Showing posts with label motivationforlife. Show all posts
Showing posts with label motivationforlife. Show all posts
My Mind
Adanya iman kepercayaan kepada Tuhan, telah mendorong setiap orang percaya untuk mengaku, bahwa Tuhan adalah Pribadi yang empunya kuasa untuk mengampuni dosa-dosa manusia.

Pengakuan tersebut masih pula diikuti dengan pernyataan, kalau mereka juga meyakini, Tuhan akan memaafkan kesalahan manusia yang datang memohon pengampunan dosa padaNya, meskipun manusia telah kotor oleh lumpur dosa.

Namun entah mengapa, sejumlah besar anak-anak Tuhan justru terlihat tidak antusias apabila mereka harus bertindak sebagai pribadi yang dapat dengan tulus ikhlas memaafkan kesalahan orang lain yang telah menghadirkan luka dan derita batin, melalui perkataan atau perbuatan yang mendukakan hati.

Hati mereka seakan tidak tergerak untuk mengucapkan kata maaf, baik kepada orang yang langsung meminta maaf atau yang tidak secara langsung meminta maaf, bahkan sulit memaafkan kesalahan orang lain meskipun orang lain tersebut tidak memintanya.

Faktanya, walaupun anak-anak Tuhan sering membaca Firman Tuhan, buku-buku telaah Firman Tuhan atau buku renungan harian yang menuliskan agar manusia dapat memaafkan kesalahan orang lain dengan tulus, serta mengaminkan isi khotbah pendeta dengan perikope yang sama, atau bahkan telah menjawab dengan lantang pertanyaan kesediaan mengampuni kesalahan orang lain dalam Perjamuan Kudus, namun tetap saja, banyak anak-anak Tuhan yang sulit memaafkan kesalahan orang lain dengan tulus.

Bahkan bagi sejumlah anak-anak Tuhan, memaafkan kesalahan orang lain yang telah menghadirkan luka dan derita batin, menganggap hal itu sebagai "bukan harus" dilakukan sebelum rasa sakit yang tercipta, terobati. Terasa berat rasanya kata-kata maaf terucap dengan lancar dari mulut.  

Tuhan saja mau memaafkan kesalahan kita, kenapa kita sulit memaafkan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita? 

Dengan sulit mengungkapkan kesediaan diri untuk memaafkan kesalahan orang lain, apakah kita ingin menghadirkan otoritas yang sama dengan Tuhan, yaitu menjadi pribadi yang berhak mengampuni serta menghakimi sesama manusia?

Oleh karena tidak senang dan merasa telah disakiti, sejumlah anak-anak Tuhan bahkan memilih untuk tidak bersedia mengucapkan kata maaf kepada orang yang telah menciptakan luka serta derita batin.

Kenapa sulit memaafkan?

Pertama

Seseorang yang mengalami derita batin karena telah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan atau tidak adil dari orang lain, akan membangun dinding sikap bermusuhan.

Adapun bentuk dinding sikap bermusuhan tersebut diwujudkan dengan : menjaga jarak, memutuskan rantai pertemanan, dan menutup/mengurangi akses komunikasi dengan orang yang telah menghadirkan luka batin, dengan alasan, untuk mempertahankan posisi, integritas dan eksistensi di depan orang lain, kestabilan emosi atau nama baik.

Kedua

Memaafkan cenderung dikonotasikan sebagai sebuah tindakan berani untuk melupakan atau mengingkari adanya perbuatan salah yang telah dilakukan orang lain. 

Bagi sejumlah orang, melupakan begitu saja suatu perbuatan atau pernyataan yang membuat diri ini merasakan hati yang terluka, bukanlah sebuah keharusan moral, bukanlah sebuah tindakan fair, dan tidak otomatis menyembuhkan derita yang telah dihadirkan orang lain tersebut.

Ketiga

Karena amarah telah menciptakan dendam dan upaya-upaya protektif diri (seperti yang disebutkan pada point pertama diatas), dimana keadaan itu lebih mendominasi akal serta alam pikiran.

Dalam hal ini, meskipun seseorang mengerti, memahami serta merasakan indahnya makna kasih, akan tetapi, oleh karena adanya rasa sakit lebih melingkupi hati dan perasaan, seseorang tersebut tidak memperdulikan adanya kasih, sehingga yang putih dapat menjadi hitam, dan yang hitam, dianggap lebih layak menjadi putih.

Secara tidak langsung, seseorang tersebut telah menambahkan atau mengganti literatur makna kasih yang sesungguhnya.

Apabila dikaitkan dengan prinsip keimanan, maka, tindakan memaafkan merupakan upaya "memaksa" agar dilakukan. Adanya prinsip "memaksa" dalam memaafkan kesalahan orang lain tersebut, terdeskripsikan karena memaafkan kesalahan orang lain merupakan "perintah" Tuhan.

Ketika kata "maaf" sulit untuk diucapkan, itu terjadi karena seseorang yang mengalami luka dan derita batin oleh perbuatan atau pernyataan tidak menyenangkan dari orang lain, menganggapnya sebagai sebuah beban. 

Beban tercipta karena seseorang yang berada pada posisi telah disakiti orang lain tersebut, harus mengingkari adanya kesalahan yang telah membuat dirinya mendapatkan luka dan derita batin, dengan menghadirkan suatu anggapan bahwa luka serta derita batin yang telah membuat dirinya tersakiti, tidak perlu diingat-ingat lagi.

Artinya, dengan memaafkan kesalahan orang lain, kita telah berusaha sekuat tenaga untuk mendamaikan hati dan diri kita, agar segenap amarah, rasa kecewa, serta perasaan diperlakukan tidak adil, tidak lagi mendominasi pikiran, meskipun tidak ada keharusan bagi kita, untuk melupakan begitu saja kesalahan yang telah diperbuat orang lain tersebut.

Jelas, ini bukanlah perkara yang mudah namun harus dilakukan apabila kita benar-benar berpegang pada perintah Tuhan. 

Kesulitan terbesar untuk memaafkan kesalahan orang lain, memang ada pada upaya untuk mereduksi segenap perasaan tertekan dan adanya kebencian yang berkecamuk di dada oleh karena amarah, rasa kecewa, dan perasaan telah diperlakukan tidak adil, menjadi sebuah keinginan baik (memaafkan) dan tidak lagi memfokuskan kesalahan atau perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukan orang lain, sebagai sebuah tindakan sulit yang harus dilakukan.

Bagaimana agar tidak terasa sulit untuk memaafkan orang lain?

Well, konsepsi pertama yang harus kita ingat adalah : tindakan memaafkan orang lain merupakan bagian dari menyatakan kasih, yaitu kepada orang yang telah kita anggap musuh atau orang yang telah kita anggap bersikap bermusuhan dengan kita.

Artinya, kita telah menjalankan perintah Tuhan, untuk menyatakan kasih kepada semua orang, yaitu menyatakan kasih kepada orang yang telah membuat hati kita terluka, dengan memaafkannya.

Kita mengerti, tahu, dan memahami, bahwa Tuhan telah memerintahkan kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain. Tuhan sendiri telah pula memberikan contoh nyata, dimana kita bisa mencontohnya. Dalam hal ini berlaku keadaan : kita memaafkan kesalahan orang lain agar Tuhan juga memaafkan kesalahan-kesalahan kita.

Berpikir positif merupakan salah satu elemen penting yang membuat kita bisa memaafkan kesalahan orang lain, meskipun kita tahu, orang lain tersebut telah membuat kita mengalami luka dan derita batin. 

Kenapa kita harus berpikir positif? 

Sebab dengan berpikir positif, kita dapat melanjutkan hidup kita tanpa kita sendiri harus memikul beban, dan memiliki dendam yang melingkupi hati serta pikiran kita.

Beban dan dendam, yang terangkum dalam aroma kebencian kita pada seseorang, pada dasarnya dapat merusak persepsi kita, tentang bagaimana kita harus bersikap kepada orang lain, dan bagaimana cara kita menyikapi makna kehidupan beserta keindahan yang bisa kita nikmati tanpa harus menyertakan adanya amarah didalam diri kita.

Memang tidaklah mudah untuk mematahkan segenap derita, rasa sakit serta kebencian yang membara di dada, dengan tindakan tidak menghakimi orang lain karena perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukannya (yang sesungguhnya tidak perlu terjadi). 

Dalam hal ini, sikap toleransi kita kembangkan kepada orang yang menyebabkan kita menghadapi kondisi tidak pasti yang hadir setelah rasa sakit hadir ke permukaan.

Ada baiknya pula apabila kita memposisikan diri kita sebagai orang yang membutuhkan orang lain memaafkan kesalahan kita, namun kita harus menerima kenyataan, bahwa kata maaf itu tidaklah mudah kita dapatkan. Apakah kondisi ini dapat kita terima? Tentu saja tidak.

Memaafkan memang sama artinya kita harus bisa melupakan dan tidak lagi mengingat-ingat kesalahan atau perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukan orang lain pada kita. 

Mungkin kita membutuhkan waktu untuk melakukannya. Namun tidak ada salahnya, kalau kita memikirkannya untuk tidak menunda-nunda melakukannya.

Awalnya memang tidak mudah, karena sisi kemanusiaan kita yang dilingkupi oleh rasa benci dan amarah, akan cepat menolak untuk memaafkan. 

Namun, apabila kita segera menyadari, bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu perlu dan harus, itu sama artinya, kita telah mengurangi 2 masalah : menghapus rasa benci dalam diri kita, serta memperbaiki hubungan yang retak dengan orang lain.

Why we must do that?

