Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts
My Mind

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Widjajono Partowidagdo, meninggal dunia pada hari Sabtu (21/04/2012), saat melakukan pendakian Gunung Tambora - Nusa Tenggara Barat, bersama Tim Vulkanologi Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Famele Trakkers For Lupus.

 

Berdasarkan keterangan yang disampaikan Kepala Vulkanologi Kementerian ESDM Surono, Widjajono kelelahan saat melakukan pendakian salah satu gunung berapi aktif purba yang memiliki "masa tidur" bilangan milenium itu. 

 

Kondisi kesehatan Wamen Widjajono mulai kritis karena sesak nafas, pada saat tim pendaki sudah mencapai Pos 3 yang berada di ketinggian 2.800 meter, dekat dengan kawah Gunung Tambora. Upaya evakuasi segera dilakukan oleh anggota tim melalui jalur darat. Namun pada saat mencapai Pos 2, Wamen Widjajono telah menghembuskan nafas terakhir.  

 

Jenazah almarhum dibawa ke Jakarta melalui Bandara Internasional Ngurah Rai Bali menggunakan pesawat Hercules menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Sekitar jam 22.30 tadi malam (21/04/2012), jenazah almarhum telah tiba di kediaman pribadi Beliau di Jln. Ciragil II No. 28 Kebayoran Baru - Jakarta Selatan, untuk disemayamkan. Menurut rencana, jenazah almarhum akan dimakamkan di Pemakaman San Diego Hills, Kerawang - Jawa Barat, siang ini (22/04/2012).

 

Sosok Wamen ESDM Widjajono Partowidagdo cukup dikenal masyarakat. Beliau merupakan salah satu pejabat negara yang paling banyak tampil untuk memberikan keterangan kepada media massa, saat pemerintah berencana menaikkan harga BBM pada tanggal 1 April 2012 lalu. Beliau bahkan sempat hadir pada rapat paripurna DPR RI terkait penentuan sikap DPR atas rencana pemerintah tersebut.

 

Penampilan Guru Besar pada Fakultas Teknologi Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB tesebut tergolong cukup sederhana. Wamen Widjajono sangat jarang terlihat mengenakan setelan jas. Adapun kemeja "kebangsaan" Wamen Widjajono adalah kemeja batik lengan panjang warna merah dengan motif warna-warni. Hal lain yang menjadi ciri khas penampilan Wamen Widjajono adalah rambutnya yang "agak" gondrong. 

 

Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan menyebutkan, Wamen Widjajono kerap jengkel terhadap komentar-komentar yang dikeluarkan oleh para "pengamat dadakan" yang dianggapnya sok tahu tentang perminyakan, padahal tidak pernah mendalami soal perminyakan.

 

Rekan seangkatan Wamen Widjajono di ITB, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebut temannya itu sebagai seorang yang lugas, lugu, jujur, baik, dan akademisi mumpuni. Warga masyarakat yang tinggal di sekitar kediaman Wamen Wdjajono juga menyebut Wamen sebagai sosok yang ramah, dermawan, dan bersahaja.

 

Widjajono Partowidagdo, lahir di Magelang pada tanggal 16 September 1951. Gelar sarjana teknik dari Program Studi Teknik Perminyakan ITB diperolehnya pada tahun 1975. Sedangkan gelar Master of Science (M.Sc) dalam bidang Petroleum Engineering (1980), dilanjutkan M.Sc dalam bidang Operation Research (1982), dan MA dalam bidang Economics (1986) dengan judul tesis "An Energy Economy Model for Indonesia" dari University of Southern California (USC).

 

Gelar Ph.D ia dapatkan dari universitas yang sama pada tahun 1987 setelah merampungkan desertasi yang berjudul "An Oil and Gas Supply and Economic Model for Indonesia". 

 

Almarhum tercatat sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Pengelolaan Lapangan Migas ITB, dan Sekretaris Komisi Permasalahan Bangsa, Majelis Guru Besar ITB. Selain itu, Almarhum juga tercatat pula pernah menduduki jabatan sebagai Ketua Program Pasca Sarjana Studi Pembangunan ITB (1993-2004), Ketua Kelompok Keahlian Pemboran, Produksi dan Manajemen Migas Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral (kini dipecah menjadi FTTM dan FITB) (2005-2007).

 

Karir Almarhum memang lebih banyak dilalui di lingkungan ITB. Baru pada tanggal 19 Oktober 2011, Presiden SBY mengangkat Almarhum sebagai Wamen ESDM.

 

Penulis sendiri berpendapat, Almarhum adalah sosok pemikir dan pendidik sejati. Kesediaan Almarhum untuk masuk dalam lingkungan birokrat, nampaknya bukanlah pilihan yang kurang tepat. Gaya berpikirnya sebagai seorang ilmuwan, cenderung berlawanan arus dengan konsepsi pemikiran para politisi. Pemikiran-pemikirannya lebih layak untuk dijadikan pandu bagi generasi muda bangsa yang sedang menemupuh jalur pendidikan di universitas. 

 

Bangsa Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dedikasinya kepada dunia pendidikan di tanah air hingga akhir hayatnya, merupakan satu bukti bahwa Almarhum adalah guru sejati, yang mengabdi dengan sepenuh hati, dan tak mengenal kata henti.

 

Selamat jalan Pak Wid.

 

 

.Sarlen Julfree Manurung

Labels: 0 comments | | edit post
My Mind

Hari Jum'at (02/03/2012) kemarin, saat saya jalan kaki untuk pulang ke rumah usai melepas rasa jenuh yang teramat sangat, saya bertemu dengan seorang teman saya. Wajahnya terlihat lelah. Temanku itu mengajakku ngobrol-ngobrol sejenak di warung tenda pecel lele milik Pak Huda. Nampaknya hatinya sedang diliputi rasa gundah.

 

Teman saya itu bercerita, kalau dirinya baru saja kembali dari rumah sakit, mengantarkan anaknya ke UGD karena beberapa kali muntah-muntah sejak sore hari. 


Kekhawatiran teman saya itu cukup beralasan, karena saat pertama kali anaknya muntah-muntah, ia dan isterinya masih dalam perjalanan pulang ke rumah dari kantor (saat masuk UGD, anaknya sudah 5 kali muntah). Sepanjang hari, anaknya ditemani oleh baby sitter dan kedua mertuanya.

 

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, ternyata anaknya muntah-muntah karena telah memakan / menelan potongan pensil crayon yang dipakainya untuk menggambar. 

 

Rupanya, saat tidak terawasi dengan baik, anaknya yang masih balita itu, memasukkan pensil crayon ke dalam mulutnya, menggigitnya dan menelannya. Mungkin dikiranya pensil crayon itu sebatang cokelat. Untung saja segera dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan pertolongan medis.

 

Syukurlah, saat ini kondisi anak teman saya itu sudah membaik. Hal itu saya ketahui tadi pagi, saat saya tanyakan kabar tentang kondisi anaknya via SMS. Teman saya bilang, walau masih agak lemas, anaknya sudah bermain kembali sambil sarapan. Puji Tuhan.

 

Awasi Saat Anak Beraktifitas

 

Well, pertemuan dan obrolan dengan teman saya itu, menjadi salah satu bahan renungan, sebelum saya berangkat tidur malam itu. 


Alam perenungan saya tidak memikirkan tentang kenapa peristiwa itu bisa terjadi. Hal yang saya pikirkan adalah : kita tidak boleh lalai mengawasi anak-anak (khususnya, yang masih balita) saat mereka sedang bermain atau memegang benda yang bisa mengganggu kesehatan atau membahayakan keselamatan jiwanya.

