelana para punggawa
Karena tertarik oleh sapa dan senyumnya

Duhai jelita,
Elok ku pandang tak lekang ku pejam
Menekan hati batara karena anggun nan rupawan
Sebagai karunia pustaka indah sang dara
Yang melekat menantang pada diri sang putri

Pujangga t’lah habis tinta ‘tuk menulis kata-kata
Mengungkap sebuah sabda atau kirana sang damba,
Karena kini hanya suka yang ingin di torehnya
Menyibak takdir saat bersua pujaan hatinya

Wira tak lagi sendiri...
Terpaku dalam murung karena susut sudah nestapa kelana
Wira tak lagi sendiri...
Bersama waktu, meniti tangga tiada terkira
Wira tak lagi sendiri...
Karena mustika sang dewi kini hadir di hati


240606
Labels: 0 comments | | edit post
My Mind
M E R E N U N G
By : Sarlen Julfree



Mungkin mengalir tetes air mata,
walau hati tak ingin menangis
Mungkin terperangah jiwa yang terpaku,
walau duri tak lagi menancap dalam
Mungkin sesak tubuh untuk bergerak,
walau tak larung jiwa bersama angannya

Kasih sejati terbentang di antara rentang hidup
Ketika segenap rasa nyata tercipta dalam kesuma,
Ketika pintu hati menggegap memuji engkau  
Dan ragaku luruh oleh lembut ucapan kata-kata,
Yang penuh pesona bagai pancaran tatap matanya
Mengiringi segaris senyum manis di bibir
Hingga aku jatuh terlena dan kini penuh tawa

Sungguh,
Kehadiranmu mampu membasuh segenap derita
Segenap penat hatiku,
Segenap perangkap pilu yang meratap
Segenap lara yang terpendam
Di saat mulai redup pelita kasih hati
Di saat aku mulai lupa siapa aku

Kau ubah segenap risau yang tertekan
Kau sadarkan aku dari lelap tidur tak patuh
Kau bangunkan hasrat dan gairah hidupku,
untuk menatap indahnya kehidupan
merubah bara dalam amarah, menjadi kasih dalam hati

Tercabik sudah...
Kurasakan gelap harapan
Senyumku palsu,
Tawaku hambar…
Aku yang terlihat bukanlah diriku
Tak mampu lagi kutunjukkan siapa aku
Tak mampu lagi kusambut mentari dalam kokoh kakiku
Karena derita yang tertanam, telah karam membatu

Ku ingin berlari dari segala kepalsuan
Ingin ku tentang segala geram manusia penuh kebohongan
Segala dusta diri yang tak kan pernah membuatku bahagia
Dan aku hanya bisa menjerit… Menjerit… Menjerit… Tiiidddaaaaakkk…!

Hambar… penuh noda… seakan berdarah
Lunglai sudah tangisku  

Temaram yang kurasakan hanya di saat aku sendiri
Membedah isi hatiku, selidiki sisi penat diriku
Untuk mengetahui siapa aku, kenapa aku, dimana diriku
Karena pada akhirnya, hanya aku sendiri yang tau
Bukan kamu, bukan dia,
Tapi aku sendiri …


Jakarta, 2006
Labels: 0 comments | | edit post
My Mind
B A N G K I T …
By :  Sarlen Julfree



Berhembus angin ke timur
Kelam, abu-abu, dalam biru
Mengalir perlahan namun mampu redakan kehangatan
Menyusup telusuri lorong-lorong ruang yang membisu
Menuju satu simponi waktu yang berderai
Meniti sukma kala kecewa menjelang    

Luka yang tercipta adalah tangis
Halus menjejak, ringan tak terungkap
Rona-rona itu pun mengisi bagian yang tak siap
Menjerat dalam siksa, menetap dalam lubuk sukma tergagap
Seakan kalbu terlelap di bawah telapak kaki kehidupan

Batu kini telah membeku
Dan dendam pertiwi seakan membakar dalam senyap
Hidup dalam kepalsuan, bukan seperti diri ku lagi
Yang lelah kecewa dalam muak geram tertanam
Hingga tercipta suasana rusuh hati dan sejuta tanya,
“Kenapa aku? Kenapa aku?”

Tak semua alur berjalan lurus
Namun tak semua rintangan dapat menghadang,
Merusak kehidupan dan bawa keretakkan
Mungkin aku terperosok, tapi aku tak tenggelam
Lama larut dalam luka tiada terobati
Lama terendam dalam asam kehidupan

Dahulu mungkin aku tak siap
Namun kini aku harus bangkit dan sadari
Melepas segala kepenatan dan tipu khayalan
Dalam besar hati untuk relakan,
Dan dengan lantang untuk berkata,
“Tiada lagi yang patut di sesali…”

Ya… tiada aral yang tak mungkin tak dapat di lewati

Aku tahu siapa diri ku
Aku tahu apa yang harus aku lakukan
Walau sesaat aku terlena lupa ‘tuk melangkah
Kadang tersesat, kadang terpaku, kadang terpacu  
Itulah kehidupan, tiada yang tahu…
Namun aku harus bangkit !



Jakarta, 2006

Labels: 2 comments | | edit post
My Mind
S E S A K
By :  Sarlen Julfree



Sesuatu terjadi
Dan kau tak memperhatikan ia datang
Menghampirimu, hembuskan sesuatu
Dan kau baru merasa setelahnya
Dan aku pun pergi

Jika aku mengetahui ini sebelumnya,
Apakah aku akan merubah sesuatu?
Apakah aku akan berbuat lebih…?
Aku tak tau…
Apa yang ku pikirkan,
Terlambat aku rupakan
Aku masih butuh waktu lagi...

Jangan kau biarkan dirimu jatuh ‘tuk bangun lagi!
Kau perhatikan langkahmu selagi kau beranjak pergi,
Bilur sesal yang datang akan kau pahami
Karena hidup cuma ada sekali...

Adakah sisi batin ku ‘kan tergerak?
Lemah bukan berarti mengalah
Diam aku bukan berarti tak tau
Segala yang terlelap tak mungkin beranjak
S e s a k …


Jakarta, 2006
Labels: 0 comments | | edit post