Showing posts with label artikellepas. Show all posts
Showing posts with label artikellepas. Show all posts
My Mind

To be blind is bad, but worse is to have eyes and not see.

- Helen Keller -

 

Hidup terasa indah apabila memiliki banyak teman. Dikatakan indah, karena ada kegairahan tersendiri yang bisa dirasakan apabila sudah bertemu serta menjalani saat-saat penuh kebersamaan bersama teman. 

 

Tidak sedikit pula orang yang (secara tidak langsung) mengatakan, kalau kedekatan hubungan mereka dengan teman-temannya, jauh lebih lekat apabila dibandingkan dengan kedekatan diri mereka pada anggota keluarga di rumah, bahkan dengan TUHAN. 

 

Namun entah mengapa, ada banyak pula orang yang mengaku kalau diri mereka telah dikecewakan oleh orang yang selama ini dianggapnya sebagai temannya. 

 

Kualitas hubungan pertemanan yang selama ini dibangun dan dijaga dengan baik, teramat mudah terkoyak, saat ada suatu permohonan bantuan yang dinyatakan. Tidak ada respon yang diberikan. Hanya diam, seolah-olah tidak pernah ada pembicaraan yang dilakukan sebelumnya. 

 

Padahal, permohonan bantuan yang dimintakan tidak berupa uang, dan tidak mengeluarkan banyak tenaga. 


Jika mau hitung-hitungan, sama sekali tidak ada nilai "kerugian" materi yang mungkin akan diderita, dan tidak akan menghabiskan energi apabila mau sedikit saja "membuang energi" untuk memberikan bantuan atau sebentuk "jawaban", meskipun jawaban itu, tidak seperti yang diharapkan. Nama baik dan citra diri juga tidak tercoreng apabila ada seungkap kata yang terucap / dituliskan.

 

Tentu saja, rasa galau segera melingkupi hati dan pikiran. Seribu kata tanya seakan ingin disampaikan : Kenapa diam? Apakah salah, kalau memberikan jawaban? Apakah salah kalau aku minta bantuan? Apakah aku sudah merusak suasana hati, serta mengganggu ketentraman dan kenyamanan hidupmu?

 

Apakah diam saja merupakan pilihan sikap terbaik yang bisa ditunjukkan untuk mengatakan "tidak" tanpa ada suara atau bait tulisan kata-kata sebagai sebuah jawaban? Atauuu... apakah sikap diammu itu, merupakan sebuah pernyataan sikap yang ingin menunjukkan bahwa kamu memiliki "kasta" lebih tinggi, sehingga fine-fine saja apabila tidak mengucapkan satu kata apapun? 

 

Memang benar adanya, segenap pandangan yang kita yakini, kita ketahui, dan/atau kita kehendaki, belum tentu sama dengan persepsi maupun cara pandang orang lain, terutama terhadap hal-hal yang sudah kita kemukakan. Namun itu bukan berarti, mendengar / membaca lalu diam, merupakan sebuah sikap ideal seseorang pada saat ada orang lain bertanya untuk meminta bantuan.

 

Kalau cuma diam saja, itu tidak memberikan terlalu banyak "kesan". Hal yang "paling berkesan", apabila sudah tidak mengucapkan kata iya atau tidak, hubungan pertemanan seakan terhenti sampai di pembicaraan itu saja. Huuffff...

 

Who is your friend? Teman adalah seseorang yang selalu ada disamping kita, baik di saat suka, maupun di saat kita sedang mengalami kesusahan. Itu pula sebabnya banyak yang bilang, derita sengsara yang ditimbulkan karena kehilangan teman, jauh melebihi kesengsaraan hati yang disebabkan oleh putusnya hubungan dengan pacar.

 

Sulit rasanya membayangkan, bagaimana seseorang yang dulu kita anggap kawan, sekarang sikapnya sudah seperti seorang "lawan". Antara mati gaya dan mati kata, agak sulit menerima perubahan sikap teman yang tiba-tiba menjauh tanpa kita sendiri dapat mengerti, apa penyebabnya. Tersinggung kah? Ego kah? Apa?  

 

Well, hubungan pertemanan nggak perlu menjadi rusak hanya karena enggan membantu. We are human. Siapa pun dan bagaimana pun kita, sikap saling mendukung (untuk hal-hal yang baik) di dalam hidup ini, perlu terus dihadirkan. Itu namanya, kita menjaga iklim pergaulan kita kearah pergaulan yang sehat.

 

Jika memang tidak bisa (membantu), katakan saja. Tidak ada unsur paksaan untuk siap membantu. Dan jangan pula merasa terpaksa kalau ingin membantu. Yang penting dikatakan, jangan didiamkan, lalu pergi.

 

Adanya keputusan untuk memutuskan hubungan pertemanan karena emoh membantu, justru menimbulkan sebuah prasangka, bahwa kita bersikap layaknya seorang teman, hanya karena ada maunya saja. Sedangkan pada sisi yang lain, kita sendiri nggak mau disusahkan saat keadaan susah sedang dihadapi teman.

 

Hidup memang penuh dengan kejutan dan misteri. Namun, janganlah kejutan serta misteri kehidupan itu berasal dari sikap kita yang tiba-tiba menjadi pribadi yang misterius. Bertemanlah secara wajar. Jangan berlaku timpang atau sesuka hatinya saja. Ekspektasi orang lain tentang diri kita, akan langsung berubah (kearah pikiran negatif) apabila kita hanya mau senang dan bahagia sendiri saja. 

 

Menjalani kehidupan pertemanan, tidak terlepas dari adanya sikap loyalitas kita untuk menghadirkan sikap saling menghargai dalam satu cinta yang tak pernah berlaku satu arah. Ada hubungan timbal balik, ada pengorbanan, dan nilai-nilai kebersamaan serta kesetaraan dalam derajat yang sama. Kita harus mau melihat, bukan mendengar serta membaca, lalu pergi. 

 

 

 

.Sarlen Julfree Manurung

My Mind

Mungkin, karena sudah cukup lama belum juga memiliki pekerjaan tetap atau mempunyai penghasilan tetap, saya sempat menjadi seseorang yang emosional karena suka kesal terhadap sikap orang-orang yang nampaknya sudah terbiasa mengeluarkan kata-kata cemooh ataupun hinaan, bagaikan orang-orang yang selalu punya hasrat untuk merendahkan dan menjatuhkan harkat, martabat, serta harga diri orang lain.