 

Entah apa jadinya kalau racun dalam pensil crayon, telah menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan anak teman saya itu. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi pada anak-anak balita yang lain.

 

Ditengarai, saat ini ada begitu banyak mainan anak-anak yang mengandung racun berbahaya. Tidak hanya mainan, tapi ada banyak pula produk-produk jajanan yang dijual bebas, diolah secara tidak higienis, atau ditambahkan zat-zat kimia berbahaya (seperti : pewarna tekstil, boraks, formalin, dll.) dalam proses produksinya.


Beberapa kali stasiun televisi swasta menayangkan, bagaimana orang-orang yang tidak bertanggung jawab, memasukkan zat-zat kimia berbahaya pada bahan makanan yang sedang mereka produksi. Padahal zat-zat itu dapat menimbulkan kerusakan jaringan pada organ tubuh, bahkan menjadi penyebab timbulnya kanker atau tumor.


 

Orang tua memang tidak boleh lengah mengawasi anak-anaknya saat beraktifitas. Ada banyak aktifitas yang bisa membuat seorang anak mengalami cidera, keracunan, atau bahkan, meninggal dunia. 

 

Sepanjang tahun 2011 lalu, lebih dari 3 orang anak meninggal dunia karena terjatuh setelah bermain-main di sekitar eskalator yang ada di mall. 


Pada tahun yang sama, ada banyak pula anak-anak yang mengalami keracunan karena makan atau minum dari penjaja makanan tidak sehat yang dijual para pedagang diluar pagar sekolah. Bahkan ada banyak pula anak-anak yang dilarikan ke rumah sakit, karena tersedak benda-benda yang mereka masukkan ke dalam mulut mereka. 

 

Kelalaian memang bisa berakibat fatal. Oleh sebab itu, pola pengawasan harus selalu dilakukan agar anak tidak "bereksperimen" dengan hal-hal yang ingin dilakukan dan diketahuinya. Bagaimana pun, pengetahuan anak atas "hukum sebab-akibat" masih membutuhkan arahan serta bimbingan orang tua.

 

Tubuh seorang anak balita, masih amat rentan dari gangguan kesehatan mengingat anak-anak masih dalam masa pertumbuhan. Jaringan organ dan sistem kekebalan tubuh mereka, masih belum sempurna. Demikian pula dengan sel-sel otak mereka, sedang giat-giatnya berproduksi.

 

Wawasan pengetahuan mereka tentang bahaya (memakan atau memasukkan suatu benda yang bukan makanan ke dalam mulut, memanjat bangku, naik tangga, memegang korek api atau benda tajam, dll.), masih sangat minim. Itu sebabnya, suatu pola pengawasan melekat, perlu terus dilakukan. Para pendamping anak saat beraktifitas, tidak boleh lengah dalam mengawasi. 

 

Ada baiknya, pola pengawasan dilakukan secara langsung oleh orang tua, mengingat kedekatan emosional dengan orang tuanya, amat mempengaruhi penerimaan anak atas hal-hal yang patut dan perlu diketahuinya, agar sesuai dengan tatanan, aturan, serta pola hidup yang diinginkan orang tua.

 

Berikan Anak Pengetahuan dan Pemahaman

 

Anak-anak usia balita memang harus diberikan pengetahuan tentang hal-hal apa saja yang boleh serta bisa mereka lakukan, dan yang boleh / bisa di makan atau di minum. Selain itu, orang tua juga harus memberikan pengarahan dan pengajaran tentang cara berbicara secara santun.

 

Pola pembelajaran tentang hal-hal yang benar dan baik, bahkan harus terus dilakukan meskipun anak-anak sudah duduk di bangku sekolah menengah tingkat atas, karena pada usia tersebut, selain karena rasa ingin tahu anak terhadap sesuatu masih tinggi, lingkungan pergaulan juga bisa mempengaruhi mereka untuk melakukan yang tidak benar.

 

Dalam hal ini, sifat dari pola pembelajaran dan penanaman pengetahuan terhadap anak yang dilakukan oleh para orang tua, berlaku secara berkesinambungan, disesuaikan dengan usia serta karakter setiap anak.

 

Arahan yang diberikan orang tua, sebaiknya disampaikan dengan menggunakan bahasa yang mudah di mengerti oleh anak, dan disampaikan dengan penuh kasih, sehingga anak dapat menerima pembekalan yang dilakukan orang tua, dalam makna arti serta konteks pemikiran yang benar.

 

Berikan alasan, contoh, dan ilustrasi yang tepat, kenapa sesuatu itu boleh dilakukan, boleh di makan / di minum, serta boleh diucapkan, dan kenapa yang lainnya tidak boleh dilakukan, tidak boleh di makan / di minum, serta tidak boleh diucapkan. Jika memang tidak boleh, nyatakan kenapa hal itu tidak boleh. 

 

Satu hal yang perlu juga diingat para orang tua : jangan pernah mengajarkan anak-anak dengan bahasa yang kasar (kata-kata penuh rasa amarah). Jangan pula memberikan hukuman dalam bentuk pukulan, mencubit, atau menjewer telinga apabila anak melakukan kesalahan.

 

Apabila seorang anak melakukan kesalahan, Cynthia Whitham, MSW. dalam bukunya yang berjudul "Mengatasi Rengekan dan Perilaku Buruk Anak" mengatakan, tindakan yang perlu dilakukan adalah : tatap matanya, dan nyatakan dengan tegas bahkan kita sebagai orang tua, tidak ingin dirinya melakukan hal-hal yang kita larang, yang membahayakan dirinya, dan yang bisa membuat kita marah.

 

Setelah itu, berikan anak pelukan penuh kehangatan, usap air matanya (jika menangis), dan sampaikan alasan kenapa kita menegurnya (karena kita menyayanginya, kita tidak ingin dirinya terluka, kita tidak ingin dirinya melakukan perbuatan-perbuatan yang salah) dengan bahasa penuh kasih serta mimik wajah tersenyum.

 

Menurut Cynthia, bahasa nasehat yang penuh kasih, masih lebih efektif untuk mengarahkan anak untuk tidak melakukan hal-hal yang kita larang atau hal-hal tidak boleh mereka nyatakan.

 

Akan ada penerimaan yang berbeda dari anak jika kita menyampaikan suatu pengarahan dengan menggunakan bahasa yang kasar, dalam kondisi marah, atau dengan hukuman. Tindakan tersebut tidak baik bagi perkembangan psikologi anak, sebab seorang anak (yang masih berusia balita dan usia sekolah SD) akan menerima didikan serta pengajaran yang kita berikan itu secara bulat-bulat.

 

Pada sisi yang lain, jangan pula segan-segan memuji anak, pada saat melakukan perbuatan yang benar atau yang sesuai dengan keinginan dan harapan orang tua. Adanya pujian dari orang tua, merupakan pola pendekatan emosional (rangsangan psikologi) positif, yang akan membuat seorang anak, lebih memilih untuk terbiasa menjalani pola hidup benar, seperti yang diajarkan orang tuanya.

 

Dalam masa pertumbuhan, rasa ingin tahu anak memang sangat tinggi. Namun tidak demikian dengan kemampuan mereka dalam mencerna pengetahuan yang baru diterimanya. Oleh sebab itu, daya nalar serta pengetahuan anak, perlu terus dibangun dan diarahkan, sehingga anak dapat membedakan mana yang benar serta mana yang salah, mana yang membawa manfaat dan mana yang bisa menjerumuskannya ke dalam masalah, dan mana yang bisa membuat diri serta hati mereka bahagia atau terluka. 