Sia-sia saja kita percaya pada Tuhan kalau kita masih menyimpan dendam didalam hati kita dan membiarkan diri kita memendam amarah yang terpicu oleh kebencian atau rasa tidak senang karena orang lain telah membuat hati kita terluka, karena Tuhan tidak menentukan kita hidup dengan cara demikian.

Pesan indah yang ingin disampaikan dalam artikel ini : memaafkan kesalahan orang lain itu memang sulit, tapi kita harus melakukannya, karena itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan.

Maafkanlah kesalahan orang tulus...
 
Semoga tulisan ini menggugah rekan-rekan untuk membuka pintu maaf kepada orang yang telah berbuat salah, baik diminta atau tanpa diminta, dengan tulus tentunya.


God Bless You Everybody


.Sarlen Julfree Manurung

dimuat di : http://sarlenjm.blogspot.com

My Mind
Seorang teman memposting tulisan menarik di milist yang aku ikuti. Tulisan itu diberi judul : CERITA TENTANG KODOK...PELAJARAN HIDUP NO.1.

Tulisan teman itu bertutur tentang sekelompok kodok yang mengadakan perlombaan menaiki suatu menara sampai keatas. Sejumlah kodok yang tadinya bersemangat mengikuti lomba, tiba-tiba tidak siap melanjutkan lomba karena mendengar suara-suara para penonton yang mengatakan : "Mana mungkin kodok bisa sampai pada puncak menara.."

Ketika yang lainnya mulai ragu untuk melanjutkan lomba, seekor kodok tetap naik keatas dan akhirnya memenangkan lomba itu. Sang kodok dapat membuktikan, kalau kodok juga dapat meniti tangga hingga ke puncak menara karena ia percaya bahwa ia mampu.

Rasa percaya diri membuat sang kodok tidak menghiraukan suara-suara para penonton yang mencoba untuk membuat ragu kodok-kodok yang lain sehingga banyak yang gagal mencapai puncak menara.

Pesan moral yang disampaikan pada bagian akhir postingan tulisan teman tersebut :

"Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis... karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan mencoba menjauhkannya darimu. Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi perilakumu! Karena itu: Tetaplah selalu... BERPIKIR POSITIF. Berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa menggapai cita-citamu! Selalu berpikirlah: I CAN DO THIS !"

Mendengarkan suara-suara pesimis yang disampaikan orang lain, memang dapat mempengaruhi kesiapan diri dan upaya kita untuk dapat mencapai puncak kesuksesan dengan didasarkan pada adanya usaha serta kerja keras.

Adanya kata-kata pesimis dari orang lain, secara langsung atau tidak langsung, memang dapat membuat kita melemah dan mengendurkan upaya serta semangat kita untuk mencapai puncak prestasi.

Padahal, apabila kita merasa memiliki kemampuan untuk mencapai sesuatu, dan kita tetap memelihara hasrat itu, kita dapat menggapainya.

Berpikir positif memang merupakan syarat mutlak apabila kita ingin menjalani sesuatu untuk mencapai puncak pencapaian seperti yang kita inginkan. Kita bisa saja mendengarkan pernyataan pesimistis orang lain. Namun pernyataan pesimistis itu sebaiknya tidak mempengaruhi keinginan hidup kita untuk mencapai apa yang ingin kita capai.

Sebuah pembuktian memang perlu dilakukan agar orang lain (terutama orang yang berpikiran pesimis) tahu, kalau kita memang mampu mencapai segenap mimpi dan harapan kita.

Jangan biarkan orang lain membentuk kita menjadi pribadi yang "HANYA BISANYA" bermimpi tanpa pernah bisa mewujudkan mimpi. Orang lain boleh pesimis tapi jangan biarkan diri ini menjadi pesimis juga, karena apabila orang lain bisa mewujudkan mimpi, kenapa kita tidak?

Jangan pula kita hanya menggantung cita-cita setinggi langit namun kita sendiri tidak pernah sampai ke langit. Kalau kita tahu dan sadar bahwa kita mampu, berusahalah, agar langit bisa kita capai dan orang lain tahu, usaha yang kita lakukan (dengan dibawa dalam doa tentunya) tidak akan berakhir dengan kesia-siaan, tapi sebuah hasil seperti yang kita inginkan.

Semangat... terus berusaha... jangan menyerah oleh keadaan, tapi kalahkanlah keadaan. Kiranya Tuhan memimpin langkah kita untuk dapat mewujudkan cita-cita atau mimpi yang ada didalam benak pikiran kita.

Orang lain boleh saja berpikiran pesimis, tapi kita tidak boleh menjadi lemah oleh karena sikap pesimis orang lain karena kita yang menjalani hidup kita.
My Mind
Beberapa hari yang lalu, teman saya di milist, Petra Rumata br. Hombing, memposting satu pertanyaan untuk mendapatkan tanggapan dari rekan-rekan sesama anggota milist. Pertanyaan Ito Petra itu : Kenapa sih, ada orang yang susah sekali untuk minta maaf? Hmmm… kenapa ya?

Menarik untuk dibahas dan memperoleh tanggapan yang serius nihhhh... karena memang, kondisi seperti itu, ada didalam kehidupan.

Apabila ada kata maaf yang harus diucapkan, berarti ada perkataan atau perbuatan salah yang telah terjadi. Pada saat kata maaf harusnya atau seharusnya, rata-rata sifatnya adalah kasuistik. Namun tidak tertutup kemungkinan, kata maaf itu diucapkan meskipun orang yang akan menerima pernyataan maaf, tidak merasa ada kata maaf yang harus dikatakan.

Meskipun ada sesuatu hal yang salah atau sesuatu yang tak benar yang telah dirupakan, namun tidak mudah bagi sejumlah orang untuk merendahkan hati mereka sehingga dapat mengucapkan kata-kata : “Saya minta maaf.”

Permintaan maaf susah diucapkan karena beberapa hal.

1. Gengsi (menjaga superioritas diri)

Seseorang dapat susah mengucapkan kata maaf karena didalam diri serta benak pikiran seseorang itu, ada perasaan gengsi atau tidak mau mengakui kesalahan, karena tidak ingin image dirinya turun hanya karena seseorang itu telah berbuat salah.

Adanya pribadi diri yang susah mengucapkan kata maaf dengan alasan gengsi ini, terjadi karena seseorang itu ingin menjaga superioritas (berkaitan dengan : usia, jabatan/pangkat, status ditengah-tengah masyarakat, senioritas) diri seseorang dihadapan orang lain atau terhadap komunitas masyarakat tertentu yang ada disekitarnya.

Biasanya, seseorang yang susah mengucapkan maaf karena merasa memiliki superioritas ini adalah seseorang yang merasa lebih tua atau lebih senior apabila dibandingkan dengan orang yang harus ditemui untuk meminta maaf, seseorang yang merasa memiliki jabatan atau pangkat yang lebih tinggi, serta seseorang yang merasa memiliki status/derajat diri (contohnya : orang kaya biasanya sulit minta maaf kepada orang miskin) ditengah-tengah komunitas masyarakat tertentu.

Namun bisa pula perkataan minta maaf sulit diucapkan oleh seseorang yang “merasa” diri dan harga dirinya direndahkan oleh karena harus mengucapkan kata maaf kepada orang lain. Biasanya, seseorang yang memilih bersikap seperti ini adalah seseorang yang selalu menginginkan orang lain yang terlebih dahulu menyatakan kata maaf kepadanya.

2. Keras Kepala / Egois

Kata maaf sulit dapat pula sulit diucapkan karena seseorang merasa apa yang dilakukan atau dikatakannya, bukanlah sebuah kesalahan atau merupakan sesuatu hal yang salah.

Dalam hal ini, adanya sikap keras kepala mengemuka karena seseorang yang susah untuk mengucapkan kata maaf itu, tidak ingin menyangkal tindakan atau perkataan yang telah dilakukan atau yang telah diucapkannya, karena ia merasa telah melakukan sesuatu yang benar atau sesuatu yang dapat dibenarkan.

Jadi, kata maaf itu tidak terucapkan karena seseorang itu merasa tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu hal yang salah (sebagai contoh : pernyataan yang bernada "agak kasar" saat menasehati, akhirnya mengucapkan kata yang "agak kasar" karena seseorang yang diajak berdiskusi tetap saja mempertahankan argumentasi yang kita anggap gak benar).

Pada sisi yang lain, kata maaf juga susah diucapkan oleh pribadi manusia yang cuek atau acuh tak acuh dengan kondisi atau keadaan disekitarnya.

Bagi seseorang yang memiliki kepribadian cuek, segala sesuatunya dilakukan dinyatakan berdasarkan anggapan atau penilaian dirinya semata.

Apabila dirasakannya mengucapkan kata maaf dianggap sebagai sebuah pernyataan yang tidak perlu untuk diucapkan, maka seseorang yang memiliki kepribadian cuek, tidak akan bersedia untuk melakukannya (bahkan untuk memikirkan agar mau melakukannya pun, besar kemungkinan pula, mereka tidak mau).

3. Malu karena merasa punya salah

Bagi sejumlah orang, perbuatan salah atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani adalah aib. Sedangkan bagi sejumlah orang lainnya, meminta maaf karena merasa memiliki kesalahan tak dapat diekspresikan karena dirinya cemas kalau dirinya minta maaf, ia justru akan dipermalukan oleh orang yang didatangi untuk dimintakan ketulusannya agar mau memaafkan.

Tidak semua orang siap dalam posisi dapat mengucapkan dengan lancar kata maaf. Selain takut dipermalukan, permintaan maaf dapat tak terucap dari mulut seseorang, karena adanya perasaan rendah diri dalam diri seseorang tersebut.