Namun, setelah melalui sebuah perenungan panjang, saya berpikir, untuk apa saya menjadi seseorang yang emosional? Apakah saya bisa merubah keadaan dengan marah-marah? Kesal karena kecewa sih, boleh-boleh aja, tapi kalo marah, sebaiknya jangan. Yup, sama sekali ga ada untungnya.

Setiap hari saya tidak pernah ongkang-ongkang kaki, seharian kerjanya duduk-duduk atau tidur-tidur saja di rumah. Walaupun saya tidak berkantor di salah satu gedung perkantoran yang ada di daerah Sudirman-Thamrin, namun saya tetap ada kegiatan dengan bekerja dari rumah. 

Bagi orang kantoran, hasilnya mungkin tidak seberapa. Lebih sering tidak berlimpah atau sama seperti saat saya bekerja sebagai staff perencanaan di sebuah kantor general contractor. Tapi kalo di total-total, nilainya bisa melebihi UMR di Jakarta. 

Setidaknya, saya tidak melakukan mark-up atas nilai project demi menjaga nama dan reputasi saya as a freelance. Saya masih bisa beli rokok saya sendiri, bisa sesekali membantu orang tua untuk nambahin uang belanja, serta bisa sesekali jajanin keponakan-keponakan saya.

Hingga hari ini, saya tidak merasa salah memilih kuliah di fakultas teknik jurusan arsitektur, karena ternyata, dunia para arsitek itu tidak hanya berisi mengkhayal...mengkhayal...dan mengkhayal. Akan tetapi kami juga belajar tentang banyak hakekat ilmu yang tidak diajari di jurusan lainnya.

Tentu saja, hidup yang berubah drastis, ada hikmahnya. Salah satunya, saya harus terbiasa dengan penghasilan yang apa adanya jika memang sedang tidak menangani proyek (no job).

Adanya perubahan atas kualitas kemampuan keuangan, memang sedikit merubah sikap saya. Dahulu, saya terbiasa menjadi pendengar paling setia kalau ada teman-teman yang ingin curhat sama saya. Kalau sekarang ini, saya memilih untuk terbiasa bertindak sebagai motivator bagi orang-orang yang tidak saya kenal dengan baik. Kenapa begitu?

Perubahan itu terjadi sewaktu saya sedang mengalami masalah keuangan beberapa waktu yang lalu. Waktu itu saya mendatangi mereka, berharap bisa dibantu dengan menceritakan masalah yang sedang saya hadapi. 

Apa lacur adanya, ternyata saya hanya mendapatkan punggung dari mereka saja. Menegur sapa tidak, memberikan respon juga tidak. Bahkan sekarang hilang dan pergi begitu saja. Yup, saya menjadi korban kerasnya kehidupan pergaulan, mau menerima, tapi enggan memberi.

Oleh sebab itulah, saya merasa, percuma saja selama ini telah menjadi pendengar setia bagi “suara jeritan hati” mereka, karena ternyata mereka sendiri emoh untuk juga mau menjadi pendengar suara hati saya.

I don’t know why, belakangan ini, sikap saya itu sudah menjadi kebiasaan. Kuantitas dari munculnya keinginan untuk menjadi pendengar bagi suara orang-orang yang merasa punya beban, agak saya kurangi. Mungkin, saya salah telah bersikap seperti itu. Akan tetapi, saya juga ingin mempunyai rasa nyaman dalam kehidupan pergaulan saya.

Faktanya, bekerja dari rumah bukan berarti saya tidak memiliki masalah dan banyak kendala. Aneka problematika kehidupan pribadi, tetap datang silih berganti. Bekerja di rumah juga berarti, saya harus membiasakan diri dengan keruwetan masalah yang ada di rumah.

Kondisi terberat adalah saat orang tua saya harus mudik sebulan lamanya untuk nostalgia, dan saat setelah Lebaran ini, karena pembantu serta baby sitter para keponakan saya, tidak balik lagi. 

Sungguh, kerepotan demi kerepotan menyita waktu saya. Apalagi sewaktu ponakan saya Pepita sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Semenjak jam 6 pagi saya sudah sibuk membantu Ibu saya mengurusi adiknya Pepita, Abby, karena orang tuanya menemani Pepita di Rumah Sakit. Praktis, saya baru tidur jam 3 subuh setiap harinya karena Abby sering kali rewel banget karena kangen sama Orang tua dan Kakaknya. 

Berbagai bentuk kerepotan membuat saya mengalami kesulitan untuk bisa mengatur waktu menjalani kehidupan sosialita saya. Gak ada waktu untuk mengais rupiah karena badan ini sudah capek sekali. 

Untuk menghibur diri, saya menonton OVJ dan bermain game Social City di facebook. Just that.

Ada begitu banyak permintaan untuk menjadi pengabdi nan setia. Bahkan terkadang, harus dimulai dengan penyampaian kata-kata yang benar-benar “tidak menganggap” keberadaan saya yang juga memiliki aktifitas pribadi. Sering kali, saya merasa sakit hati, tapi saya hanya bisa ngedumel dalam hati.

Untung saja, saya bukanlah tipikal orang yang temperamental, yang suka melampiaskan rasa amarah serta rasa kesal dengan menyakiti ragawi orang lain. Puji Tuhan... hingga kini, saya masih dapat mengendalikan diri. Saya berharap, sampai kapan pun, saya tidak berubah menjadi orang yang mampu menahan emosi diri.

Tentu saja, menjadi seseorang yang emosional, bukanlah sebentuk perubahan perilaku yang saya inginkan agar menjadi bagian dari kepribadian saya. Sekali-kali tersinggung, pernahlah. Saya masih manusia biasa yang punya perasaan. But, being emotional people?

Nop. that is not my type. Till now, i’m not like that. Saya sangat-sangat tidak menginginkan menjadi seorang pemarah. Saya tidak ingin, marah-marah menjadi kebiasaan hidup, menjadi cara saya untuk mengekspresikan rasa tidak senang saya.

Beraneka ragam tekanan, boleh-boleh saja didatangkan. Aneka rupa cemooh dan kata-kata hinaan yang menyakitkan hati, boleh-boleh saja sering dialamatkan. Aneka bentuk tindakan tidak menyenangkan lagi merendahkan, silahkan saja untuk dirupakan sekehendak hati. Tapi saya tidak mau terpengaruh oleh karenanya.