 

Orang tua juga jangan selalu menuruti keinginan anak, karena hal itu akan membuat pribadi anak menjadi seorang anak yang manja, tidak termotifasi untuk tetap memanfaatkan yang sudah ada. Anak-anak juga perlu tahu dan diberi ketegasan, akan ada batasan-batasan yang membuat diri mereka tidak selalu bisa mendapatkan yang mereka inginkan.

 

Sekali lagi, lakukan hal itu dengan bahasa penuh kasih, bukan dengan ngomel-ngomel, apalagi kalau disertai dengan tindakan memukul, menjewer, atau mencubit bagian tubuh dari anak.  

 

Pola pembelajaran harus diberikan se-edukatif mungkin, dimana ada unsur tanya-jawab dan pelatihan / pengenalan akan sesuatu. Jangan ragu pula untuk bertanya kepada orang-orang yang sudah berpengalaman, atau memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan pendidikan psikologi anak. 

 

Anak harus tetap diberikan kemerdekaan berekspresi, tapi jangan biarkan mereka berimajinasi sendiri. Anak harus tetap diberikan arahan, dimana proses pengenalan dan pembelajaran yang dilakukan, harus ada keseimbangan antara wacana dan praktek.

 

Pengawasan Adalah Bagian Dari Proses Pembentukan Karakter Anak

 

Orang tua merupakan sosok paling berpengaruh dalam membentuk perilaku anak. Karena kedekatan emosional, keberadaan orang tua menjadi amat berarti dalam kehidupan seorang anak. Segenap bentuk perhatian, cara merespons, dan sikap orang tua memberikan arahan atau menerima pandangan anak, akan sangat mempengaruhi pembentukan perilaku serta karakter seorang anak, apakah akan sesuai harapan orang tua, atau tidak.

 

Keberhasilan dalam mendidik anak, mungkin tidak ditemui hari ini. Namun segenap proses pembelajaran benar yang diajarkan kepada anak, kemungkinan besar akan menghasilkan pribadi-pribadi anak yang berkarakter kuat, mandiri, tidak minder, dan inspiratif. 

 

Potensi-potensi yang dimiliki seorang anak juga dapat terus ditumbuh kembangkan dengan pola pengawasan yang diterapkan orang tua, karena di dalam pengawasan, akan ada komunikasi saat berinteraksi, akan ada perlindungan dalam pencegahan, serta akan ada banyak ungkapan kasih yang bisa diuraikan.

 

Dalam hal ini, adanya suatu pola pengawasan anak-anak saat beraktifitas sejak usia dini, memiliki arti penting, yaitu dalam mengendalikan kualitas kepribadian yang dibentuk orang tua, sejak dilahirkan.

 

Hidup adalah proses. Dan proses itu telah dimulai sejak seseorang masih berusia balita. Awasi anak-anak balita pada saat beraktifitas, agar proses yang terus berjalan dari hari ke hari, dapat sesuai dengan harapan, dimana seorang anak dapat hidup berhasil berkat pola pendidikan dan pengajaran yang dikembangkan orang tuanya.

 

 

.Sarlen Julfree Manurung

Labels: 0 comments | | edit post
My Mind

Lebih dari seminggu lamanya, kesaksian yang disampaikan Angie (panggilan akrab dari Angelina Sondakh) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai media dan tengah-tengah masyarakat.

 

Banyak anggota masyarakat yang "kagum" atas sikap tenang dan konsisten yang ditunjukkan Angie pada saat bersaksi. Namun, banyak pula anggota masyarakat yang mencemooh pilihan sikap yang diambil Angie waktu itu. Pada dasarnya, mayoritas anggota masyarakat menilai, kalau Angie tidak berkata jujur.

 

Tentu saja, adanya penilaian negatif masyarakat tersebut, menghadirkan citra tersendiri atas diri Angie. Padahal sebelum memberikan kesaksian, banyak yang berharap Angie, “buka suara” saat bersaksi di persidangan, sehingga persidangan kasus suap yang menempatkan Muhammad Nazaruddin (mantan Bendahara Umum Partai Demokrat) sebagai tersangka, menjadi terang benderang.

 

Nyata-nyatanya, hal itu sama sekali tidak terjadi. Angie memilih untuk tidak menjawab sejumlah pertanyaan penting yang disampaikan oleh anggota majelis hakim, jaksa penuntut umum, maupun para penasehat hukum dari Muhammad Nazaruddin. Padahal, sejumlah pertanyaan itu, adalah pertanyaan yang ingin mempertegas nilai-nilai kebenaran dari sebuah fakta.

 

Drama persidangan yang menghadirkan Angie sebagai saksi dalam sidang kasus suap Wisma Athlet SEA GAMES Palembang pada hari itu, berakhir dengan anti-klimaks.


Terlepas dari "strategi" yang diterapkan Angie dalam menjawab sejumlah pertanyaan, banyak pula anggota masyarakat yang menghadirkan suatu anggapan, kalau para penasehat hukum Muhammad Nazaruddin, kurang kuat menekan dan mendesak Angie untuk menyampaikan kesaksian yang sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya.


Materi pertanyaan yang mereka ajukan, cenderung tidak terlalu mendalam. Bisa dibilang, tidak banyak pertanyaan bersifat taktis maupun bermakna strategis, yang disampaikan para penasehat hukum Muhammad Nazaruddin kepada Angie. Mereka juga tidak mendalami sejumlah jawaban Angie selama bersaksi di persidangan.

 

Elza Syarief, Hotman Paris Hutapea, Junimart Girsang dan Rufinus Hutauruk, seakan tidak mampu berbuat banyak saat Angie hanya bersikap pasif dan menyampaikan jawaban “tidak tahu” atau “tidak merasa Yang Mulia”.

 

Entah karena terpukau, karena merasa dilecehkan, atau karena memang sudah mati akal, para penasehat hukum papan atas di Indonesia itu justru terlihat bingung dan kesal karena tidak ada hal penting yang bisa mereka peroleh dari Angie.

 

Kebingungan mengemuka karena mereka terpengaruh oleh gaya tenang Angie pada saat bersaksi. Sedangkan rasa kesal mereka mengemuka karena Angie telah membuat mereka terlihat tidak cerdas. 

 

Semuanya itu tidak perlu terjadi apabila sejumlah pengacara handal itu tidak terlalu percaya diri, kalau Angie akan mengakui banyak hal dalam kesaksiannya, sehingga akhirnya mereka sendiri menjadi tidak salah kaprah dan tidak mampu dengan cepat menghadirkan serangkaian pertanyaan berbobot yang membuat Angie tidak bisa lagi berkelit dengan hanya menjawab "tidak tahu" atau "tidak merasa Yang Mulia" saja.

 

Hotman Paris Hutapea sebenarnya sempat membuat pertanyaan cerdas saat mengkaitkan 5 fakta kehidupan Angie yang memiliki kesamaan dengan isi transkrip pembicaraan BBM yang diambil dari Blackberry milik Mindo Rosalina Manulang.

 

Sayangnya, Hotman Paris Hutapea dan para pengacara Muhammad Nazaruddin lainnya, tidak siap dengan banyak konsep pertanyaan cerdas lain yang membuat Angie tidak lagi bisa menghindar untuk berkata jujur dan sesuai fakta yang ada.

 

Tidak terlihat pula adanya suatu upaya untuk membangun pengkondisian suatu alur kesaksian yang terarah dan terkonsep dari para pengacara papan atas di Indonesia itu. 