Dalam hal ini, perasaan takut ditolak permintaan maafnya lebih mengemuka dibandingkan keinginan kuat untuk tetap menyatakan permohonan maaf, karena seseorang itu merasa, status, derajat, atau pangkat dirinya lebih rendah dari orang yang akan ditemuinya untuk dimintakan ketulusannya agar mau menerima maaf yang dinyatakannya.

Pada dasarnya, berani mengakui kesalahan dengan mengucapkan kata maaf, merupakan sebuah kegiatan rekonsiliasi untuk maksud mendamaikan suasana. Pola pemahaman yang sama juga berlaku untuk setiap situasi dimana seseorang merasa tidak melakukan kesalahan, namun suasana atau keadaan yang dihadapinya kemudian, berubah atau tidak lagi sama dengan keadaan pada saat ada suatu pemikiran kalau ada sesuatu yang kesalahan.

Bagi sejumlah orang, mengucapkan kata maaf, mungkin adalah sebuah beban. Akan tetapi apabila mereka mencoba menelaah lebih mendalam lagi hakekat dan kebaikkan yang akan didapatkan saat mereka tidak berkeras diri untuk tidak mengucapkan kata maaf, maka mereka akan tahu, bahwa sebuah kata maaf akan memberikan kelegaan atau pembebasan diri dari adanya perasaan bersalah maupun kondisi yang tidak nyaman ketika sebuah kesalahan terjadi.

Ketika segala sesuatunya membuat kita merasa tidak nyaman, atau ketika keadaan menjadi tidak menyenangkan saat kesalahan terjadi (dianggap telah terjadi), beranikanlah diri untuk mampu mengucapkan kata : "Saya minta maaf."

Akan lebih baik lagi, kalau upaya untuk meminta maaf itu, muncul dari dalam hati, sebagai sebuah kesadaran, sebagai sebuah keinginan untuk menciptakan kedamaian suasana, baik didalam hati maupun dalam lingkungan pergaulan.



.Sarlen Julfree Manurung
My Mind
Kalau Anda mau melihat sesuatu itu memang benar-benar indah, tutuplah mata Anda dan pandanglah keindahan itu dalam hati, bukan dalam gelapnya mata yang tertutup. Why? Supaya ketika Anda membuka kembali mata Anda, Anda tahu, bahwa yang Anda lihat didepan mata Anda sekarang, memang seindah yang Anda lihat di hati Anda.

Mata Anda tidak akan pernah bisa melihat keindahan dalam gelap, tapi mata hati Anda, BISA...
My Mind
Ketika pimpinan kita tutup mata dan telinga, apa yang harus kita lakukan? Tidak ada, selain menunggu ia membuka mata dan telinganya, atau salah satu darinya...
My Mind
Banyak orang yang sering kali terpaku oleh faktor-faktor kebiasaan yang selama ini biasa dijalani. Pada satu sisi, sejumlah faktor-faktor kebiasaan itu, bukanlah sesuatu hal yang penting, namun memberikan dampak besar terhadap rasa nyaman saat menjalani alur kehidupan. Sedangkan pada sisi yang lain, ada juga sejumlah faktor-faktor kebiasaan yang menjadi sumber inspirasi dalam hidup ini.

Akan tetapi, kita juga jangan mengartikulasikan segenap faktor-faktor kebiasaan kita secara bebas dalam lingkup pergaulan kita, karena tidak semua orang sependapat bahwa kebiasaan kita itu layak untuk dipertahankan, atau untuk sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik di mata orang lain.

Faktanya memang demikian. Kehidupan pergaulan memang mengajarkan banyak hal. Ada saatnya mengajarkan kebaikkan, namun ada pula nilai-nilai buruk yang menonjol. Dalam hal ini, kita harus bisa memilah-milah dan memberikan pembedaan dalam menunjukkan sikap atau gaya pergaulan kita, karena seleksi alam dapat terjadi apabila kita tidak dapat menyesuaikan diri.

Janganlah kita memelihara hal-hal yang tidak baik. Kita juga harus bisa menerima apabila ada orang-orang disekitar kita yang ingin "mengkoreksi" perilaku kebiasaan buruk yang melekat dalam diri kita. Kita tidak dapat terpaku pada pendirian kita saja, terutama apabila masyarakat yang ada di sekitar kita sudah mulai ada yang mengatakan kata-kata : "Coba rubah perilaku burukmu..."

Ketika ada orang yang mengatakan pada diri kita untuk merubah perilaku buruk kita, itu tandanya orang tersebut sayang sama kita dan tidak ingin kita memiliki perilaku buruk dalam diri kita. 

Awalnya mungkin kita akan tersiksa menerimanya. Kita akan merasa seakan-akan telah dihakimi. Tapi itu hanya awalnya saja, karena kita terlalu terbawa perasaan kita, tanpa kita mau menyadari adanya kebenaran dalam nasehat seseorang tersebut. Nasehat itu, bukanlah sebuah tanda penghinaan atau kita mengartikannya kalau diri kita sedang direndahkan. 

Janganlah kita selalu menilai dari sisi negatif, karena nasehat itu bertujuan agar kita dapat hidup secara positif. Apabila kita pikirkan dan telaah baik-baik adanya nasehat tersebut, kita akan tahu bahwa melakukan sesuatu yang disampaikan seseorang itu, bukanlah sebuah kesalahan.

Pada dasarnya, didalam kehidupan, ada proses pembentukan jati diri dan sikap diri. Apabila kita ingin diri kita menjadi pribadi yang benar-benar (seutuhnya) menyenangkan, selayaknya kita tidak menyimpan kejelekkan sikap atau perilaku buruk, yang bisa membuat kita berada dalam lembah "rasa bersalah" atau "rasa amarah" karena gak suka dinasehati orang lain.

Ingat! Kita bukanlah orang suci. Tidak seluruh hidup kita dijalani dengan benar. Saya pun mengakui kalau gaya dan cara hidup saya, belum benar seluruhnya. Tapi melalui tulisan saya ini, saya ingin mengajak rekan-rekan untuk dapat menerima adanya nasehat dari orang lain, tanpa menghadirkan prasangka buruk atau pikiran yang menganggap, bahwa diri kita sedang dihakimi pada saat dinasehati orang lain. Jangan... Jangan seperti itu.

Ketika orang lain menasehati, itu sama artinya orang lain ingin kita "tampil" lebih baik. Itu bukan menyesatkan, itu bukan bermaksud menyudutkan, tapi memperbaiki. 

Cobalah untuk tidak membuat respon sebelum kita mendengarkan. Bagaimanapun, kalau kita ingin didengarkan orang lain, kita juga harus mau mendengarkan orang lain. Itu namanya, kita menjaga keseimbangan penerimaan dalam berpendapat atau mengembangkan struktur dialog yang tepat.

Apabila orang lain ingin kita hidup benar dan menjalani cara atau gaya hidup benar, apakah itu sebuah kesalahan? Tidak, sama sekali bukan. Itu namanya, orang lain tersebut telah menyatakan kasihnya pada kita, dan tidak menginginkan kita terlena dan akhirnya tetap menyimpan perilaku buruk dalam diri kita. Orang lain itu, sedang menginginkan yang terbaik dari diri kita.

Belajarlah untuk mendengarkan nasehat orang lain (nasehat positif tentunya yaaa), karena itu berarti kita mau belajar untuk hidup benar dan menjalani hidup ini dengan benar. 


.Sarlen Julfree Manurun
My Mind
Salah satu hal yang membuat saya tertarik untuk hampir selalu menyaksikan acara Oprah Winfrey Show yang disiarkan oleh stasiun televisi swasta Metro TV setiap jam 11.00 WIB setipa hari Jum’at hingga hari Minggu, adalah Oprah Winfrey sangat senang sekali membahagiakan orang lain dengan memberikan berbagai kejutan maupun hadiah yang dapat menyenangkan hati para penonton setianya.

Dalam segment pertama Oprah Winfrey Show hari ini (3 Mei 2009), kebahagiaan memang tidak secara langsung Oprah berikan namun dengan bantuan seorang teman baiknya, Celine Dion.

Celine Dion memberikan kebahagian kepada Charice, seorang gadis remaja yang pernah menjadi tamu dalam acara Oprah Winfrey Show, pada episode anak-anak berbakat dan memiliki kemampuan luar biasa, dengan mengundang Charice untuk bernyanyi bersama dalam satu panggung dengannya.

Produser acara Oprah Winfrey Show memasukkan Charice sebagai salah seorang tamu dalam acara Oprah Winfrey Show dalam episode anak-anak berbakat dan memiliki suatu kemampuan atau bakat luar biasa, karena Charice adalah seorang anak yang masih belum menginjak dewasa namun memiliki talenta kemampuan bernyanyi baik. 

Ketika menjadi tamu Oprah, Charice pernah mengaku kalau dirinya mengidolakan artis Celine Dion. Mungkin, oleh karena pengakuannya itu, Oprah meminta Celine Dion untuk dapat mengundang Charice sebagai bintang tamu dalam acara konsernya.

Selanjutnya pada segment yang kedua, Oprah Winfrey memberikan kebahagiaan kepada dua orang perempuan kembar sangat identik. Dikatakan sangat identik, karena selain fisik keduanya sangat mirip, mereka juga memiliki kesamaan dalam banyak hal. Salah satunya ada pada kesamaan dalam penataan kamar dan mainan yang diberikan kepada anak-anak mereka bedua.

Bagi kedua perempuan kembar identik tersebut, Oprah memberikan kebahagiaan dengan memberikan sentuhan berbeda pada kamar tidur mereka masing-masing dengan dibantu oleh Ty, seorang ahli bangunan yang biasa membantu Oprah untuk mewujudkan mimpi atau harapan para bintang tamu acara Oprah Winfrey Show.