Hidup ini terasa menakutkan jika saya menikmati tekanan-tekanan yang menghampiri. Akan ada berjuta-juta kebencian yang bergemuruh dan ingin dilampiaskan. Tentu saja, itu bukan sebuah kondisi yang baik untuk dijalani.

Dalam tayangan acara Just Alvin, Sophia Latjuba sempat mengatakan : happy is a strong word. Saya sependapat dengannya. Pada satu sisi, saya sudah sangat terbiasa untuk menghadapi banyak kesusahan. But, saya juga ingin menikmati hidup ini, bukan menikmati segenap kesusahan yang datang menghampiri.

Saya mungkin sudah terbiasa menghadapi keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, saya tidak ingin untuk terbiasa menjadi orang yang memiliki kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan. Itu sebabnya, belakangan ini, saya lebih banyak diam dari pada muncul keinginan untuk balik menyakiti hati dan perasaan orang lain.

Jika saya menginginkan gaya berpikir saya ini bisa pula menjadi bagian dari gaya berpikir dari orang-orang di sekitar saya, itu karena saya meyakini, pilihan sikap seperti itu, perlu ada di dalam benak pikiran dan jalan kehidupan semua orang. Hidup kita haruslah berkelimpahan dengan perbuatan baik, bukan keinginan untuk menyakiti.

Terbiasa melakukan beragam perbuatan baik, akan membuat hidup kita menjadi luar biasa. Cukup banyak rupa perbuatan baik yang bisa kita jadikan kebiasaan dalam gaya hidup kita. Show that to the peoples kalo kita biasa berbuat baik.

Percaya deh, walaupun hidup kita tidak dipenuhi oleh beragam kesenangan duniawi atau berkelimpahan harta, namun hati serta pikiran kita, akan dipenuhi oleh rasa sukacita, jika kita punya kebiasaan-kebiasaan baik, biasa berbuat baik, serta sudah terbiasa untuk setiap saat berbuat baik.


.Sarlen Julfree Manurung

My Mind

"Yaahhh... Kalah lagi, kalah lagi... Kapan nih, tim nasional sepak bola Indonesia menang lagiii...?"

Pernyataan itu keluar dari mulut seorang bapak, yang tak sempat menonton pertandingan sepakbola Pra Piala Dunia 2014 (PPD 2014) antara tim nasional (timnas) sepak bola Indonesia melawan timnas Bahrain, gara-gara terjebak kemacetan lalu lintas di ibukota setelah lembur bekerja di kantor.

Berawal dari kekalahan 0 – 1 saat melakukan pertandingan persahabatan dengan timnas Yordania di Solo beberapa waktu yang lalu, derita kekalahan kembali dialami timnas kita, setelah dipecundangi timnas Iran 0 - 3 dalam pertandingan pertama babak ketiga Group E kualifikasi Piala Dunia zona Asia.

Timnas kita harus kembali menelan kekalahan, setelah pada tanggal 6 September 2011 lalu, dipaksa menyerah kalah 0 – 2 atas timnas Bahrain di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan – Jakarta.

Kegigihan dan kerja sama antar pemain timnas Indonesia pada saat perebutan Piala AFF tahun 2010 lalu, tidak begitu nampak dalam ke-3 pertandingan itu. 

Penyebab Kekalahan : Faktor Non-Teknis

Tidak ada satu pun tim, regu, ataupun atlet perseorangan yang menginginkan, menderita kekalahan pada saat bertanding, apalagi harus mengalami kekalahan secara berturut-turut. Hasil yang ingin diperoleh adalah kemenangan, minimal bisa bermain imbang atau seri.

Setiap tim, regu, atau seorang atlet, pasti menginginkan hasil yang terbaik, apalagi kalau bisa mengalahkan tim, regu, atau atlet lawan yang tergolong kuat atau lebih diunggulkan.

Banyak anggota masyarakat kita yang angkat bicara untuk menyampaikan opini mereka terkait dengan kekalahan berturut-turut yang dialami oleh timnas kita. Ada seberkas nada kecewa, dan ada pula nada tak ingin kehilangan kebanggaan terhadap timnas kita, yang sempat menorehkan harapan, akan bangkitnya dunia persepakbolaan tanah air.

Sejumlah anggota masyarakat kita berpendapat, penyebab kekalahan berturut-turut yang dialami timnas kita beberapa waktu belakangan ini, karena para pemain terlalu tegang pada saat bertanding. Mental mereka sudah lebih dahulu tergerus oleh karena beratnya beban yang ditaruhkan, meraih kemenangan di setiap pertandingan, khususnya, pada saat bertanding di kandang sendiri. 

Beberapa anggota masyarakat lainnya berpendapat, penyebab kekalahan itu bisa terjadi karena para pemain timnas kita tidak memiliki stamina yang cukup baik untuk menghadapi pertandingan 2 x 45 menit, utamanya, saat timnas kita bertanding menghadapi timnas Bahrain di Stadion GBK, Senayan. 

Pada saat menghadapi timnas Bahrain, terlihat jelas kalau sebagian besar pemain timnas kita masih kelelahan. Saat itu, praktis para pemain timnas kita hanya memiliki waktu efektif 1 hari untuk dapat mengembalikan kebugaran stamina mereka, setelah melakukan 9 jam penerbangan ke Jakarta dari Teheran, Iran, usai bertanding melawan timnas Iran, disana.

Ada pula anggota masyarakat lainnya (dengan nada menghibur) yang mengatakan, kalau timnas kita masih kurang luck (beruntung) saja (terutama ketika timnas kita bertanding menghadapi timnas Yordania), sehingga harus mengalami kekalahan demi kekalahan.

Namun, pendapat masyarakat yang paling menarik, adalah kalau penyebab dari kekalahan berturut-turut yang dialami timnas kita, terjadi karena para pemain merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan program latihan dan strategi permainan yang dikembangkan Wim Rijsbergen.

Pendapat ini mengemuka setelah merebaknya issue yang mengatakan, 7 orang pemain (yang selama ini memperkuat timnas) tidak bersedia untuk bergabung kembali ke dalam timnas, apabila jabatan pelatih timnas masih dipegang oleh Wim Rijsbergen.