Hal ini bisa terjadi karena mereka terlalu emosional melihat sikap Angie yang tidak kooperatif dalam bersaksi. Padahal, keadaan yang seharusnya terjadi, adalah : mereka tampil lebih tenang, bahkan “lebih dingin” dari sikap yang ditunjukkan Angie selama memberikan kesaksian di persidangan.

 

Amat disayangkan pula, mereka malah terlihat "frustasi" dalam menghadapi Angie, dengan menyampaikan permohonan kepada majelis hakim agar majelis hakim bisa menentukan sikap tentang siapa yang menyampaikan kesaksian benar di persidangan, yaitu antara kesaksian Angie, Mindo Rosalina Manullang atau Yulianis.

 

Konsistensi sikap Angie, membuat posisinya tetap berada "diatas angin". Apalagi sikap ketua majelis hakim yang memimpin jalannya persidangan, ada kesan "melindungi" Angie dari tekanan yang dihadirkan para pengacara.

 

Belajar dari gaya bertanya Hotman Paris Hutapea, seharusnya ada banyak cara bertanya yang bisa dinyatakan untuk membuat Angie buka suara.

 

Sekarang Angie menjadi primadona pemberitaan media massa. Gagalnya upaya konfrontasi kesaksian Angie dengan Mindo Rosalina Manulang, membuat Angie dapat sedikit bernafas lega.


Angie memang bukanlah tokoh berpengaruh besar di negeri ini. Namun Angie telah berhasil membangun suatu citra penuh fenomena, karena “sikap lugunya” saat menyampaikan kesaksian di Pengadilan Tipikor Jakarta, berhasil menyedot perhatian masyarakat.

 

Unsur melindungi kepentingan yang lebih besar, nampak terlihat dalam kesaksian yang disampaikan Angie. Wajar saja hal itu terjadi, karena selain Angie sendiri mempunyai peranan didalamnya, Angie juga tidak ingin menjadi bulan-bulanan "para penguasa" pada saat dirinya telah duduk di kursi terdakwa atas kasus hukum yang berbeda.

 

Jalannya persidangan kasus suap Wisma Athlet SEA GAMES Palembang, memang belum usai. Agenda persidangan masih diisi dengan mendengarkan kesaksian sejumlah saksi lainnya. Ketajaman pedang keadilan semoga tidak menjadi tumpul karena kesaksian Angie.

 

Kesaksian Angie telah memperbesar gaung citra buruk ranah peradilan di negeri kita, yang memang tidak mengenal kata memaksa untuk berkata jujur dan sesuai fakta. Wibawa hukum seakan ditelikung karena adanya "pembiaran" atas bentuk kesaksian yang tidak memaparkan kebenaran secara apa adanya.


Apakah memang tidak ada lagi suatu keinginan hati untuk membebaskan palu keadilan dari cengkraman pengaruh "para penguasa" maupun pihak-pihak tertentu yang sedang berhadapan dengan hukum?


Gaya Angie dalam menyampaikan kesaksian, merupakan contoh buruk bagi bangsa ini. Kecerdasannya justru dipakai untuk mensiasati keadaan, dan bukan untuk menyampaikan yang benar, secara tegas dan terhormat.


Sungguh ironis rasanya, karena Angie memanfaatkan kepintarannya untuk mengakali dan mencari selamat. Amat jauh berbeda dari pesona citra seorang mantan putri yang sempat membanggakan bangsa.

 

Kini Angie sedang gencar-gencarnya membentuk pencitraan diri. Angie sedang mencoba mencari simpati masyarakat dengan menampilkan sosok seorang ibu yang ingin menjaga dan melindungi perasaan anak-anaknya.


Nampaknya, Angie sadar, bahwa dirinya telah menghadirkan contoh perbuatan yang tidak selayaknya mengilhami benak pikiran anak-anaknya. 

 

Well, waktu yang akan menjawab, apakah Angie benar-benar "tidak tahu" dan "tidak merasa" mempunyai andil dalam kasus hukum yang ikut menciptakan sikap apatis masyarakat pada dunia politik kita, terlebih lagi, kepada pemerintah dibawah komando Presiden SBY. 


Kebohongan mungkin bisa menutupi kebenaran. Namun kebenaran tak akan bisa selamanya bisa dibungkam. Semua akan ada waktunya untuk dipaparkan dan diakui.

 

 


.Sarlen Julfree Manurung 

Labels: 0 comments | | edit post
My Mind

Beberapa tahun belakangan ini, menjalankan bisnis online menjadi pilihan masyarakat untuk bisa meningkatkan kualitas hidup dengan berwiraswasta.

Kalau ditanya apa motivasi membuka usaha secara online, maka setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda. Sejumlah orang melakoni bisnis online sebagai sebuah usaha sampingan. Ada pula yang menekuninya untuk bisa menambah uang saku, ingin belajar investasi lewat dunia usaha, dan tidak sedikit pula orang yang menjalani bisnis ini sebagai pendapatan utama mereka.

Rata-rata para pelaku bisnis online adalah ibu-ibu muda yang ingin mencari kesibukkan di rumah, atau orang-orang muda yang ingin menyalurkan bakat serta kemampuan bisnisnya. Ada pula mantan karyawan yang berhenti bekerja karena terkena PHK, atau mantan karyawan yang memang sengaja banting setir untuk mengadu peruntungan atau ingin merasakan tantangan baru. 

Lalu, apa sih sebenarnya bisnis online itu?

Sejumlah pihak menyebut bisnis online sebagai usaha perdagangan yang memanfaatkan berbagai situs social network di internet, sebagai media untuk mempromosikan serta menawarkan barang atau jasa yang ingin dijual, dimana target pemasarannya adalah para pengguna aktif internet.

Daniel Tumewa, Country Manager Multiply Indonesia (indonesia.multiply.com), menyebut peluang berusaha secara online sebagai entrepreneurship online, dimana kegiatan bisnis online, ditempatkan sebagai sarana mencetak wiraswastawan dan wiraswastawati (maksa yaa...) yang bergelut di bidang perdagangan secara online.

Apakah kelebihan dari menjalankan usaha secara online dari pada menjalankan usaha dengan cara membuka showroom? Apakah daya tariknya?

Pangsa Pasarnya Amat Luas

Animo masyarakat untuk bergelut dalam bisnis online, cukup besar, mengingat pangsa pasarnya juga sangat besar. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kantor Menkominfo, hingga bulan Juni 2010, pengguna aktif internet di seluruh Indonesia mencapai angka 4,5 juta orang lebih.

Tentu saja, jumlah tersebut masih belum termasuk pengguna internet di seluruh dunia. Masuknya pembeli dari mancanegara, membuat pangsa pasar menjadi lebih besar lagi. Hal ini dimungkingkan, selama para pelaku bisnis online di Indonesia, bisa mengirimkan barang yang dibeli oleh konsumen mancanegara, ke alamat yang dituju.

Pangsa pasar sebesar itu, memungkinkan setiap pelaku usaha perdagangan online, memiliki banyak kesempatan untuk mempunyai banyak pelanggan tetap serta calon pembeli, atas barang-barang yang mereka jual di wall website usaha online mereka. Oleh sebab itu bisa dikatakan, adanya potensi pasar yang sangat besar, membuat menjalankan usaha perdagangan online, amat menjanjikan.

Alternatif Pilihan Usaha dan Investasi

Menjalankan bisnis online, bisa dijadikan alternatif pilihan berusaha, sebelum mendapat showroom atau ruang berusaha di lokasi strategis. Jadi, kegiatan usaha serta brand image perusahaan sudah tercipta, meskipun “papan nama” usaha belum terpampang.