Kita juga bisa melakukan sama seperti yang telah dilakukan oleh Oprah, meskipun dalam bentuk yang tidak sama dan tidak sebesar pemberian Oprah untuk membahagiakan orang lain. Kita dapat melakukannya dengan cara yang lebih sederhana.

Membuat orang lain berbahagia, adalah sebuah perbuatan tulus (memberi yang terbaik) yang kita lakukan untuk orang lain, dimana kebahagian yang diperoleh orang lain itu, pada akhirnya akan mendatangkan pula kebahagiaan pada diri kita.

Banyak orang yang merealisasikan upaya-upaya untuk bisa membahagiakan orang lain dengan cara memberikan uang. Sebagai contoh, oleh karena kesibukkannya, sejumlah orang tua memberikan kelimpahan materi atau kesenangan kepada anaknya sebagai ganti kehadiran diri mereka di rumah.

Padahal, seperti yang telah diperbuat Oprah, upaya membahagiakan orang lain dapat pula kita nyataan dengan cara mewujudkan mimpi atau keinginan dari orang lain tersebut.

Menghadiri undangan acara yang diadakan oleh seorang teman atau acara kesenian di sekolah anak, membuatkan kopi dan membawakan kue untuk seorang suami yang sedang sibuk bekerja, menemani anak saat bermain, mengucapkan kata selamat pada saat ada sesuatu hal yang spesial, atau bahkan bisa juga dengan menjadi seorang pendengar yang baik pada saat orang lain sedang menyampaikan curahan hatinya pada kita.

Tentunya, tidak hanya sebatas itu saja. Banyak cara atau upaya yang bisa kita lakukan untuk membahagiakan orang lain. Ada baiknya, direncanakan dahulu, agar diperoleh hasil yang sesuai dengan harapan kita juga, yaitu : orang lain bahagia dengan apa yang telah kita lakukan untuknya atau baginya.

Jadi, bentuknya tidaklah harus materi, namun bisa pula orang lain itu mendapatkan suatu kepuasan batin, seperti sebentuk kebahagiaan yang dialami oleh Charice, yaitu ia dapat berdiri berdekatan (bahkan saling berangkulan) dan bernyanyi dengan Celine Dion diatas panggung yang sama. 

Terlalu mengagungkan materi untuk selalu kita pakai pada saat mencoba untuk dapat membahagiakan orang lain, bukanlah suatu pola pembelajaran yang baik dan dapat kita terapkan di setiap kesempatan. 

Apabila kita bisa membahagiakan orang lain, itu sama artinya kita perduli kepada orang lain. Kita tidak menutup diri kita dan pintu hati kita akan kondisi orang lain. 

Kita menyatakan kasih kita, dan berharap, orang lain itu dapat bahagia oleh karena pemberian atau perbuatan tulus yang kita lakukan.

Landasan dasarnya adalah kasih. Kemudian kita bawa serta ketulusan (keinginan untuk membahagiakan orang lain itu datangnya harus dari hati), dan terkadang pula, perlu ada pengorbanan (pada situasi atau kondisi tertentu). 

Tanpa dilandasi oleh adanya keinginan besar untuk mengasihi orang lain dengan tulus didalamnya, kita tidak bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain.

Bagaimana caranya agar kita bisa melakukan sesuatu untuk membahagiakan orang lain dengan penuh kasih dan tulus, hingga pada akhirnya kita bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain untuk kebahagiaannya?

Jangan pernah berhitung, jangan pernah melihat siapa orang yang akan kita berikan satu kebahagiaan, dan lakukan segala sesuatunya dari dasar hati. Agar kita terbiasa untuk bisa melakukannya, berlatihlah dalam banyak kesempatan yang memungkinkan diri kita dapat membahagiakan orang lain.

Satu hal lainnya, jangan pernah menunggu orang lain mengucapkan terima kasih atas tindakan yang kita lakukan untuk membahagiakan orang lain, karena terkadang, ketika kita tidak menerima ucapan terima kasih itu, yang timbul kemudian, adanya ketulusan itu tiba-tiba sirna dalam sekejap waktu. 

Ada kecenderungan, seseorang yang sedang berbahagia, terkadang lupa untuk langsung mengucapkan kata : terima kasih. Namun ia akan menyampaikannya di lain kesempatan, atau bahkan mengganti ucapan terima kasih itu dengan berupaya membahagiakan diri kita pada saat kita membutuhkan suasana hati dan pikiran yang bahagia.

So, tidak terlalu sulitkan?

Nah, sekarang, sudahkah kamu melakukan sesuatu hari ini untuk membahagiakan orang lain? Kalau belum, kenapa harus menunggu hari esok? 

Keep on smiling face… cause the smiling face is the sign of happiness people…

(sorry kalo my english acak kadul, tapi aku yakin rekan-rekan paham akan artinya…)


GBU Everybody


.Sarlen Julfree Manurung 
My Mind
TUHAN TAHU
By : Intan Malau


Semua ada waktunya….. ; Semua indah pada waktunya……
TUHAN tak akan terlambat….. ; Juga tak akan lebih cepat…..

TUHAN TAHU
Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan !!!
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia…
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

KETIKA KaU suDaH MenAngiS SEKIAN LAMA dAn HATIMU MasIh tEraSa PeDih…
TUHAN SudAh MENGHITUNG AIRMATAMU.......
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa
berlalu begitu saja…

Tuhan sedang Menunggu beRsama denGanmu.
Ketika kau merasa SENDIRIAN dan tEmaN-teMaNmu terlalu sibuk untuk
menelepon.

Tuhan selalu bErada disaMpingmu. Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu
hendak berbuat apa lagi… Tuhan Punya JawaBAnnya.

Ketika Segala seSuaTu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa TERTEKAN…
TUHAN dApat MENENANGKANMU.

JikA tiba-tiba kAu dapat Melihat JejAk-jEjaK hAraPAn…
Tuhan sedang BERBISIK kePadaMu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..
Tuhan telah memberkatimu.

Ketika Sesuatu yAng INDAH terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban…Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki TUJUAN untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi…
Tuhan sudah membuka MATAMU dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa DIMANAPUN kau atau KEMANAPUN kau mEnghadap… TUHAN TAHU
My Mind
Hidup dicuekin itu gak enak. Apalagi kalau cara-cara yang dipakai untuk mencuekin orang lain itu adalah dengan mendiamkan orang yang mau dicuekin, sehingga orang yang dicuekin itu,  sampai merasa telah diperlakukan tidak adil.

Buat aku pribadi, itu adalah cara paling kasar yang bisa dilakukan seseorang, yang dilakukan karena adanya rasa tidak senang, rasa tidak suka dan mulai bertumbuhnya didalam hati sikap bermusuhan terhadap orang lain.

Apakah untuk mengungkapkan rasa tidak senang atau tidak suka, harus dengan mendiamkan orang lain, tanpa mau menegur atau menjawab teguran?

Apa jadinya ya, kalau kondisi yang sama terjadi pada dirinya / diri mereka?

Gak harus perilaku seperti itu kita kembangkan. Kalau aku yang jadi korban dicuekin seseorang, aku gak akan membalaskan rasa tidak senang atau tidak suka yang ditunjukkan orang-orang itu dengan cara yang sama atau dengan cara apapun.

Bahasa sederhananya : Aku gak mau hukum tabur tuai berlaku kalau saja aku mendapatkan perlakuan yang sama.

Kalau memang ada salah, kalau memang ada rasa tidak senang, kalau ada yang mengganjal di hati, atau ada perbedaan pendapat, yaaa... dibicarakan dong, bukannya ngajak banyak orang yang lainnya untuk ikut-ikutan nyuekin.

Itu gak bagus, apalagi berkoloni untuk menyakiti hati dan perasaan orang lain. Itu adalah suatu tindak kejahatan yang tergolong sadisss...

Teman-temanku yang baik hati,

Jangan pernah menyakiti hati dan perasaan orang lain dengan cara nyuekin, apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya, sebab dicuekin itu gak enak... dicuekin itu, menyakitkan... dicuekin itu, gak beradab...

Stop segala bentuk kekerasan...!!!


.Sarlen Julfree Manurung
My Mind
Seorang teman di multiply menulis sebuah artikel tentang kehidupan dengan mengambil sebuah perumpamaan. Sebuah pola pembelajaran yang menarik. 

Ia menyebutkan, kalau kehidupan ini diibaratkan sebagai seseorang yang sedang mengupas lembar demi lembar kulit bawang, yang sering kali membuat orang yang melakukannya mengeluarkan air mata (http://gendhengtenan.multiply.com/journal/item/63/MENGUPAS_KEJUJURAN).

Boleh juga perumpamaannya...

Well, aku juga punya perumpamaan soal kehidupan. Aku mengumpamakan kehidupan itu bagaimana cerita hidup seorang supir taksi, yang datang subuh-subuh ke pool taksi untuk mengambil mobil. Setelah didalam mobil, sering kali seorang supir tidak tahu harus kemana mencari penumpang. "Ikut feeling aja," demikian kata supir taksi yang pernah aku tanyakan.

Apakah feeling supir taksi itu akan benar-benar membuat dirinya menemukan calon penumpang dalam waktu singkat? Belum tentu, tergantung nasib...

Apakah kehidupan kita harus tergantung nasib? Tentu tidak. Kita tidak harus berpikir kalau dalam hidup ini bukan tergantung nasib-nasiban tapi berdasarkan 2 hal : kehendak Tuhan, dan seberapa besar usaha kita.

Kehidupan memang tidak menawarkan segala sesuatunya dengan kemudahan, tapi dengan seberapa besar usaha kita (inget, iman tanpa perbuatan adalah mati) dan seberapa besar hati kita mengarahkan diri kepada Tuhan untuk memohon pertolonganNya.

Hidup adalah perjuangan, oleh sebab itu, berjuanglah untuk hidup.