Issue ini muncul ke permukaan, setelah diketahui, ke-7 orang pemain timnas tersebut, melakukan pertemuan dengan Alfred Rield, mantan pelatih timnas yang dipecat PSSI, di suatu tempat. Ada kesan, kalau Alfred Rield telah menghasut sejumlah pemain itu untuk memboikot kepemimpinan pelatih Wim Rijsbergen dalam timnas. Namun, berita yang tersebar ditengah-tengah masyarakat, tidak sampai sedemikian kerasnya.

Faktor Teknis

Ketua Umum PSSI, Djohan Arifin Husin, mengatakan, kalau kekalahan berturut-turut yang dialami timnas kita, lebih dikarenakan faktor non-teknis.

Pendapat atau pandangan dari Ketua Umum PSSI itu, memang ada benarnya. Namun, kita juga harus ingat, kekalahan yang dialami suatu tim, regu, atau seorang atlet, bisa juga dipengaruhi oleh faktor teknis, yaitu faktor kemampuan dan kesiapan tim, regu, atau atlet itu sendiri.

Wim Rijsbergen mengatakan, salah satu masalah terbesar dalam timnas kita adalah soal konsentrasi pemain. Bentuk permainan yang ditampilkan para pemain timnas Yordania, Iran, dan juga Bahrain, sebenarnya tidak istimewa. Akan tetapi, oleh karena para pemain timnas kita tidak konsentrasi saat bertanding, mereka akhirnya tidak bisa memetik point kemenangan dari timnas lawan.

Karena kurang konsentrasi, para pemain timnas kita sering kali membuat kesalahan. Para pemain timnas kita banyak sekali membuang peluang-peluang emas untuk menciptakan gol, karena mereka tidak tenang dalam penyelesaian akhir, atau karena mereka salah dalam memberikan umpan kepada kawan.

Sikap tidak tenang para pemain timnas kita, membuat para pemain timnas lawan berulang kali berhasil memotong tendangan umpan-umpan pendek para pemain timnas kita kepada kawan. Dalam banyak kesempatan, mereka bahkan dapat dengan mudah mencuri bola yang sedang dalam penguasaan kaki para pemain timnas kita.

Nampaknya, kurang konsentrasi dan kurang tenang, memang merupakan kekurangan mendasar dari para pemain timnas kita, sebab, kesalahan-kesalahan yang sama masih dilakukan oleh para pemain pada saat melakukan pertandingan persahabatan menghadapi timnas Arab Saudi, pada hari Jum’at (07/10/2011) kemarin, di Stadion Shah Kuala, Kuala Lumpur - Malaysia.

Pada pertandingan itu, para pemain timnas kita masih suka berlaku ceroboh dan kurang berhati-hati. Untung saja, tidak ada satu gol yang disarangkan para pemain timnas Arab Saudi ke gawang kita. 

Oleh karena tidak tenang, sering bertindak ceroboh dan kurang hati-hati, membuat timnas kita hanya mampu 4 kali melakukan tendangan langsung kearah gawang lawan. Pemain timnas Arab Saudi sendiri, melakukannya hingga 8 kali.   .

Minimnya jumlah serangan berbahaya ke gawang lawan yang dilancarkan para pemain timnas kita, menandakan kalau timnas kita masih belum memiliki konsep matang dalam membangun serangan, bahkan konsep bertanding secara tim.

Penerapan strategi permainan cepat dan menyerang, seperti yang telah diisyaratkan oleh Wim Rijsbergen sebelum pertandingan dilangsungkan, tidak nampak dipertontonkan para pemain timnas kita sepanjang pertandingan 2 x 45 menit.

Strategi permainan cepat hanya diperagakan pada babak pertama, sedangkan pada babak kedua, hampir semua pemain timnas kita, lebih sering berada di daerah pertahanan sendiri untuk memperkuat barisan pertahanan, yang sedikit kewalahan menghadapi gelombang serangan para pemain timnas Arab Saudi.

Nampaknya, timnas kita memang masih belum memiliki konsep bertanding yang tepat, terutama, pada saat melakukan serangan balik dengan cepat, atau sewaktu merapatkan kembali barisan pertahanan pada saat menghadapi serangan dari pemain lawan. 

Para pemain timnas kita juga terlihat tidak mampu menjaga dan mengatur dengan baik, tempo serta irama permainan. Hal ini dapat tergambar dari gaya permainan para pemain yang terlihat tidak mempunyai inisiatif dalam pergerakan atau penempatan posisi.  

Wim Rijsbergen mengatakan, cara bermain para pemain timnas kita, sama sekali tidak menggambarkan kualitas dari pemain sepak bola profesional. Buruk dalam penguasaan bola, tidak tepat dalam memberi umpan pada kawan, dan tidak baik dalam penyelesaian akhir.   

Memaksimalkan Kekuatan Untuk Menang Lawan Qatar

Ketenangan para pemain memiliki nilai penting, karena berpengaruh pula pada kesiapan dalam menerapkan strategi permainan, dalam menghadirkan peluang-peluang emas yang bisa menghasilkan gol kemenangan, dan mengantisipasi serangan balik lawan.  

Oleh sebab itu, Wim Rijsbergen harus pandai-pandai dalam memotivasi para pemain, agar mereka dapat lebih fokus dan lebih berhati-hati pada saat menguasai bola, memberikan umpan, dan dalam mengeksekusi bola ke gawang lawan, baik secara individual, maupun secara tim.

Motivasi dapat dibangun dengan memberikan kepercayaan kepada masing-masing pemain dalam menjalankan tugas dan perannya, sehingga mereka mempunyai motif untuk dapat memenangkan pertandingan melawan timnas Qatar pada hari Selasa (11/10/2011) esok.

Hal yang tidak kalah pentingnya, adalah meningkatkan daya tahan stamina para pemain, sehingga mereka dapat menampilkan karakter permainan cepat dan menyerang secara prima, dari awal pertandingan hingga wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. 

Dalam menghadapi timnas Qatar, Wim Rijsbergen nampaknya akan menurunkan para pemain yang diturunkan sebagai starter dalam pertandingan persahabatan melawan timnas Arab Saudi kemarin. Wim Rijsbergen dapat pula membuat kombinasi yang berbeda, selama strategi permainan cepat dan menyerang dapat diterapkan. Ada banyak pilihan pemain yang bisa diturunkan.

Keputusan Wim Rijsbergen memasukkan Yongki Aribowo, Syamsul Arif, serta Zulham Zamrun, (kemungkinan masih ditambah dengan Boaz Salosa dan Ricardo Salompessy) ke dalam tim, merupakan sebuah keputusan yang diambil agar timnas kita dapat memiliki daya serang yang lebih kuat dan lebih optimal lagi.