Bisnis online juga bisa menjadi pilihan dalam berinvestasi, dimana seseorang bisa memutar kembali dana lebih yang dimilikinya, sehingga memiliki potensi mendapatkan keuntungan yang bisa melebihi nilai bunga bank, apabila hanya “dipendam” dalam bentuk rekening tabungan atau deposito.

Rendah Biaya Promosi dan Biaya Operasional

Rendahnya biaya promosi serta operasional dengan berjualan secara online, merupakan daya tarik tersendiri yang membuat banyak orang mencoba peruntungan dengan bergelut di bidang usaha ini.

Pengeluaran biaya untuk promosi tergolong rendah, karena koridor dari aktifitas bisnis ini seutuhnya terintegrasi pada penggunaan internet, sehingga para pelakunya cukup mempromosikan website tempat usahanya dengan memanfaatkan internet.

Biaya promosi yang dikeluarkan pelaku usaha, bahkan bisa gratis (tanpa menghitung biaya koneksi internet tentunya) apabila pelaku bisnis online memanfaatkan ruang beriklan gratis yang disediakan berbagai website. Promosi gratisan juga bisa dilakukan dengan memasang atau bertukar link di wall berbagai situs jejaring sosial.

Demikian pula dengan kebutuhan operasional. Kecenderungan yang ada, menjalankan perdagangan online amat minim pengeluaran biaya, karena para pelaku usaha ini tidak harus memiliki showroom dan karyawan terlebih dahulu, sebab usaha ini bisa dijalankan dari rumah, sehingga tidak dibebani oleh berbagai macam pengeluaran biaya, seperti halnya biaya-biaya yang harus dikeluarkan kalau membuka usaha di suatu ruang usaha atau showroom.

Contohnya : untuk biaya kontrak atau cicilan pembelian ruang usaha (berupa toko atau ruko), untuk gaji karyawan, untuk membayar pajak (reklame, PPN, dll.), untuk keperluan maintenance bangunan, dan untuk membayar berbagai tagihan bulanan (telepon, listrik, air, kebersihan, keamanan).

Adapun anggaran rutin yang perlu dipersiapkan oleh seorang pelaku bisnis online : untuk keperluan pembelian atau pembuatan barang-barang dagangan, dan biaya penggunaan koneksi internet serta pembelian pulsa ponsel.

Kenapa biaya pembelian pulsa ponsel ada termasuk di dalamnya? Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan konsumen tentang informasi lebih mendetail atas produk barang yang diminati (dan untuk keperluan saat bertransaksi), follow up dilakukan melalui message di inbox e-mail atau melalui SMS.

Terkadang, ada konsumen yang enggan menyampaikan sejumlah pertanyaan menggunakan e-mail karena dianggap tidak cepat mendapat tanggapan. Banyak calon konsumen yang memilih bertanya dengan menggunakan pesan SMS.

Modal Tidak Harus Besar

Modal untuk menjalankan bisnis online, tidak harus besar, karena pada dasarnya, penyertaan modal usaha dalam menjalankan usaha ini, memang dapat disesuaikan dengan jumlah dana yang dimiliki para pelakunya.

Tinggal bagaimana kejelian para pelaku usaha ini untuk menjual produk-produk yang banyak dicari atau dibutuhkan masyarakat, mengelola usaha ini dengan baik, dan dapat mempertahankan kualitas pelayanannya sehingga bisa terus bertahan, semakin berkembang, dan dikenal masyarakat luas.

Ligwina Hananto – seorang financial planner consultant – menyebutkan : langkah penting yang perlu selalu dilakukan seseorang dalam menjalankan sebuah usaha, adalah : meminimalisir pengeluaran biaya. Tentu saja ketentuan tersebut telah dipenuhi.

Aktifitas Perdagangan Berlaku 24 Jam

Usaha ini sepenuhnya memanfaatkan sistem yang telah berjalan di internet. Oleh sebab itu, adanya akses internet yang berlaku 24 jam sehari, membuat aktifitas perdagangan dalam bisnis online, tidak mengenal batasan waktu operasional, sehingga para pelaku usaha ini cukup memantau kelancaran usahanya sekali-kali saja (dimana saja serta kapan saja), tidak harus membuka dan menutup “toko”.

Waktu operasional yang “tidak dibatasi” membuat calon konsumen dapat berkunjung setiap saat, seperti layaknya pergi mengunjungi sebuah toko yang buka 24 jam. Bayangkan, waktu operasional yang panjang, namun tidak diikuti oleh peningkatan biaya operasional. Padahal, kesempatan untuk mendapatkan banyak calon konsumen, lebih terbuka lebar.  

Kelima kelebihan diatas, kiranya cukup menjadi alasan, kenapa ada banyak orang yang tertarik untuk terjun di dunia bisnis online ini. Padahal, masih ada sejumlah kelebihan lain yang dapat diperoleh dengan membuka bisnis online.

Salah satunya, para pelaku bisnis online dapat terus menjalin serta membina hubungan komunikasi baik dengan para konsumennya usai transaksi pembelian (fungsi after sales service), mengingat dalam proses transaksi, komunikasi dapat terus dibangun melalui e-mail atau SMS.

Artinya, para pelaku usaha ini, dapat memperluas lingkup pertemanan, apalagi kalau kegiatan usaha ini, memanfaatkan sejumlah situs jejaring sosial.

Perdagangan online adalah perdagangan nyata di dunia maya. Apa yang ditampilkan sebagai produk barang yang dijual dan produk jasa yang ditawarkan, merupakan produk-produk yang kelak memang bisa dimiliki atau ditemui oleh para konsumennya, tentu saja setelah mereka mentransfer dana yang disepakati sebagai harga pembelian barang secara online.

Oleh sebab itulah, orang-orang yang bergerak di perdagangan online, sebaiknya adalah orang-orang yang benar-benar menjunjung tinggi kejujuran, utamanya, dalam menyampaikan informasi tentang spesifikasi dan kondisi barang yang dijualnya, serta pemenuhan janji atas pengiriman barang yang telah dibayar oleh konsumen. 

Jadi, para pelaku usaha ini, sebaiknya bukanlah orang-orang yang attitude-nya jelek, karena mempunyai niat atau pikiran untuk membohongi / menipu orang-orang yang tertarik membeli produk yang dijualnya.

Bagaimanapun, para konsumen hanya diberikan tampilan gambar foto tentang produk yang dijual. Apabila seorang pedagang online sering mendapatkan complain karena produk barang yang dikirim ternyata tidak seperti yang disebutkan sebagai spesifikasi barang atau tidak dikirim tepat waktu, jangan berharap, usaha dagang online yang dijalaninya, dapat semakin berkembang serta bertahan lama.


.Sarlen Julfree Manurung

Labels: 2 comments | | edit post
My Mind

"Perjalanan cinta sepasang anak manusia, tak pernah ada yang dapat menduganya."

- NI LUH SEKAR ( Pemimpin Redaksi Majalah dewi)


Banyak orang tua (khususnya para orang tua yang memiliki anak perempuan) dilanda rasa cemas oleh isi pemberitaan media massa yang menyebutkan : pada saat ini, tindak kekerasan dalam masa pacaran (abusive dating relationship) di kalangan anak muda, begitu tinggi.