.Sarlen Julfree Manurung

My Mind

Congratulation, Sir... Now you are The President Of The United States Of America people's.
My Mind
                                                                   The President Of The United States Of America
My Mind
Pada saat sedang asyik membuka situs facebook di internet, saya tertarik membaca potongan komentar yang disampaikan seseorang, yang dituliskannya pada kolom komentar facebook milik salah seorang temannya.

Sebenarnya, komentar yang dituliskan itu, berisikan sejumlah kalimat. Namun saya tertarik untuk membaca kalimat kedua terakhir dari komentarnya itu secara berulang-ulang, karena saya melihat, bahwa kalimat terakhir tersebut, mengandung makna dan pesan yang teramat mendalam.

Adapun kalimat kedua terakhir pada komentar seseorang tersebut, berbunyi :

"Sayangnya, gue cukup bego di dalam bidang matematika, dimana kalau gue pinter matematika, seharusnya gue BISA nunjukkin, kalau kerja keras itu berbanding lurus dengan IPK."

Ya, saya benar-benar tertarik dengan komentar tersebut, dimana penekanan kata BISA, membuat kalimat itu tidak menjadi sebaris kata-kata yang biasa-biasa saja.

Menurut saya, kalimat tersebut nampaknya diucapkan sebagai sebuah kalimat penyesalan, namun disampaikan sebagai sebuah joke yang agak-agak bernada sombong.

Kental sekali aroma penyesalannya. Akan tetapi, dibalik ucapan penyesalan tersebut, ada sesuatu yang ingin disampaikan dengan menuliskan kalimat seperti itu.

Memang benar, kalau semua orang ingin mendapatkan IPK tinggi, harus kerja keras. Bukan sesuatu hal yang neko-neko namun wajar adanya.

Banyak anak muda yang dalam satu episode perjalanan hidupnya, tidak meraih keberhasilan (atau prestasinya biasa-biasa saja) karena diri mereka tidak benar-benar menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya bisa dilakukan.

Hal ini bisa terjadi karena 2 sebab : malas dan tidak percaya diri.

Apabila tidak malas dan lebih bersikap percaya diri (kalau dirinya mampu mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru atau dosen), maka besar kemungkinan seseorang yang masih duduk di bangku sekolah itu, akan bisa mendapatkan nilai raport atau IPK diatas rata-rata orang lain atau diatas nilai cukup.

Faktanya, memang tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bisa kita capai, kalau saja kita tidak "memelihara" rasa malas dalam diri kita, dan tidak membiarkan rasa tidak percaya diri selalu ada di hati serta "menghantui" perasaan kita.

Apabila orang tua tidak menginginkan diri mereka melihat nilai anak-anak mereka tidak memuaskan, maka para orang tua harus bisa membuat seorang anak tidak malas, dan mendorong mereka agar memiliki rasa percaya diri, dengan mendampingi mereka pada saat belajar atau mengerjakan tugas.

Mungkin, orang tua tidak mengerti akan mata pelajaran yang sedang dipelajari atau sedang dikerjakan sang anak. Namun, dengan metode pendampingan tersebut, seorang anak akan merasa bahwa para orang tua mereka memberikan perhatian pada diri mereka.

Kita sama-sama ketahui, bahwa banyak anak-anak yang hidup tidak sesuai dengan kondisi yang para orang tua harapkan karena mereka merasa tidak mendapatkan perhatian dari para orang tua mereka.

Memberikan uang dan fasilitas, bukanlah cara yang tepat untuk menggantikan perhatian yang seharusnya diungkapkan. Why? Karena uang dan fasilitas, tidak memiliki emosi...

Hal menarik lain yang saya temui dari komentar yang dituliskan seseorang itu, ada pada kalimat terakhirnya. Kalimat terakhir dari tulisan komentar seseorang itu :

I love fighting to make possible of that!

Saya tidak tahu, apakah penulisan kalimat berbahasa Inggris seseorang itu, benar apa tidak. Tapi saya sendiri ingin menarik kesimpulan, bahwa seseorang itu masih punya semangat untuk berjuang mendapatkan hasil yang terbaik karena dia mau bekerja keras untuk dicapainya di kemudian hari.

Dalam hal ini, meskipun sempat menyesal, seseorang itu tidak merasa cukup mendapatkan nilai atau prestasi yang biasa-biasa saja.

Bagaimana dengan Anda? Masih adakah semangat untuk bangkit dari adanya rasa menyesal yang sempat terbentuk dan membuat Anda terpuruk?

Pesan moral yang ingin sampaikan pada bagian akhir tulisan ini : Janganlah kita pernah mengalah oleh keadaan, akan tetapi kalahkanlah keadaan dengan membangkitkan semangat juang dari dalam diri kita. Tetaplah semangat untuk meraih yang terbaik didalam hidup Anda.


.Sarlen Julfree Manurung
My Mind
A group of professional people posed this question to a group of 4 to 8 year-olds, 'What does 'love' mean?'
The answers they got were broader and deeper than anyone could have imagined. See what you think:
 
'When my grandmother got arthritis, she couldn't bend over and paint her toenails anymore.
So my grandfather does it for her all the time, even when his hands got arthritis too. That's love.'
Rebecca- age 8

'When someone loves you, the way they say your name is different.
You just know that your name is safe in their mouth.'
Billy - age 4
 
'Love is when a girl puts on perfume and a boy puts on shaving cologne and they go out and smell each other.'
Karl - age 5
 
'Love is when you go out to eat and give somebody most of your French fries without making them give you any of theirs.'
Chrissie - age 6
 
'Love is what makes you smile when you're tired.'
Terri - age 4

'Love is when my mummy makes coffee for my daddy and she takes a sip before giving it to him, to make sure the taste is OK.'
Danny - age 7
 
'Love is when you kiss all the time. Then when you get tired of kissing, you still want to be together and you talk more.
My Mummy and Daddy are like that. They look gross when they kiss'
Emily - age 8
 
'Love is what's in the room with you at Christmas if you stop opening presents and listen.'
Bobby - age 7 (Wow!)
 
'If you want to learn to love better, you should start with a friend who you hate,'
Nikka - age 6
(we need a few million more Nikka's on this planet)
 
'Love is when you tell a guy you like his shirt, then he wears it everyday.'
Noelle - age 7

'Love is like a little old woman and a little old man who are still friends even after they know each other so well.'
Tommy - age 6
 
'During my piano recital, I was on a stage and I was scared. I looked at all the people watching me and saw my daddy waving and smiling.
He was the only one doing that. I wasn't scared anymore.'
Cindy - age 8
 
'My mummy loves me more than anybody
You don't see anyone else kissing me to sleep at night.'
Clare - age 6
 
'Love is when Mummy gives Daddy the best piece of chicken.'
Elaine-age 5
 
'Love is when Mummy sees Daddy smelly and sweaty and still says he is handsomer than Robert Redford.'
Chris - age 7
 
'Love is when your puppy licks your face even after you left him alone all day'
Mary Ann - age 4
 
'I know my older sister loves me because she gives me all her old clothes and has to go out and buy new ones.'
Lauren - age 4
 
'When you love somebody, your eyelashes go up and down and little stars come out of you.' (what an image)
Karen - age 7
 
'Love is when Mummy sees Daddy on the toilet and she doesn't think it's gross.'
Mark - age 6
 
'You really shouldn't say 'I love you' unless you mean it. But if you mean it, you should say it a lot. People forget.'
Jessica - age 8
 
And the final one -- Author and lecturer Leo Buscaglia once talked about a con test he was asked to judge.

The purpose of the con test was to find the most caring child.

The winner was a four year old child whose next door neighbor was an elderly gentleman who had recently lost his wife.

Upon seeing the man cry, the little boy went into the old gentleman's yard, climbed onto his lap, and just sat there.

When his Mother asked what he had said to the neighbour, the little boy said,

'Nothing, I just helped him cry'
 

When there is nothing left, that is when you find out that  love is all you need.

Take 60 seconds and give this a shot!


===
catatan :

Tulisan diatas merupakan kiriman saudara saya melalui e-mail. Pada bagian bawah tulisan tersebut, tertulis agar saya mengirimkannya kepada 5 orang lainnya supaya ada kasih yang tercurah. Saya tidak memilih untuk melakukannya. Tapi saya memilih untuk sharing kepada seluruh teman-teman saya di multiply ini, agar sesuatu yang baik, akan kita dapatkan yang lebih baik lagi.

Salam kasih,

.Sarlen Julfree Manurung
My Mind
Adanya iman kepercayaan kepada Tuhan, telah mendorong setiap orang percaya untuk mengaku, bahwa Tuhan adalah Pribadi yang empunya kuasa untuk mengampuni dosa-dosa manusia.

Pengakuan tersebut masih pula diikuti dengan pernyataan, kalau mereka juga meyakini, Tuhan akan memaafkan kesalahan manusia yang datang memohon pengampunan dosa padaNya, meskipun manusia telah kotor oleh lumpur dosa.

Namun entah mengapa, sejumlah besar anak-anak Tuhan justru terlihat tidak antusias apabila mereka harus bertindak sebagai pribadi yang dapat dengan tulus ikhlas memaafkan kesalahan orang lain yang telah menghadirkan luka dan derita batin, melalui perkataan atau perbuatan yang mendukakan hati.

Hati mereka seakan tidak tergerak untuk mengucapkan kata maaf, baik kepada orang yang langsung meminta maaf atau yang tidak secara langsung meminta maaf, bahkan sulit memaafkan kesalahan orang lain meskipun orang lain tersebut tidak memintanya.