Saat menghadapi Timnas Qatar hari Selasa (11/10/2011) nanti, Wim Rijsbergen akan menggunakan formasi 4-3-3. Dalam formasi tersebut, Wim Rijsbergen menempatkan 3 pemain striker, tidak hanya 1 orang striker, yang selama ini menjadi formasi permainan timnas kita.

Wim Rijsbergen juga harus memberikan perhatian pada barisan pertahanan kita, terutama, strategi dalam mengawal pemain lawan yang memiliki tinggi badan lebih tinggi dari para pemain bertahan kita. 

Peluang Itu Masih Ada

Langkah selanjutnya tinggal, bagaimana strategi permainan dapat konsisten dimainkan para pemain timnas kita. Kesempatan bagi timnas kita untuk menang, tetap terbuka lebar, apalagi pertandingan dilangsungkan di Senayan.

Tentu saja, perjuangan para pemain timnas kita, membutuhkan kehadiran ribuan penonton fanatik untuk memberi dukungan secara langsung, sehingga dapat memacu semangat para pemain agar bisa meraih kemenangan.

Peluang kita belum tertutup. Jika dalam pertandingan menghadapi timnas Qatar nanti timnas kita dapat memetik point penuh, maka hasil tersebut akan menjadi modal dasar untuk memacu semangat para pemain timnas, agar bisa memenangkan pertandingan lain yang masih tersisa.

Memang masih terjadi sejumlah tindakan ceroboh serta kesalahan yang dilakukan oleh para pemain timnas kita. Akan tetapi, kemampuan timnas kita untuk dapat menahan imbang timnas Arab Saudi, merupakan sebuah gambaran, adanya upaya untuk mencapai hasil terbaik, pada saat menghadapi tim-tim kuat dari negara lain.

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kekalahan berturut-turut yang telah dialami sebelumnya. Seharusnya, para pemain timnas kita, memiliki keinginan kuat agar kekalahan demi kekalahan, tidak terulang kembali.

Kita pasti menang... Kita pasti bisa mengalahkan lawan. Harapan masih ada. Marilah kita sama-sama kita mendoakan dan mendukung keberhasilan timnas kita, untuk bisa meraih kemenangan dalam 4 pertandingan yang masih tersisa. 

Garuda di dadaku.. Merah putih warna benderaku. Jayalah selalu timnas Indonesia ku.  

 

.Sarlen Julfree Manurung

My Mind

Hari Selasa kemarin (4/10/11), seluruh anggota keluarga saya memenuhi undangan pihak Kelurahan Pondok Kelapa, untuk mengikuti proses pendataan ulang administrasi kependudukan warga, terkait dengan pelaksanaan KTP elektronik (lebih populer dengan sebutan e-KTP) bagi seluruh warga negara Indonesia. Kami datang secara bergantian sambil membawa surat undangan yang telah kami terima 1 minggu sebelumnya.

Berdasarkan catatan yang ada, hingga pukul 21.00 WIB, warga yang ikut mengantri untuk di data hari Selasa kemarin, mencapai 248 orang. Proses pendataan itu sendiri bertempat di Lantai 2 Kantor Kelurahan Pondok Kelapa, dilaksanakan oleh 2 orang petugas operator komputer, 1 orang petugas penerima, dan 1 orang petugas pemanggil.

Para petugas itu, bukanlah pegawai Kelurahan, melainkan orang-orang yang sengaja di rekrut untuk menjadi petugas pelaksana di lapangan. Mereka mendapat tugas untuk mendata seluruh warga di 14 RW yang bermukim dan memiliki KTP warga Kelurahan Pondok Kelapa.

Mereka ramah serta bersikap simpatik kepada setiap warga yang datang. Padahal, jam kerja mereka cukup panjang (dimulai jam 09.00 pagi hingga jam 17.00, dilanjutkan kembali jam 18.30 hingga 21.00, atau hingga tidak ada lagi warga yang datang).

Sikap mereka ini berbanding terbalik dengan sikap petugas Kelurahan di loket pengurusan KTP, yang kerap kali menunjukkan sikap arogan serta kasar kepada warga yang ingin mengurus KTP (membuat baru, mengganti yang hilang, atau perpanjangan). Bisa dibilang, petugas di loket ini tidak melayani warga dengan baik. 

Cara kerja petugas di loket pengurusan KTP ini (di Kelurahan Pondok Kelapa, ada di loket 3), sangat lambat serta tidak teratur. Berkas warga berserakan di mejanya. Tidak aneh kalau beberapa kali ada berkas warga yang hilang karena tercecer entah kemana.

Apabila dirinya sedang sibuk, petugas ini bahkan membiarkan warga mencari sendiri KTP yang sudah selesai (tinggal diambil atau yang belum ditandatangani Pak Lurah).

Pada saat ada masalah dengan alat yang digunakan untuk memproses pencetakan KTP (atau karena hal-hal lainnya), petugas ini bukannya meminta maaf, malah menyuruh warga untuk datang kembali pada sore harinya (biasanya, diminta datang lagi pada jam 3 sore).

Masalahnya, jika ternyata belum bisa diatasi juga hingga waktu yang dikatakannya, dengan teramat ringan petugas ini mengatakan agar warga datang kembali keesokkan harinya. Tentu saja, sikap dari petugas ini, sangat menyepelekan waktu warga yang datang ke Kelurahan untuk mengurus identitas kewargaannya.

Dalam sejumlah kesempatan, petugas ini bahkan menantang warga untuk melapor pada atasannya, apabila mengeluh karena KTP-nya belum juga selesai, walau sudah beberapa hari “menduduki” kursi tunggu yang ada di depan loket. Pokoknya, benar-benar tidak menunjukkan sikap seorang pegawai pemerintahan yang melayani masyarakat.

Padahal, pekerjaan mereka hanya menerima berkas yang dibawa warga. Jumlah warga yang datang untuk membuat KTP baru, mengganti KTP yang hilang atau perpanjangan, rata-rata tidak sampai 50 orang warga setiap hari. Bandingkan dengan tugas yang harus dijalani oleh petugas pendataan ulang untuk e-KTP itu. Jumlah warga yang dilayani antara 200 – 300 orang per-hari.