Apabila melihat ekspose berita media massa, para orang tua bahkan tidak menyangka, kalau beragam tindak kekerasan yang terjadi pada diri seorang anak remaja putri atau perempuan usia muda beberapa tahun belakangan ini, ternyata banyak yang berawal dari perkenalan dengan memanfaatkan perangkat teknologi yang biasa dipergunakan atau berada di tangan anak-anak mereka.

Isi pemberitaan media ini seakan mengingatkan masyarakat pada kasus pelik yang dihadapi : Marietha Novatriani, Syilvia Russarina, Steffany Adelina, serta Icha Airlangga, yang menempatkan mereka sebagai korban dari sebuah tindak kejahatan.

Mereka hanyalah sebagian kecil dari sejumlah remaja putri dan perempuan usia muda yang dikabarkan telah lama meninggalkan rumah setelah berkenalan serta diketahui pergi bersama teman pria yang belum lama mereka kenal melalui situs jejaring sosial, facebook.

Sejumlah media mengatakan, dalam rentang 6 bulan terakhir, ada lebih 100 remaja putri dan perempuan usia muda mengalami hal yang sama, "dibawa pergi" seseorang yang tidak mereka kenal dengan baik.

Apabila dilakukan penyelidikan lebih jauh, mungkin masih ada banyak perempuan usia remaja dan dewasa muda lain yang memiliki alur cerita sama namun tidak disebutkan dalam pemberitaan media massa karena orang tua atau keluarga besar mereka tidak ingin ada publikasi atas kasus kepergiaan anak-anak mereka dari rumah dengan seseorang yang tidak mereka kenal dengan baik.

Terlihat jelas kalau ada banyak anak-anak remaja putri atau perempuan usia muda di negara kita, yang teramat polos dalam berpikir serta lemah dalam kemampuan mengenali sikap terselubung orang lain yang berusaha mendekati mereka, sehingga mudah tergoda oleh perilaku “berkesan baik” namun sesungguhnya berbalutkan lumpur nafsu.

Cukup menyedihkan rasanya, karena tindakan mereka itu didasari oleh adanya suatu keinginan untuk mendapatkan cinta dari orang lain kepada diri mereka, meskipun perasaan ingin dicintai itu, kelak berasal dari orang yang baru saja memasuki kehidupan mereka.

Kemanakah cinta itu, sehingga mereka harus mencari dalam "tumpukan jerami” dan akhirnya teramat mudah terpana oleh adanya "pesona cinta semu" yang dinyatakan secara gombal oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab?

Mungkin ini yang dinamakan dengan cinta buta : Menerima pernyataan kasih dari seseorang yang belum diketahui apa sesungguhnya maksud dan tujuan dari orang tersebut menawarkan / mengarahkan gairah cinta pada mereka, sedangkan mereka sendiri amat mudah percaya pada orang lain yang teramat gencar mengumbar kata cinta pada mereka, meskipun sesungguhnya mereka sadar, mereka baru saja mengenal orang lain itu.

Hakekat cinta yang mereka terima adalah palsu, dimana kata-kata rayuan dan beragam ungkapan kasih yang dinyatakan, bukan didasari oleh cinta, namun keinginan untuk mendapatkan sesuatu diluar cinta.

Diakui atau tidak, mungkin kita juga pernah mendapatkan (bahkan pernah menerimanya) adanya tawaran sebuah cinta semu yang penuh kepalsuan dari orang-orang yang sesungguhnya hanya ingin mengumbar nafsu dengan mengatasnamakan cinta.

Sangat mungkin pula, kita juga pernah menawarkan cinta semu kepada orang lain. Semuanya itu, adalah bagian dari pesona cinta pada saat mulai ditaburkan. Kita semua butuh menerima atau membagikan rasa cinta yang menggelora di hati kita, meskipun terkadang, kita salah menerjemahkannya.

Kehangatan cinta bisa muncul sebagai sebuah "hadiah" yang tak terduga, sehingga sampai lupa untuk meneliti terlebih dahulu kebenarannya, hingga segenap pesona cinta yang ditawarkan, langsung diterima, meskipun ada kesadaran, bahwa pada akhirnya, kesemuanya itu kelak menghadirkan rasa sesal teramat mendalam.

Cinta itu, milik semua orang. Karena cinta itu, ada di dalam hati. Bisa dirasakan, bisa diungkapkan, dan bisa membuat hidup ini indah, bahkan teramat indah untuk sekedar dilalui.

Mencintai dan dicintai orang lain, merupakan keadaan yang diinginkan oleh setiap orang. Itu adalah sebuah kondisi alamiah.

Tuhan menghadirkan adanya rasa cinta didalam hati manusia, memang bukan untuk menyakiti, namun untuk membawa kebahagiaan hidup, karena cinta itu, adalah sebuah anugerah terindah yang memang dimiliki setiap insan manusia. Cinta, adalah milik semua orang.

Dan ketika cinta mulai bersemi, manusia ingin segera menggapai kebahagiaan, bukan menuai rasa sakit hati, atau menerima hadirnya penyesalan yang teramat dalam.

Oleh karena thema yang begitu indah, telah membuat banyak orang yang percaya tentang adanya cinta pada pandangan pertama. Padahal , apabila ditelusuri lebih jauh, rupa nyata yang sesungguhnya ada, adalah nafsu pada pandangan pertama (Dr. Jill Murray – penulis buku : But I Love Him).

Relationship is not about how much love you have in the beginning, but how much love you build till the end.

Kebesaran makna cinta memang bukan pada saat awal rasa itu ada. Akan tetapi, obyektifitas kekuatan rasa cinta, sesungguhnya merupakan rangkuman beragam ungkapan dan tindakan kasih yang mengalir serta menaungi hati seseorang yang mencinta kepada pasangannya.

Ungkapan cinta mungkin membuai. Perjalanan kisah cinta, memang tak terduga. Namun, segenap pesona cinta yang dinyatakan, bukanlah untuk menempatkan orang lain dalam sebuah keadaan penuh dilema, laksana sebuah masalah yang tak pernah ada kata akhir.

Akan tetapi agar semua orang menyadari, bahwa hasrat mencintai dan dicintai, mengandung nilai-nilai kebersamaan yang dibangun untuk hadirkan harmoni dalam tatanan nilai yang sederajat, terus mengalir, terus terjaga, penuh dengan rasa, dan bukan untuk bisa menyakiti atau berlaku sesaat.

Cinta, adalah sebuah kata untuk semua orang. Wujudnya penuh keagungan, pesonanya penuh dengan ragam ungkapan. Oleh sebab itu, perlakukanlah cinta dengan penuh kejujuran didalam rasa, bukan untuk mencari kesenangan, atau hanya untuk membangun sebuah citra, agar tidak diejek orang.

Labels: 0 comments | | edit post
My Mind

Lagi-lagi, saya ingin berbicara tentang persahabatan. Tapi kali ini saya ingin mewacanakan persahabatan dari dimensi dan pola pemikiran yang agak berbeda, terutama apabila dibandingkan dengan sejumlah artikel mengenai persahabatan yang pernah saya tulis sebelumnya.

Harapannya, tulisan saya ini dapat menambah wawasan cakrawala berpikir kita, khususnya dalam mengantisipasi adanya suatu keadaan "tidak menyenangkan" yang bisa merusak hubungan persahabatan kita dengan orang lain, sehingga kelak, kita dapat tahu bagaimana cara menyikapi keadaan "tidak menyenangkan" tersebut, dan selanjutnya kita tahu, bagaimana cara menjalani kehidupan persahabatan, secara simpatik dan (tentu saja) bermartabat.