Faktanya, walaupun anak-anak Tuhan sering membaca Firman Tuhan, buku-buku telaah Firman Tuhan atau buku renungan harian yang menuliskan agar manusia dapat memaafkan kesalahan orang lain dengan tulus, serta mengaminkan isi khotbah pendeta dengan perikope yang sama, atau bahkan telah menjawab dengan lantang pertanyaan kesediaan mengampuni kesalahan orang lain dalam Perjamuan Kudus, namun tetap saja, banyak anak-anak Tuhan yang sulit memaafkan kesalahan orang lain dengan tulus.

Bahkan bagi sejumlah anak-anak Tuhan, memaafkan kesalahan orang lain yang telah menghadirkan luka dan derita batin, menganggap hal itu sebagai "bukan harus" dilakukan sebelum rasa sakit yang tercipta, terobati. Terasa berat rasanya kata-kata maaf terucap dengan lancar dari mulut. 

Tuhan saja mau memaafkan kesalahan kita, kenapa kita sulit memaafkan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita?

Dengan sulit mengungkapkan kesediaan diri untuk memaafkan kesalahan orang lain, apakah kita ingin menghadirkan otoritas yang sama dengan Tuhan, yaitu menjadi pribadi yang berhak mengampuni serta menghakimi sesama manusia?

Oleh karena tidak senang dan merasa telah disakiti, sejumlah anak-anak Tuhan bahkan memilih untuk tidak bersedia mengucapkan kata maaf kepada orang yang telah menciptakan luka serta derita batin.

Kenapa sulit memaafkan?

Pertama

Seseorang yang mengalami derita batin karena telah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan atau tidak adil dari orang lain, akan membangun dinding sikap bermusuhan.

Adapun bentuk dinding sikap bermusuhan tersebut diwujudkan dengan : menjaga jarak, memutuskan rantai pertemanan, dan menutup/mengurangi akses komunikasi dengan orang yang telah menghadirkan luka batin, dengan alasan, untuk mempertahankan posisi, integritas dan eksistensi di depan orang lain, kestabilan emosi atau nama baik.

Kedua

Memaafkan cenderung dikonotasikan sebagai sebuah tindakan berani untuk melupakan atau mengingkari adanya perbuatan salah yang telah dilakukan orang lain.

Bagi sejumlah orang, melupakan begitu saja suatu perbuatan atau pernyataan yang membuat diri ini merasakan hati yang terluka, bukanlah sebuah keharusan moral, bukanlah sebuah tindakan fair, dan tidak otomatis menyembuhkan derita yang telah dihadirkan orang lain tersebut.

Ketiga

Karena amarah telah menciptakan dendam dan upaya-upaya protektif diri (seperti yang disebutkan pada point pertama diatas), dimana keadaan itu lebih mendominasi akal serta alam pikiran.

Dalam hal ini, meskipun seseorang mengerti, memahami serta merasakan indahnya makna kasih, akan tetapi, oleh karena adanya rasa sakit lebih melingkupi hati dan perasaan, seseorang tersebut tidak memperdulikan adanya kasih, sehingga yang putih dapat menjadi hitam, dan yang hitam, dianggap lebih layak menjadi putih.

Secara tidak langsung, seseorang tersebut telah menambahkan atau mengganti literatur makna kasih yang sesungguhnya.

Apabila dikaitkan dengan prinsip keimanan, maka, tindakan memaafkan merupakan upaya "memaksa" agar dilakukan. Adanya prinsip "memaksa" dalam memaafkan kesalahan orang lain tersebut, terdeskripsikan karena memaafkan kesalahan orang lain merupakan "perintah" Tuhan.

Ketika kata "maaf" sulit untuk diucapkan, itu terjadi karena seseorang yang mengalami luka dan derita batin oleh perbuatan atau pernyataan tidak menyenangkan dari orang lain, menganggapnya sebagai sebuah beban.

Beban tercipta karena seseorang yang berada pada posisi telah disakiti orang lain tersebut, harus mengingkari adanya kesalahan yang telah membuat dirinya mendapatkan luka dan derita batin, dengan menghadirkan suatu anggapan bahwa luka serta derita batin yang telah membuat dirinya tersakiti, tidak perlu diingat-ingat lagi.

Artinya, dengan memaafkan kesalahan orang lain, kita telah berusaha sekuat tenaga untuk mendamaikan hati dan diri kita, agar segenap amarah, rasa kecewa, serta perasaan diperlakukan tidak adil, tidak lagi mendominasi pikiran, meskipun tidak ada keharusan bagi kita, untuk melupakan begitu saja kesalahan yang telah diperbuat orang lain tersebut.

Jelas, ini bukanlah perkara yang mudah namun harus dilakukan apabila kita benar-benar berpegang pada perintah Tuhan.

Kesulitan terbesar untuk memaafkan kesalahan orang lain, memang ada pada upaya untuk mereduksi segenap perasaan tertekan dan adanya kebencian yang berkecamuk di dada oleh karena amarah, rasa kecewa, dan perasaan telah diperlakukan tidak adil, menjadi sebuah keinginan baik (memaafkan) dan tidak lagi memfokuskan kesalahan atau perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukan orang lain, sebagai sebuah tindakan sulit yang harus dilakukan.

Bagaimana agar tidak terasa sulit untuk memaafkan orang lain?

Well, konsepsi pertama yang harus kita ingat adalah : tindakan memaafkan orang lain merupakan bagian dari menyatakan kasih, yaitu kepada orang yang telah kita anggap musuh atau orang yang telah kita anggap bersikap bermusuhan dengan kita.

Artinya, kita telah menjalankan perintah Tuhan, untuk menyatakan kasih kepada semua orang, yaitu menyatakan kasih kepada orang yang telah membuat hati kita terluka, dengan memaafkannya.

Kita mengerti, tahu, dan memahami, bahwa Tuhan telah memerintahkan kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain. Tuhan sendiri telah pula memberikan contoh nyata, dimana kita bisa mencontohnya. Dalam hal ini berlaku keadaan : kita memaafkan kesalahan orang lain agar Tuhan juga memaafkan kesalahan-kesalahan kita.

Berpikir positif merupakan salah satu elemen penting yang membuat kita bisa memaafkan kesalahan orang lain, meskipun kita tahu, orang lain tersebut telah membuat kita mengalami luka dan derita batin.

Kenapa kita harus berpikir positif?

Sebab dengan berpikir positif, kita dapat melanjutkan hidup kita tanpa kita sendiri harus memikul beban, dan memiliki dendam yang melingkupi hati serta pikiran kita.

Beban dan dendam, yang terangkum dalam aroma kebencian kita pada seseorang, pada dasarnya dapat merusak persepsi kita, tentang bagaimana kita harus bersikap kepada orang lain, dan bagaimana cara kita menyikapi makna kehidupan beserta keindahan yang bisa kita nikmati tanpa harus menyertakan adanya amarah didalam diri kita.

Memang tidaklah mudah untuk mematahkan segenap derita, rasa sakit serta kebencian yang membara di dada, dengan tindakan tidak menghakimi orang lain karena perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukannya (yang sesungguhnya tidak perlu terjadi).

Dalam hal ini, sikap toleransi kita kembangkan kepada orang yang menyebabkan kita menghadapi kondisi tidak pasti yang hadir setelah rasa sakit hadir ke permukaan.

Ada baiknya pula apabila kita memposisikan diri kita sebagai orang yang membutuhkan orang lain memaafkan kesalahan kita, namun kita harus menerima kenyataan, bahwa kata maaf itu tidaklah mudah kita dapatkan. Apakah kondisi ini dapat kita terima? Tentu saja tidak.

Memaafkan memang sama artinya kita harus bisa melupakan dan tidak lagi mengingat-ingat kesalahan atau perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukan orang lain pada kita.

Mungkin kita membutuhkan waktu untuk melakukannya. Namun tidak ada salahnya, kalau kita memikirkannya untuk tidak menunda-nunda melakukannya.

Awalnya memang tidak mudah, karena sisi kemanusiaan kita yang dilingkupi oleh rasa benci dan amarah, akan cepat menolak untuk memaafkan.

Namun, apabila kita segera menyadari, bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu perlu dan harus, itu sama artinya, kita telah mengurangi 2 masalah : menghapus rasa benci dalam diri kita, serta memperbaiki hubungan yang retak dengan orang lain.

Why we must do that?

Sia-sia saja kita percaya pada Tuhan kalau kita masih menyimpan dendam didalam hati kita dan membiarkan diri kita memendam amarah yang terpicu oleh kebencian atau rasa tidak senang karena orang lain telah membuat hati kita terluka, karena Tuhan tidak menentukan kita hidup dengan cara demikian.

Pesan indah yang ingin disampaikan dalam artikel ini : memaafkan kesalahan orang lain itu memang sulit, tapi kita harus melakukannya, karena itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan.

Maafkanlah kesalahan orang tulus...
 
Semoga tulisan ini menggugah rekan-rekan untuk membuka pintu maaf kepada orang yang telah berbuat salah, baik diminta atau tanpa diminta, dengan tulus tentunya.


Tuhan Yesus memberkati kita semua.


.Sarlen Julfree Manurung
My Mind
Pada dasarnya, segala sesuatu yang kita lakukan, memiliki konsekuensi yang harus kita tanggung, apakah itu terkait dengan perbuatan baik atau perbuatan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.

Dalam hal ini, konsepsi hukum tabur-menuai, akan terjadi didalam setiap tindakan atau pernyataan yang kita perbuat atau kita nyatakan pada saat kita membuka komunikasi dalam pergaulan dengan orang lain.
 
Segenap pikiran, perkataan, serta tindakan kita, merupakan bibit yang akan menghasilkan satu atau sejumlah konsekuensi yang akan kita tuai, apakah kita akan menuai berkat, atau akan menuai hukuman.