Ada lebih dari 11 ribu warga Kelurahan Pondok Kelapa yang harus mereka layani dalam jangka waktu tertentu. Bahkan mereka juga bekerja pada hari Sabtu dan Minggu, untuk melayani warga yang tidak bisa datang ke Kelurahan karena bekerja.  

Mereka benar-benar bekerja keras untuk memenuhi target penyelesaian pendataan seluruh warga hingga batas waktu tertentu, seperti yang telah ditetapkan Departemen Dalam Negeri.

Banyaknya warga yang harus di data, membuat pelayanan pembuatan e-KTP berjalan agak lambat. Rata-rata 1 orang warga dilayani 5 – 10 menit. Kegiatan yang dilakukan, dimulai dengan menjawab sejumlah pertanyaan (golongan darah, pekerjaan sekarang, dll), pengambilan foto dan tanda tangan, serta pengambilan sidik jari dan identifikasi retina mata dengan menggunakan iris mata.

Proses pendataan yang dilakukan, memang ada kemiripan dengan proses identifikasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian apabila kita ingin membuat SKCK. Bedanya, dalam pembuatan SKCK, ada kolom isian tentang tinggi dan berat badan. Dalam pembuatan e-KTP ini, tinggi serta berat badan, tidak ada ditanyakan (termasuk dalam data yang dicatat).

Adanya proses identifikasi terhadap retina mata, cukup menarik perhatian saya. Buat saya, proses identifikasi atas retina mata untuk KTP, bukanlah sesuatu hal yang biasa selama ini.

Saat ditanya, apa sebenarnya tujuan dari proses identifikasi terhadap mata warga tersebut, petugas operator memberikan jawaban, kalau hal itu dilakukan untuk mengetahui, apakah warga memiliki penyakit katarak atau tidak.

Jawaban yang diberikan oleh petugas operator itu, sebenarnya cukup logis, tapi tidak memuaskan rasa ingin tahu saya. Sepertinya, itu bukanlah jawaban yang sesungguhnya. Akan tetapi saya memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Hal lain yang menarik perhatian saya terkait pembuata e-KTP ini, adalah belum adanya waktu yang pasti, kapan e-KTP itu selesai dan diberikan kepada warga. Tidak adanya kepastian waktu tentang kapan dilakukan penukaran KTP lama dengan e-KTP, menunjukkan kalau program pembuatan e-KTP yang dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, tidak dipersiapkan secara matang.

Beberapa orang pegawai Kelurahan yang saya tanya soal kapan waktu penukaran KTP lama dengan e-KTP, juga tidak mengetahui dengan pasti, kapan e-KTP dapat ditukarkan dengan KTP format lama.

Ternyata tidak hanya itu saja. Sejumlah pegawai Kelurahan Pondok Kelapa yang saya tanya juga tidak mengetahui, apakah nantinya, e-KTP akan berlaku “abadi” atau akan ada batasan masa berlaku. Mereka bilang, hingga kini belum mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengetahui hal itu.

Masih belum jelasnya konsep pelaksanaan dalam program pembuatan e-KTP ini, menimbulkan kesan kalau pemerintah memiliki tujuan tertentu lainnya, diluar 4 manfaat e-KTP seperti yang tercantum dalam lembar informasi tentang e-KTP yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta.

Adapun ke-4 manfaat e-KTP tersebut : untuk menghindari adanya KTP ganda, untuk mewujudkan adanya database kependudukan yang akurat, sebagai upaya meningkatkan keamanan negara, serta mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan dari Lembaga atau Instansi Pemerintah maupun swasta (untuk pengurusan pasport, asuransi, dll.) karena bersifat nasional.

Nampaknya ada manfaat lain yang bisa disebutkan, namun belum diungkapkan secara terbuka oleh pemerintah kita. Contohnya, beberapa waktu yang lalu pernah ada diberitakan, kalau e-KTP nantinya akan dipakai sebagai basic data dalam menyusun DPT (Daftar Pemilih Tetap) pelaksanaan Pemilu 2014 mendatang. Kabarnya, pelaksanaan pemilu 2014 akan dilakukan secara elektronik (e-Pemilu).

Sikap pemerintah terkait program pembuatan e-KTP ini, tidak sepenuhnya transparan. Keadaan ini menimbulkan kesan “ada batu dibalik udang” dalam pelaksanaannya. Kesan itu semakin mengemuka karena pemerintah mendahulukan proyek ini agar cepat selesai, seperti sedang mengejar satu target pencapaian tertentu untuk keperluan tertentu pula.

Menurut Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Reydonniyzar Moenek, proses pendataan seluruh warga harus bisa diselesaikan pada bulan Desember 2011 ini, sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam meningkatkan layanan kepada masyarakat.

Sampai dengan tanggal 1 Oktober 2011 lalu, jumlah warga DKI Jakarta yang di data baru sebanyak 667.036 orang. Padahal jumlah warga yang harus di data lebih 7 juta orang warga. Bahkan sebagian besar warga di daerah Bantul dan di 8 kabupaten / kota di Sumatera Selatan, belum ada warga yang di data karena belum berfungsinya peralatan.

Bisa dibilang, perlakuan atas pelaksanaan program pembuatan e-KTP secara serentak, amat berbeda dengan pelaksanaan mega proyek pembangunan pembangkit tenaga listrik yang akan menghasilkan 10.000 VA daya listrik, namun hingga kini, tidak ada kabar sudah sampai mana penyelesaiannya.

Program pembuatan e-KTP ini sendiri, merupakan salah satu mega proyek yang dikerjakan sepanjang masa pemerintahan Presiden SBY. Sebuah proyek ambisius karena program ini menghabiskan dana sebesar Rp. 5,8 trilyun. Kenyataan menunjukkan, sejumlah peralatan yang dipinjamkan di beberapa kelurahan di wilayah DKI Jakarta, telah rusak, padahal baru diserahkan bulan September 2011 lalu.

Semenjak awal program ini dicetuskan untuk dilaksanakan, sudah banyak pihak yang menduga kalau program ini akan menghadapi banyak kendala. Jika hingga hari ini masih banyak wilayah kabupaten / kota yang belum melakukan pendataan karena peralatan belum tiba, belum terinstal, atau karena peralatan mengalami kerusakan, bagaimana bisa selesai pada bulan Desember 2011 mendatang?

Apabila melihat kembali manfaatnya, selain masyarakat akan memperoleh sejumlah kemudahan, pemerintah juga akan memiliki informasi yang lebih akurat atas data kependudukan, dimana akurasi data kependudukan, akan banyak membantu pemerintah dalam menyusun program pembangunan yang lebih tepat guna dan tepat sasaran.  