Saya merasa perlu menuliskannya, karena keadaan yang saya sampaikan disini, telah dialami oleh banyak orang, dan kiranya tulisan yang didasari oleh pengalaman pribadi sejumlah orang terdekat serta teman saya ini, bisa menjadi bahan pelajaran berharga bagi masing-masing kita. Guys, sesuatu hal yang buruk, tidak layak untuk di contoh.


Perilaku Kleptomania Seorang Sahabat

Sebuah anekdot lama mengatakan : Dalam hidup ini, sangatlah mudah mencari musuh daripada menjaga, membina dan mempertahankan sebuah hubungan persahabatan.

Gak usah dipikir lama-lama, fakta dan kenyataannya memang demikian. Jangankan kita menjaga keutuhan hubungan persahabatan dengan orang lain agar tetap terjaga baik, melakukan perawatan atas barang-barang pribadi yang kita miliki agar tetap dalam kondisi baik saja, sering kali kita lalai melakukannya karena kita tidak memasukkannya ke dalam daftar rutinitas atau non-rutin kegiatan kita.

Apalagi kalau dikait-kaitkan dengan adanya suatu pernyataan yang mengatakan : tidak seluruh bentuk interaksi dalam kehidupan “persahabatan” seseorang dengan sahabatnya, hanya berisikan hal-hal baik, hal-hal menarik atau hal-hal yang menyenangkan hati semata, namun bisa juga menghadapi suatu keadaan yang… amat tidak bersahabat.

Kita mungkin sering mendengar adanya kisah permusuhan yang terjadi antara seseorang dengan sahabatnya, karena sahabatnya tidak mengembalikan uang atau barang yang telah cukup lama dipinjamnya. Mungkin pula kita pernah mendengar tentang permusuhan yang terjadi karena seseorang dianggap telah mencuri “pacar” dari sahabatnya.

Well, sepertinya kedua contoh peristiwa “gak menyenangkan” diatas, sudah menjadi rahasia umum di banyak lingkungan pergaulan. Mungkin lingkupnya masih amat terbatas, yaitu hanya merebak di lingkungan kawan sepergaulan semata. Namun bagaimana kalau sudah mencakup masyarakat yang lebih luas?

Pada saat berita tidak menyenangkan merebak di kalangan artis, maka berita-berita "penuh sensasi" keartisan tersebut, akan "segera" menjadi bahan gossipan para ibu-ibu yang “punya banyak waktu luang” untuk bergunjing.

Adapun bentuk perilaku "tidak menyenangkan" dan "amat menakutkan" yang saya maksudkan disini, yaitu adanya perilaku kleptomania yang menjadi bagian dari kepribadian seseorang, dalam hal ini, bagian dari perilaku seorang sahabat kita.

Pada dasarnya, kleptomania adalah sebuah perbuatan mencuri barang milik orang lain. Biasanya, barang-barang yang dicuri berupa pernak-pernik aksesoris atau perhiasan berbentuk kecil, unik, dan tidak mudah ditemukan di pasaran. Benda-benda seperti inilah yang menjadi target pengambilan pelaku kleptomania.

Belakangan ini, aksi pelaku kleptomania, tidak hanya tertuju pada pengambilan barang-barang kecil, unik, dan jarang ditemukan di pasaran semata, namun juga mengambil uang sebagai target sasaran. Ketika hal itu terjadi, maka pelaku klepto tersebut telah melakukan aksi layaknya seorang pencuri, namun dengan sasaran target pencurian, orang-orang terdekatnya sendiri.

Kalau sudah sampai dikatakan "suka", maka tindakan kleptomania telah menjadi bagian dari sebuah kebiasaan buruk yang mengemuka karena seseorang ingin memiliki barang milik orang lain dengan jalan mencuri. Oleh sebab itu bisa dikatakan, pelaku kleptomania, memiliki bakat sebagai seorang pencuri.

Hal yang menarik perhatian saya, beberapa waktu belakangan ini, perbuatan kleptomania (mencuri) tersebut, banyak dilakukan oleh anggota masyarakat terdidik dan berasal dari kalangan masyarakat berada (the have people).

Yup, sudah mulai banyak terdengar cerita adanya sejumlah peristiwa kehilangan barang (dan juga uang) yang (diduga) berkaitan dengan adanya perilaku kleptomania dari kalangan orang-orang terdekat kaum berada. Dalam 3 bulan terakhir, saya sendiri mendengar cerita kasus pencurian dengan modus kleptomania, dimana ada dugaan, pelakunya adalah seseorang yang telah dianggap sebagai seorang sahabat.

Cerita tentang orang kaya terlibat kasus korupsi, mungkin sudah biasa. Tapi kalau mendengar cerita orang kaya memiliki perilaku kleptomania, cukup mengenaskan rasanya apabila hal itu bisa terjadi, karena apabila dilihat dari sisi kemampuan ekonomi, seharusnya mereka dapat memiliki barang yang dicurinya itu dengan jalan membeli.

Perilaku yang Tak Pernah Diduga Sebelumnya

Saat ini, adanya perilaku kleptomania seorang sahabat, telah menjadi momok "menakutkan" bagi komunitas pergaulan orang-orang berada, karena selama ini mereka menganggap, pelaku tindak pencurian secara klepto tersebut, hanya dilakukan oleh orang-orang miskin atau kaum marjinal lainnya, yang melakukan tindakan tersebut karena terdesak oleh pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Namun ketika peristiwa pencurian semakin merebak dan tidak ditemukan pelakunya, semakin muncul dugaan kalau pelaku tindak pencurian tersebut, justru dilakukan oleh bagian dari anggota komunitas mereka sendiri, yaitu seseorang yang sudah cukup lama mereka kenal dengan baik, dan diketahui pula kalau pelaku berasal dari lingkungan keluarga baik-baik.

Memang banyak orang yang tidak menyangkanya. Hal ini bisa terjadi karena pelaku kleptomania, sangat pintar menutupi perilaku buruknya (pandai bersandiwara), dimana mereka tidak menunjukkan gejala kalau mereka memiliki bakat sebagai seorang pencuri.

Pola sikap yang mereka tunjukkan tetap bersahabat, bahkan sikap mereka terlihat penuh perhatian, ketika korban baru menyadari telah kehilangan barang, sehingga tidak mengundang rasa curiga korban aksi kleptomania.

Keadaan ini telah membuat banyak komunitas pergaulan "kelas atas" mulai melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menghindari adanya peristiwa yang sama dalam komunitas mereka.

Adanya aksi pencurian yang dilakukan secara kleptomania oleh orang-orang dari kalangan berada tersebut, tidak memiliki motif ekonomi. Indikator ini pula (bahwa mereka memiliki kemampuan ekonomi baik bahkan teramat baik) yang membuat mereka "tidak diperhitungkan" untuk masuk dalam pihak-pihak yang patut dicurigai.

Pada dasarnya, tindak pencurian itu dilakukan "hanya karena" mereka ingin memiliki benda-benda kecil, unik, dan tidak mudah ditemukan di pasaran, barang-barang berharga atau sejumlah besar uang yang dipunyai sahabatnya.

“Masak sih, seseorang yang berasal dari lingkungan berada, tidak mampu membeli barang atau benar-benar mereka tidak memiliki uang sehingga harus melakukan tindakan kleptomania?"

Sekali lagi saya katakan, faktanya memang demikian adanya. Beberapa waktu belakangan ini, ada sejumlah komunitas pergaulan, yang mencurigai adanya seorang “musuh dibalik selimut” dalam komunitas persahabatan diantara mereka.