Hukuman diberikan karena masing-masing kita memang harus bertanggung jawab atas segenap pemikiran, perkataan serta perbuatan sia-sia yang kita lakukan atau nyatakan kepada orang lain. Itu adalah pilihan kita.

Pemikiran, perkataan dan perbuatan sia-sia, sama seperti pemikiran, perkataan, maupun perbuatan yang dilakukan atau diucapkan dengan landasan iman, dimana pemikiran, perkataan dan perbuatan tersebut, mempunyai pengaruh besar, tidak hanya kepada orang lain namun juga kepada diri sendiri, dan akan menghadirkan tuaian pula, yaitu hukuman kepada orang yang mengadakannya.

Bentuk-bentuk hukuman tidak hanya berupa dera fisik, namun bisa juga berupa dera batin. Padahal, penderitaan batin lebih sulit untuk diobati karena melukai perasaan. Ketika perasaan harus menderita, dibutuhkan waktu panjang untuk bisa memperbaiki keadaan, terutama kesadaran atau keinginan hati untuk kembali hidup serta berinteraksi seperti sedia kala.

Adanya suatu pola pemikiran yang kita rupakan dalam bentuk perkataan atau perbuatan, sering kali harus sikapi dengan pemahaman dan analisia umum terlebih dahulu, sehingga ide kreatif yang berasal dari pikiran kita, tidak membuat kita menuai hal-hal yang tidak baik.

Ucapan-ucapan yang kita nyatakan kepada orang lain, hendaknya membawa manfaat atau mengandung nilai-nilai positif kehidupan, dimana komunikasi yang kita lakukan dengan orang lain, tidak akan menghadirkan suatu kondisi yang tidak menyenangkan di kemudian hari.

Tindakan nyata yang kita lakukan, sebaiknya tidak memancing hadirnya suatu kondisi yang saling mempertentang-tentangkan hal-hal yang prinsipil, tidak membuat orang lain terpancing emosinya, dan tidak menginspirasi orang lain untuk berbuat jahat, kasar, atau kekerasan.

Makna yang terkandung dari pernyataan diatas, segala sesuatu yang kita lakukan pada atau untuk orang lain, selayaknya membawa nilai-nilai korektif dan kritis pada diri sendiri, dimana segala sesuatu yang nyatakan serta kita lakukan pada saat membangun komunikasi individual atau kelompok dengan orang-orang yang berada di lingkungan di sekitar kita, tidak menghadirkan sesuatu hal yang bisa mendukakan orang lain.

Artinya : Janganlah kita membangun dinding dosa bagi orang lain...

Kita harus sebisa mungkin dapat mendisiplinkan sikap dan perilaku kita untuk tetap melakukan hal-hal yang benar dan tidak mengundang dosa bagi orang lain serta diri sendiri.

Pada sisi yang lain, jangan pula kita cepat menterjemahkan rasa kesal, tidak senang, dan emosi kita kepada orang lain pada saat kita menerima suatu kondisi tidak menyenangkan yang dihadirkan orang lain tersebut, kepada kita.

Sebagai seorang yang beriman, sesungguhnya kita memiliki otoritas untuk melepaskan kuasa kasih dan kebenaran yang berasal dari benak pikiran kita, ucapan kita, serta perbuatan kita, karena prinsip-prinsip iman tidak menentukan diri kita untuk memperoleh hukuman.

George B.S mengatakan : "Manusia menjadi matang/bijaksana bukan semata karena pengalaman hidupnya, melainkan berdasar sikap dan kapasitasnya terhadap pengalaman tersebut."

Belajar dari pengalaman hidup, merupakan upaya kita untuk menghindari diri kita untuk terlalu sering berbuat salah atau mengulangi berbagai kesalahan yang pernah kita lakukan, yang sesungguhnya, memang tidak perlu kita ulangi lagi.

Akan tetapi, cara terbaik agar kesalahan tidak lagi terulang, kita refleksikan seluruh alur kehidupan kita pada prinsip-prinsip kehidupan yang dinyatakan dalam Firman Tuhan.

Bagaimanapun, Firman Tuhan merupakan "sebuah Buku Besar" kehidupan, yang bisa membawa kita kearah hidup yang lebih baik dan adanya pembaharuan hidup, sehingga hidup kita menjadi lebih bergairah serta terarah.

Yaaa... Firman Tuhan merupakan senjata dan panduan hidup kita. Dalam hal ini, senjata Allah tersebut diterangkan dalam kitab Efesus 6 : 10 - 18, yang menyebutkan "pedang Roh" adalah Firman Tuhan.

Firman Tuhan merupakan senjata yang terucapkan (RHEMA) yang bisa kita pergunakan untuk mengendalikan dan mendisiplinkan diri kita untuk mengucapkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak berkenan dihadapan Tuhan.

Tuhan Yesus merupakan contoh kita untuk dapat bertindak benar dan mengalahkan keinginan untuk berbuat jahat, kasar, atau brutal sekalipun, karena Yesus adalah Sumber Kasih yang telah mengalahkan Iblis (saat dicobai) dan kematian. Kita bisa mencontoh segenap perbuatan yang Tuhan Yesus lakukan pada saat Ia hadir sebagai Manusia di bumi ini.

Apabila kita sudah sempat berbuat salah, jangan tabukan diri kita untuk mengucapkan kata MAAF, dan jangan lupa juga untuk memohon pengampunan dosa pada Tuhan, karena memang kita sering lalai untuk melakukannya.

Kita mampu untuk melakukan apapun... apakah bertujuan baik, atau bertujuan tidak baik. Apalagi, semuanya bisa kita lakukan dalam kondisi sadar (memahami, menyadari dan mengerti dengan tindakan yang kita lakukan). Oleh karena itu, berpikirlah terlebih dahulu sebelum bertindak atau mengucapkan kata-kata.

Pilih dan tanamkan selalu dalam benak pikiran kita untuk melakukan yang baik. Jangan biarkan diri kita menyakiti hati serta perasaan orang lain. Itu dosa tauuukkk... Itu menyakitkan tauuukkk...

HENTIKAN SEGENAP TINDAK KEKERASAN YANG BISA MENYAKITI DIRI DAN HATI ORANG LAIN, SEKARANG JUGA...!!!


Tuhan Yesus memberkati kita semua.


.Sarlen Julfree Manurung
My Mind

Beberapa hari yang lalu, saya memposting tulisan seorang teman di blog multiply saya ini. Tulisan yang saya maksud, berjudul : Konsep Diri Positif.

Saya tertarik dengan thema tulisan itu karena saya melihat, banyak orang yang sulit menikmati indahnya hidup ini ketika diri mereka terlalu sering menterjemahkan keadaan atau situasi yang dihadapinya dengan selalu menghadirkan pola berpikir negatif.

Menerapkan konsep berpikir positif dalam memandang satu atau sejumlah permasalahan kehidupan, memang tidaklah mudah. Dikatakan demikian, karena banyak anak manusia yang cenderung lebih mudah mencerna atau memandang sesuatu pada sisi negatifnya, sedangkan sisi positifnya dilupakan.

Bisa dibilang, kondisi seperti itu sudah menjadi fenomena umum di tengah-tengah masyarakat kita. Ketegangan pikiran yang disebabkan oleh beratnya beban pekerjaan, adanya sejumlah permasalahan hidup yang sedang dihadapi, atau dalam posisi emosional, sering kali membuat seseorang tidak dapat berpikir positif terhadap keadaan atau situasi yang sedang dihadapi.

Padahal, imajinasi dan cara pandang seseorang atas hal-hal yang bersifat negatif, cenderung bersifat ekspresif semata. Artinya, semuanya diungkapkan dalam bentuk mengira-ngira atau menduga-duga.

Oleh sebab itulah, banyak orang yang kemudian salah kaprah karena mengalami kesulitan untuk memandang adanya sisi positif pada situasi atau keadaan yang sedang dihadapinya, dimana keadaan tersebut, kelak, dapat menimbulkan prasangka buruk, berhembusnya gosip murahan, atau munculnya tuduhan yang nilai kebenarannya masih belum bisa dipastikan.

Konsep diri berpikir positif merupakan cara pandang seseorang sebelum dirinya memberikan penilaian terhadap suatu peristiwa, dimana keadaan itu membuat seseorang bisa menghindari adanya anggapan berkonotasi negative karena telah memberikan suatu penilaian tanpa dasar atau menyampaikan opini pribadi yang disampaikan dengan emosional.

Dalam hal ini, konsep berpikir positif adalah usaha pribadi seseorang untuk membahagiakan diri mereka dengan memikirkan setiap ucapan, langkah atau keputusan yang dibuatnya agar sesuai nalar serta tidak menghadirkan pemikiran-pemikiran jelek atau perkataan yang tidak perlu dinyatakan.

Pengertian lainnya, konsep berpikir positif adalah upaya besar kita untuk mendikte setiap alur pemikiran dan pola sikap kita dengan tetap membuat pilihan-pilihan normatif serta terukur, dimana pilihan-pilihan itu membuat kita terlatih untuk membuat kesimpulan dan keputusan benar.

Kecuali terkait dengan prinsip keimanan, ada baiknya kita jangan terpaku pada satu dasar pemikiran semata.

Segala tindakan yang diambil seseorang yang ingin menerapkan konsep berpikir positif, selalu diarahkan agar tidak melihat yang buruk-buruknya saja, namun meyakini kalau setiap masalah pasti ada hikmah yang dapat dipetik serta dapat dipakai sebagai langkah membawa diri pada sikap dan gaya hidup yang benar.

Belajar berpikir positif dapat kita lakukan dimana-mana, di setiap langkah kehidupan yang harus kita lalui.