Kiranya pelaksanaan proses pendataan warga dalam program pembuatan e-KTP ini dapat dipertanggungjawabkan pemerintah, yaitu dipakai untuk tujuan yang benar, dan tidak dimanfaatkan untuk mempertahankan kursi kekuasaan. 


.Sarlen Julfree Manurung

My Mind

Cinta adalah kekuatan hati yang menyatukan... Oleh karena cinta, hubungan yang retak (karena suatu permasalahan) diantara pasangan yang saling mencintai, dapat diperdamaikan kembali, dengan atau tanpa mengucapkan kata... maaf.

 

"Atas nama rasa, aku memilih untuk mengalah..."

 

Ada pepatah mengatakan : mengalah untuk menang. Dalam perdamaian yang terjadi pada pasangan yang mengalami keretakkan hubungan, kata "menang" disini diartikan sebagai : membaiknya kembali hubungan yang selama ini dibina. Cinta membuat kita memilih jalan yang terbaik dengan mengalah...

 

Namun, kemenangan itu tidak terjadi dalam makna yang utuh, apabila dasar pemikiran yang dijadikan bahan pertimbangan untuk mengalah itu, hanya diwakili oleh kata : " BUTUH "...

--> Knapa butuh? karena takut kehilangan.

--> Landasan pemikiran yang diangkat : dengan mengatasnamakan CINTA / kebaikkan.

 

Padahal yang seharusnya terjadi, tindakan mengalah diikuti dengan upaya korektif melalui dialog untuk menemui kata temu... SALING MENGERTI.

--> mengerti kalau permasalahan itu ada karena salah paham.

--> mengerti kalau pertengkaran itu terjadi karena terlalu cepat terbawa emosi atau karena terlalu terbawa perasaan cemburu buta.

--> mengerti kalau sesuatu yang sepele itu, tidak perlu dibesar-besarkan.

--> mengerti, kalau gue egois, kita gak akan berhenti berantem.  

 

Pangkal permasalahan sering kali dibiarkan mengambang (beberapa diantaranya bahkan tanpa ada kata penyelesaian sama sekali), sehingga permasalahan yang sama, terkadang muncul kembali, dengan pola atau topik permasalahan yang identik sama atau hampir sama.

 

Kalau memang butuh, kenapa pertengkaran dengan penyebab yang hampir sama, dapat terulang kembali? 

 

Merasa butuh karena cinta, seharusnya diikuti kata mengerti, sebab didalam cinta, ada pengertian. Oleh karena CINTA, kita BUTUH  (menghargai, menghormati, mendengarkan, memperhatikan, menjaga, mengerti, menyadari). Bukan karena BUTUH makanya kita menghadirkan CINTA. 

 

Jangan pernah kehilangan cinta hanya karena kita tidak ingin menghargai, tidak ingin menghormati, tidak ingin mendengarkan, tidak ingin memperhatikan, tidak ingin menjaga, tidak ingin mengerti, dan tidak ingin menyadari. Bahwa pertengkaran hanya akan membuat hati kita gundah, itu bener bangettt...

 

Cinta adalah perasaan. Mengerti adalah logika. Dalam cinta, menyertakan pula logika. Dalam logika, hadirkan pula sejuta cinta didalamnya.

 

Yuukkkk... hadirkan harmoni dalam hubungan dengan kekasih hati.

 

 

.Sarlen J. Manurung

 

 

===

 

Note :

 

 Siapakah pihak yang biasanya mendahului untuk memilih mengalah? 

 

Ada kecenderungan, pilihan untuk mengalah diambil oleh pihak yang terlebih dahulu mencintai (orang yang menyatakan perasaannya) pada saat hubungan itu baru tercipta dan dibina. Hanya sebagian kecil saja pihak yang dicintai, memilih untuk mengalah sebagai jalan perdamaian. Kenapa begitu? Karena adanya perasaan takut kehilangan tadi.

My Mind

Sepanjang hari, saya kehilangan ide untuk menulis. Benar-benar gak tahu mau nulis tentang apa. Kayaknya, sudah hampir semua hal pernah saya jadikan bahan tulisan.


Merasa mengalami blank spot untuk menghasilkan sebuah artikel, saya memilih untuk membaca-baca tulisan yang di sejumlah media online. Ternyata, hampir semua media online membahas tentang kegagalan KPK menghadirkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin, untuk menyampaikan kesaksian sebagai terperiksa (bukan sebagai saksi atau tersangka - karena masih dalam tahap penyelidikan kasus) kemarin (10/06/11).


Pemanggilan M. Nazaruddin sendiri, bukan untuk menyampaikan kesaksian terkait kasus suap yang telah menempatkan Sesmenpora sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi, namun terkait kasus tindak pidana korupsi yang terjadi di Kemendiknas tahun 2007, dalam pengadaan barang di Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK), untuk kebutuhan Revitalisasi Saranan dan Prasarana Pendidikan.


Saat ditanya wartawan Teve One soal sikap M. Nazaruddin tersebut, Denny Kailimang, anggota DPP Partai Demokrat yang memimpin Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum, mengatakan, M. Nazaruddin berhak untuk tidak memenuhi panggilan KPK tersebut, karena surat pemanggilan KPK itu tidak diterimanya secara langsung. Menurut Denny, keputusan yang dibuat M. Nazaruddin untuk tidak hadir memenuhi panggilan KPK kemarin (10/06/11), dibenarkan Undang-Undang.


KPK sendiri mengakui, surat pemanggilan kepada M. Nazaruddin dikirimkan ke Sekretariat Fraksi Partai Demokrat di DPR, karena saat dikirimkan ke rumah M. Nazaruddin, tidak ada orang yang menerimanya.  


Tentu saja surat pemanggilan KPK itu tidak diterima oleh M. Nazaruddin, karena berdasarkan informasi yang disampaikan pihak Dirjen Imigrasi, hingga tadi siang, M. Nazaruddin beserta isterinya, belum kembali ke tanah air.


Banyak pihak yang sudah menduga, M. Nazaruddin tidak akan memunculkan "batang hidungnya" di KPK. Nampaknya, ada keyakinan dalam diri M. Nazaruddin kalau dirinya akan dijadikan tersangka. 