Kebanyakkan Pelakunya Adalah Perempuan

Dalam sejumlah kasus yang telah terekspose, ada kecenderungan, pelaku kleptomania yang saat ini banyak berkeliaran di kalangan orang-orang kaya dan lingkungan pergaulan para eksekutif perusahaan, adalah kaum perempuan. Bisa dikatakan, ada cukup banyak perempuan terdidik, berpenghasilan besar, atau merupakan anak orang kaya, saat ini memiliki perilaku kleptomania sebagai bagian dari kepribadian mereka.

Berbicara soal lingkup persahabatan, kedekatan hubungan persahabatan antara seorang perempuan dengan sahabat perempuannya, jauh lebih erat serta lebih rekat apabila dibandingkan dengan hubungan persahabatan yang tercipta diantara kaum pria atau antara seorang perempuan dengan sahabatnya yang seorang pria.

Adanya kualitas kerekatan hubungan yang jauh lebih intim, membuat persahabatan diantara kaum perempuan menjadi jauh lebih terbuka dan lebih bebas, seperti halnya mereka tidak canggung lagi keluar-masuk kamar / ruang kerja, atau bebas memegang dan membuka dompet / tas / telepon selular sahabatnya.

Tentu saja, keadaan ini membuat mereka memiliki pengetahuan yang cukup baik, tentang tempat dimana temannya biasa menyimpan / meletakkan uang atau benda-benda pribadi miliknya.

Para pelaku kleptomania benar-benar memanfaatkan "kelengahan" sahabatnya dalam menyimpan / meletakkan barang, untuk melakukan aksi pencurian "di waktu yang tepat" hingga ada tenggang waktu cukup sebelum akhirnya sahabatnya menyadari telah kehilangan barang atau uang.

Rasa curiga tidak mengemuka, karena persahabatan diantara sesama perempuan, selalu menghadirkan kepercayaan tinggi kepada sahabatnya, meskipun, apabila dicermati lebih jauh, segenap alibi maupun fakta yang ada (yaitu pada saat peristiwa kehilangan terjadi), sangat memungkinkan untuk menunjuk wajah sang sahabat sebagai pelaku pencurian.

Kalaupun ada rasa curiga, ada kecenderungan, korban tidak berani secara langsung menyampaikan tudingan / tuduhan, karena mereka lebih meletakkan rasa percaya serta kedekatan emosional dalam hubungan persahabatan, sebagai langkah untuk tidak menyampaikan tuduhan kepada sahabatnya (alasannya, untuk menjaga nilai-nilai persahabatan yang selama ini telah terjalin).

Oleh karena “perasaan tidak enak” itulah, sebuah tuduhan tidak diajukan, meskipun ada sejumlah kerugian materi yang harus ditanggung akibat dari adanya perilaku klepto sahabatnya sendiri.

Kok Bisa Ya, mereka melakukan perbuatan seperti itu?

Antara Keinginan Memiliki dan Kebutuhan Ekonomi

Sejumlah kalangan mengatakan, hal itu bisa saja terjadi, karena pelaku kleptomania (dalam hal ini, orang-orang kaya) adalah manusia juga, yang mempunyai rasa iri (kecemburuan sosial) atau ada keinginan (juga) untuk bisa memiliki benda atau sejumlah besar uang tunai yang dimiliki sahabatnya. Hidup berkelimpahan materi dan harta kekayaan bukan berarti seseorang tidak memiliki kekurangan, layaknya rasa iri.

Pada saat rasa iri hati semakin mengemuka, keinginan untuk melakukan aksi kleptomania, segera saja menaungi benak pikiran. Padahal mereka memiliki kelimpahan materi untuk bisa mendapatkan benda yang sama, bahkan mereka bisa untuk mendapatkan benda yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan benda yang dimiliki sahabatnya.

Beberapa kalangan juga mengatakan, adanya perilaku kleptomania karena adanya desakan kebutuhan ekonomi yang harus sesegera mungkin dipenuhi. Namun, apabila kita mengingat kelompok strata kemampuan ekonomi dari para pelaku kleptomania "kelas atas" tersebut, melakukan tindak pencurian untuk menutupi masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, "sepertinya" tidak masuk hitungan.

Life Is Not Adventure

Adanya kesenangan melakukan aksi kleptomania yang menjadi bagian dari perilaku seorang sahabat, membuat cerita hubungan persahabatan, dipenuhi oleh rasa curiga. Tentu saja, keadaan yang penuh curiga, bukanlah keadaan yang ingin dijalani pada saat menjalin hubungan persahabatan dengan orang lain.

Terkait dengan adanya perilaku menyimpang dari orang-orang terdekat, tentunya akan meghadirkan adanya pandangan masyarakat, dimana perilaku tersebut merupakan ekspresi dari seseorang yang memiliki masalah sosial.

Dinamika kehidupan pergaulan sehat, yang berkembang dengan baik karena orang-orang yang ada didalamnya telah memiliki pendidikan yang baik, hingga bisa membuat seseorang sudah dapat hidup berkecukupan (bahkan berkelimpahan materi), tidak mengenal adanya perbuatan yang bisa merugikan orang lain, terutama, menyakiti hati dan perasaan dari sahabat-sahabatnya.

Seseorang yang terdidik tidak akan pernah mau "menyentuh" berbagai bentuk tindak kriminal karena mereka pasti tahu apa konsekuensi ketika hal itu mereka lakukan. Namun, seorang terdidik tidak akan memikirkan adanya konsekuensi dari adanya perilaku seorang kriminal yang mereka lakukan, apabila mereka menganggapnya sebagai sebuah kesenangan (keinginan memiliki) belaka.

Tidak ada alasan pembenaran bagi seseorang untuk melakukan tindak kriminal, layaknya tindak pencurian yang dilakukan oleh seorang kleptomania. Demikian pula halnya apabila tindakan tersebut dikatakan hanya untuk memenuhi kesenangan pribadi semata, yaitu untuk memiliki benda-benda berharga yang dimiliki sahabatnya.

Oleh sebab itu, apapun maksud dan tujuannya, melakukan tindak pencurian dalam rupa kleptomania, adalah sebuah perbuatan salah (melanggar aturan hukum), dan tidak layak untuk diekspresikan (apalagi dikembangkan) sebagai bagian dari cara kita menjalani kehidupan pergaulan, khususnya, dalam hubungan persahabatan kita dengan orang lain.

Sangatlah disayangkan apabila seseorang dalam menjalin hubungan persahabatan, harus dilalui dengan menghadirkan perilaku kleptomania. Tindaklah pantas kiranya apabila baiknya alur kisah persahabatan yang selama ini tercipta, harus tercoreng hanya karena ada keinginan untuk memiliki barang atau uang yang dipunyai sahabat.

Hidup ini memang bagaikan sebuah kisah petualangan. Namun, melakukan suatu tindak pidana, apapun maksud dan tujuannya, bukanlah sebuah petualangan hidup. If you do that, life is not adventure. Doing illegal acts, only make you in big trouble.

Kiranya model persahabatan seperti ini, tidak dicontoh oleh siapapun juga.

.Sarlen Julfree Manurung

NOTE :

Kleptomania juga merebak di kalangan para designer dan kalangan akademisi. Bagi para designer : Please, jadilah seorang designer (produk atau bangunan) sejati agar kita memiliki kebanggaan karena karya kita diterima masyarakat pengguna jasa designer. Bagi para akademisi : Orang pintar, tahu bagaimana kecerdasan yang dimiliki dapat memajukan diri, bukan malah memundurkan kemajuan hidup.

Labels: 0 comments | | edit post