Semakin kita mau belajar untuk berpikir positif dan tetap berusaha berpikir positif, maka itu sama artinya kita telah mengembangkan kualitas diri kita tanpa harus kita membuat kesalahan yang tidak perlu kita lakukan.

Bagaimanakah caranya agar seseorang dapat menerapkan konsep berpikir positif dengan baik dan benar didalam kehidupannya?

Pada dasarnya, ada sejumlah point yang harus dipelajari :

Pertama

Belajarlah untuk berpikir kritis, dimana kita harus mempertimbangkan adanya hal-hal yang membentuk suatu masalah dari berbagai sisi. Contohnya : dengan tidak mudah menerima adanya informasi atau berita yang tidak atau belum pasti kebenarannya.

Pola berpikir kritis juga kita terapkan terhadap pendapat, tanggapan, atau pandangan orang lain, dimana sikap kritis tersebut bermanfaat untuk memberikan perbandingan apakah alur pemikiran kita sudah benar atau belum.

Kedua

Sebelum bertindak atau mengambil keputusan, berpikirlah terlebih dahulu. Jangan bertindak atau mengambil keputusan terlebih dahulu, baru memikirkan kenapa kita bertindak atau membuat keputusan demikian.

Ketiga

Bersikaplah terbuka terhadap segenap pendapat atau masukan dari orang lain. Dalam hal ini, kita harus selalu bersedia dikoreksi orang lain.

Keempat

Sebelum mengambil keputusan penting, bersikaplah hati-hati dan buatlah perhitungan-perhitungan yang sesuai dengan logika atau cara berpikir dengan nalar yang benar, untuk menghindari keluarnya sebuah keputusan yang diambil secara gegabah.

Kelima

Perluas wawasan dan asah terus kemampuan analisis kita terhadap permasalahan yang ada sehingga kita tidak cepat menghadirkan prasangka atau penilaian buruk pada orang lain atau pada situasi yang memerlukan penilaian tepat dan benar.

Keenam

Biasakan melakukan kegiatan check dan recheck untuk setiap informasi yang kita ragukan kebenarannya.

Ketujuh

Selalu menanamkan pikiran optimis dalam benak pikiran kita.

Kedelapan

Berusahalah untuk tidak mempersulit orang lain, namun ajari orang lain untuk dapat berpikir dengan cara-cara yang benar dalam mengambil keputusan.

Kesembilan

Selalu bersikap tenang pada saat ingin mengambil keputusan.

Kesepuluh

Sebelum mengambil keputusan, pertimbangkan segala sesuatunya dengan seksama.

Kesebelas

Jangan kita selalu menganggap benar terhadap segala sesuatu yang kita sukai, dan cepat menolak untuk setiap pendapat, saran, atau tanggapan yang diberikan orang lain.

Keduabelas

Bersikaplah jujur pada diri sendiri, dengan belajar dari kesalahan, mengakui adanya kekurangan serta kelebihan dalam diri kita, dan tidak mudah terpancing oleh hal-hal praktis namun sesungguhnya kepraktisan itu bukanlah konsep berpikir yang benar.

Apabila semuanya itu bisa kita lakukan atau terapkan, maka kita telah melatih diri kita untuk selalu berpikir positif untuk setiap peristiwa yang harus kita hadapi dalam hidup ini, meskipun mood kita sedang tidak baik.

Tetap membiarkan adanya pikiran negative dalam benak pikiran kita, itu sama artinya kita (tanpa kita sadari) telah membiarkan diri kita memperlambat kemajuan hidup kita karena kita akan lebih cepat memikirkan hal-hal negatif dibandingkan hal-hal positif dalam setiap situasi atau keadaan yang harus kita jalani dalam hidup ini.

So, tetaplah berpikiran positif… Karena itu sama artinya, kita membangun dan melatih diri kita agar tidak hanya terpaku dengan makna-makna simbolik negative thinking yang bisa membuat kita memikirkan hal-hal yang tidak penting atau tidak membawa manfaat, padahal pada sisi yang lain, adanya negative thinking itu bisa kita tepis asalkan ada kemauan dalam hati dan pikiran kita. Dimana ada kemauan, disana ada jalan.

Semoga tulisan ini bisa menjelaskan apa itu konsep berpikir positif dan membawa manfaat bagi kita semua.


Tuhan memberkati kita semua

 

.Sarlen Julfree Manurung

 

 

Note :

Bahan tulisan diambil dari berbagai sumber.

My Mind

KONSEP DIRI POSITIF

Oleh: Istianto Lim


Dikisahkan ada dua orang kakak beradik yang sama-sama mengelola toko kelontong. Kakak beradik ini mendapatkan modal dari ayahnya untuk menjalankan usaha toko kelontong yang lokasinya tidak terlalu jauh berbeda. Sang ayah hanya berpesan tentang dua hal yang perlu diperhatikan, yakni, " Pertama, jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu dan kedua setiap pergi dari rumah ke toko atau sebaliknya jangan sampai terkena sinar matahari."


Waktu terus berjalan dan masing-masing berusaha mengelola tokonya dengan menjalankan pesan ayahnya. Setelah beberapa tahun ayahnya meninggal, kenyataan yang terjadi adalah anak yang lebih tua tokonya berkembang semakin besar, barang-barangnya semakin banyak dan menjadi semakin bertambah kaya. Sebaliknya, adiknya usahanya semakin menurun, barang-barangnya semakin
menyusut dan menjadi semakin miskin.

Ibunya yang melihat hal itu merasa heran dan menanyakan kepada masing-masing anaknya. Ketika ditanyakan kepada anak yang lebih kecil jawabnya adalah, " Semua ini karena saya mengikuti pesan ayah. Pesan pertama, saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Ayah juga berpesan agar setiap pergi dan pulang dari rumah ke toko saya tidak boleh terkena sinar matahari.

Akibatnya saya selalu membawa mobil atau naik taksi menuju toko atau pulang kerumah. Padahal, kalau mau dengan berjalan kaki saja sampai, tetapi karena pesan ayah demikian maka pengeluaranku menjadi bertambah banyak."


Sedangkan ketika Ibunya bertanya kepada anak yang lebih tua yang lebih berhasil mengelola tokonya, jawabnya adalah, " Semua ini berkat dua pesan ayah tersebut. Pertama ayah berpesan supaya saya tidak menagih hutang kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan kepada orang lain sehingga modal saya tidak susut. Kalau ada orang yang ingin berhutang, saya lebih senang memberikan bantuan uang sesuai kemampuan saya saja, sehingga saya tidak perlu menagih hutang.

Ayah juga berpesan agar setiap berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya selalu berangkat ke toko dengan berjalan kaki lebih awal sebelum matahari terbit dan pulang  ke rumah lebih lambat sesudah matahari terbenam.

Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Kebiasaan itu menjadikan banyak orang tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih panjang."


Sahabat semuanya, kisah diatas saya dapatkan dari seorang teman yang entah dari mana sumber aslinya. Mungkin bukanlah kisah nyata, namun sesungguhnya memberikan pelajaran bermakna kepada kita semua, bahwa sebuah pesan atau kalimat dapat ditangkap berbeda sehingga memberikan hasil yang berbeda.

Kalau seseorang mampu melihat dengan "positive attitude" maka ia berhasil menangkap pesan itu menjadi positif, pikirannyapun positif, tindakannyapun positif dan hasilnya adalah positif pula.

Sebaliknya kalau pesan itu ditangkap dengan persepsi yang berbeda, maka pesan itu dianggap sebagai sebuah kesulitan bukan sebuah tantangan, hal ini akan mempengaruhi pikiran dan tindakannya, dan hasilnya adalah sesuatu yang negatif.


Setiap kalimat yang datang kepada diri kita dapat berarti positif atau negatif kepada diri kita, sesungguhnya pilihannya ditentukan oleh diri kita sendiri. Semua yang datang kepada diri kita, apakah itu negatif atau positif sesungguhnya tergantung bagaimana kita mengartikannya. Tanpa kita memberikan arti, maka setiap kalimat maupun keadaan yang datang  kepada kita tidak akan memiliki makna sama sekali terhadap diri kita.


Yang perlu kita pahami adalah bahwa salah satu kunci keberhasilan hidup kita adalah bagaimana kita dapat mengembangkan KONSEP DIRI POSITIF. Konsep diri positif ini seperti sebuah sistem operasi yang mempengaruhi mental dan kemampuan berpikir positif seseorang. Konsep diri positif ini dapat masuk kedalam pikiran seseorang dan mempunyai bobot pengaruh yang besar terhadapkemampuan menerima dan mempersepsikan setiap pesan yang datang. Semakin positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah menangkap dan mempersepsikan setiap pesan yang datan  menjadi sebuah pesan yang positif. Demikian pula sebaliknya.


Konsep diri positif memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang. Karena konsep diri positif dapat mempengaruhi pola pikir dan tindakan seseorang menjadi positif dalam kehidupannya. Hasilnya adalah karakter pribadi positif yang menjadi modal bagi kesuksesan hidup. Nah, bagaimana dengan Anda ?. Pilihannya ditentukan oleh diri Anda sendiri. SEMOGA BERMANFAAT !


***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia dan Penulis Buku "The Art of Life Revolution" dan Buku "Heart Revolution, Revolusi Hati Nurani Menuju Kehidupan Penuh Potensi" Keduanya Diterbitkan Elex Media Komputindo.
My Mind
Berpikirlah dahulu sebelum mengambil sebuah keputusan, karena sebuah keputusan yang diambil secara tergesa-gesa, dapat membuat dirimu menyesal kemudian.

Belajarlah untuk berpikir dahulu sebelum berkata-kata, jangan berkata-kata dahulu baru kemudian berpikir.


.
My Mind
C I N T A
by : Brigita Imoet


Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.