DPP Partai Demokrat sendiri sudah mengirim 3 orang pejabat teras DPP Partai Demokrat (Soetan Bhatugana, Benny K. Harman, dan Saan Mustofa) ke Singapura, untuk berbicara dan meminta M. Nazaruddin agar pulang ke tanah air. Saat bertemu ketiganya, M. Nazaruddin berjanji akan segera kembali untuk menyelesaikan kasus hukum yang sedang dihadapinya.  


Pada saat melakukan pers conference terkait hasil pembicaraan antara ketiga pejabat teras DPP Partai Demokrat dengan M. Nazaruddin di suatu tempat di Singapura, Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum mengatakan, keberadaan M. Nazaruddin di Singapura adalah untuk berobat. Anas mengaku, tim DPP Partai Demokrat yang dikirim ke Singapura, tidak berhasil meminta M. Nazaruddin untuk kembali ke Indonesia.


Anas Urbaningrum juga tidak menyebutkan kapan M. Nazaruddin akan kembali. Sayangnya, saat pers conference itu tidak disebutkan, apakah tim DPP Partai Demokrat yang telah bertemu dengan M. Nazaruddin di Singapura, meminta M. Nazaruddin untuk berobat di dalam negeri saja. Selain sudah banyak rumah sakit bertaraf internasional, ada banyak dokter-dokter berpengalaman di negeri kita yang bisa membantu menyembuhkannya.


Jika memang tidak kembali dalam waktu dekat, sikap yang diambil M. Nazaruddin tersebut bisa dikategorikan sebagai tindak "pembangkangan" atas perintah yang telah dikeluarkan oleh SBY selaku Ketua Pembina Partai Demokrat, agar dirinya kembali untuk menjalani proses hukum yang harus dihadapinya.


Seharusnya SBY mengambil langkah lebih tegas lagi. Kredibilitas SBY sebagai Presiden amat dipertaruhkan, mengingat SBY sendiri mengatakan, dirinya adalah orang yang berdiri paling depan untuk memerangi korupsi di Indonesia.


Meskipun baru dinyatakan sebagai sebuah sangkaan, namun penyebutan nama M. Nazaruddin dalam sejumlah kasus tindak pidana korupsi, merupakan sebuah tanda, M. Nazaruddin tidak menjaga citra pembinanya, yang juga adalah pendiri partai tempat dirinya membangun karir politik.


M. Nazaruddin sendiri pernah menulis dalam testimoni di blog pribadinya (yang telah dihapus) dan dalam pers release yang pernah dikirimkannya ke suatu media, kalau kasus yang sedang dihadapinya saat ini, merupakan hasil rekayasa, dan dianggap sebagai sebuah isapan jempol belaka. 


Kalau memang merupakan sebuah isapan jempol belaka, seharusnya M. Nazaruddin tidak perlu "takut" atau ragu untuk segera pulang ke Indonesia, sehingga bisa mengklarifikasi kalau sangkaan tentang keterlibatannya dalam kasus suap di Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, dan dalam sejumlah tindak pidana korupsi lainnya (yang disebutnya sebagai perbuatan konspirasi anggota partai lain, yang "sengaja" diarahkan untuk menjatuhkannya) adalah tidak benar.


Jika tidak, sangkaan keterlibatan dirinya dalam kasus-kasus tindak pidana korupsi, adalah benar adanya.


Sikap ini sama seperti sikap Nunun Nurbaeti, yang telah dijadikan tersangka oleh KPK karena dinilai terlibat dalam  kasus suap terhadap anggota DPR saat pemilihan Deputi Senior BI.


Meskipun suaminya Pak Adang Dorodjatun (mantan Wakapolri dan sekarang anggota DPR RI dari F-PKS) dengan keras membela isterinya, namun kalau Nunun sendiri tidak berani tampil untuk menyampaikan kesaksian di bawah sumpah, maka sama artinya, "pelarian" Nunun untuk berobat tersebut, merupakan pertanda, sangkaan yang diarahkan kepadanya, benar adanya.


Anehhh... sakit ingatan berat, kok, bisa jalan-jalan ke Thailand sama Kamboja?


Hamparan jutaan kata-kata pembelaan atau kata-kata bantahan, hanyalah upaya mencari-cari pembenaran adanya tindakan menghindar dari sanksi hukum. Sebagai mantan Wakapolri, Pak Adang Dorodjatun seharusnya meminta isterinya pulang, bukan memaksa KPK menjadikan 2 orang yang sering diungkit-ungkitnya sebagai tersangka pula. Bagaimana KPK bisa mengambil keputusan, kalau Nunun sendiri tidak bicara? 


Demikian pula dengan M. Nazaruddin. Curhat lewat tulisan blog saja, tidak akan membuat KPK berhenti memintanya untuk bersaksi, atau membuat masyarakat menilainya telah berlaku layaknya koruptor-koruptor lain, yang pergi ke luar negeri dengan alasan sakit. 


Bagaimana pun, namanya ada disebutkan sebagai orang yang diduga mengetahui atau diduga terlibat kasus tindak pidana korupsi. 


Kalau memang merasa tidak melakukan tindak pidana korupsi, kenapa harus takut menyampaikan kesaksian? Apakah pura-pura sakit lalu berobat ke luar negeri, adanya sangkaan terlibat tindak pidana korupsi yang diarahkan pada mereka, bisa dihapuskan? Bukankah tudingan itu akan semakin menguat? 


Apabila hanya berkilah saja, tidak akan pernah ada kedamaian hidup dan kedamaian di hati. Selalu merasa gundah (kalau ABG sekarang bilang, lagi GALAU) : merasa takut, merasa dikejar-kejar, merasa dizolimi... Bukankah lebih baik kalau keadaan ini dihadapi saja dengan sikap KSATRIA?


Btw, ada satu hal menarik lainnya usai saya membaca tulisan-tulisan artikel tentang kasus yang disangkakan kepada M. Nazaruddin di berbagai media online :


Rupanya, KPK tidak hanya sedang menyidik dan menyelidiki kasus-kasus yang menyebutkan nama M. Nazaruddin sebagai pihak yang dianggap mengetahui atau terlibat langsung dalam kasus tindak pidana korupsi di sejumlah departemen. Isterinya M. Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni, ternyata juga diduga mengetahui atau terlibat dalam sejumlah kasus tindak pidana korupsi. Apakah karena itu, mereka berdua sama-sama "berobat" ke luar negeri?


Well.. mereka memang jodoh..  =)



.SJM