Pada dasarnya, saya senang bernyanyi. Selain untuk mengekspresikan diri, bernyanyi juga menjadi media saya dalam menginspirasi sesuatu.
Menyanyi merupakan bagian dari kesenangan keluarga saya. Semua orang di rumah saya (termasuk bayi Pepita dan pembantu rumah tangga di rumah saya), senang menyanyi.
Tapi saya bukanlah seorang penyanyi. Saya bukan anggota dari suatu kelompok vokal (duet, trio, boy band, dsb.) atau anggota kelompok paduan suara dari komunitas mana pun. Buat saya, kehidupan sebagai seorang penyanyi, belum menjadi “panggilan jiwa” saya.
Saya lebih senang menyanyikan satu atau sejumlah buah lagu, pada saat saya sedang seorang diri. Bukannya saya kurang suka bernyanyi bersama-sama dengan orang lain, tapi saya sendiri merasa lebih enjoy untuk bernyany, pada saat sendiri saja.
Mungkin karena saya tergolong orang yang serius dan senang dengan keheningan suasana, makanya saya jarang terlihat bernyanyi bersama orang lain.
Bernyanyi bersama orang lain, cenderung saya lakukan ketika saya menghadiri suatu acara tertentu (misalnya : saat mengikuti ibadah di Gereja, saat nongkrong bersama para sahabat, dll.), dimana ada acara bernyanyinya, atau secara spontan kami bernyanyi.
Suasana kebersamaan membuat saya ikut bernyanyi. namun terkadang, jika lagunya tidak saya hafal, saya hanya bergumam kecil, atau bernyanyi dengan “setengah suara”, menyanyikan bait-bait lagu yang benar-benar saya hafal saja.
Bisa dikatakan, saya bernyanyi apabila saya ingin bernyanyi (terutama, saat ingin mencari inspirasi, atau saat saya ingin melepas kepenatan / rasa jengkel). Jika sedang tidak ingin bernyanyi, saya lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, membaca buku, atau... tidur.
Kurang Mengikuti Perkembangan
Pengetahuan saya tentang lagu-lagu yang sedang telah lama populer atau yang sedang populer di kalangan pencinta musik tanah air, memang tidak seperti toko kaset berjalan. Kebetulan, saya juga bukanlah seorang pendengar radio sejati.
Saya juga tidak sering menyaksikan beragam program acara musik di stasiun televisi, dimana ada tayangan video clip dan penampilan live performa dari para penyanyi / grup band yang menyanyikan lagu-lagu andalan mereka diatas panggung.
Jadi wajar saja kalau dikatakan, saya kurang up-date informasi tentang perkembangan lagu terbaru yang sedang memasuki pasaran industri musik di negara kita, dan benar-benar kurang mengikuti, bagaimana perkembangan tren musik nasional atau dunia saat ini.
Walaupun di komputer PC atau laptop saya ada puluhan hingga ratusan lagu yang saya sukai dalam format MP3, namun saya tidak terlalu sering memutar lagu-lagu yang ada di folder lagu di komputer atau laptop saya itu.
Saya memang bukan pekerja yang biasa bekerja sambil mendengarkan musik, atau seorang pekerja yang suka memanfaatkan musik sebagai alat kamuflase untuk menutupi pembicaraan telefon saya dengan rekanan kerja saya.
Sulit Menghafal Lyric Lagu
Minimnya pengetahuan saya tentang lagu, membuat saya kurang memiliki rasa percaya diri besar, terutama untuk berani tampil bernyanyi sendirian dihadapan atau diantara orang banyak, kecuali untuk ber-karaoke ria. Keadaan ini membuat saya tidak hafal lyric dari hampir semua lagu yang saat ini sedang populer ditengah-tengah masyarakat.
Kalau sebuah lagu (menurut saya) enak untuk didengar, mempunyai kedalaman arti pada bagian lyric, atau cocok dengan karakter diri serta suara saya, saya pasti menyenangi lagu itu (tapi belum tentu saya hafal lyric lagunya). Sama seperti kebanyakkan orang deehhh...
Meskipun sebuah lagu sering diperdengarkan di stasiun radio kesayangan saya, atau berulang kali saya menyaksikan tayangan video clip / live performa dari grup band atau seorang penyanyi terkenal di suatu program acara musik yang ditayangkan suatu stasiun televisi swasta, belum tentu saya hafal seluruh bait lyric lagu yang dinyanyikan oleh sang vokalis atau penyanyinya.
Well, saya memang tidak begitu antusias untuk menghafal sebuah lagu kalau saya sendiri merasa tidak benar-benar suka dengan lagunya. Itu sebabnya, saya tidak memiliki pengetahuan baik tentang lagu-lagu yang beredar di pasaran, baik lagu-lagu memori maupun lagu-lagu baru yang belum lama di launching penyanyinya.
Itulah sebabnya saya menganggap, menyanyi hanya menjadi sebuah kesenangan sesaat belaka, tidak mendefinisikan sesuatu atau memiliki makna luar biasa.
Apalagi saya sendiri tidak memiliki cita-cita atau resolusi hidup untuk menjadi seorang penyanyi. Saya memang tidak memiliki komitmen pribadi untuk punya karir sebagai seorang penyanyi, karena saya hanya senang bernyanyi saja.
Kalau ingin dikaitkan dengan aktifitas di dunia tarik suara, saya sendiri merasa lebih cocok kalau diposisikan sebagai kritikus performa seorang penyanyi, dibandingkan sebagai seorang penyanyi.
Belajar Menyanyi
If you want to sing the song perfectly, you must practice continously. Seseorang dikatakan sebagai seorang penyanyi apabila memiliki pengetahuan baik tentang bagaimana cara bernyanyi yang baik, serta bagaimana cara menyanyikan sebuah lagu dengan benar. Saya tidak memilikinya.
Banyak orang yang bisa bernyanyi, tapi mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya caranya bernyanyi dengan baik. Nada dan irama dinyanyikan suka-suka. Like what i did when i sing a song.
Padahal sebuah lagu diciptakan penciptanya, dengan tempo, ketukan birama, serta artikulasi dalam pengucapan tertentu, sehingga sebuah lagu dapat benar-benar dapat dinikmati.
Kelihatannya mudah, padahal butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menjadi seorang penyanyi, dengan kemampuan olah vokal dan teknik bernyanyi yang baik.
Prosesnya semakin cepat kalau seseorang memiliki bakat. Namun bakat saja tidak cukup kalau tidak diikuti dengan proses pembelajaran dengan baik dan berkesinambungan, sehingga bisa memiliki nilai tambah di kemudian hari.
Bergabung sebagai murid di suatu tempat belajar olah vokal, memiliki guru vokal sendiri, atau belajar sendiri secara otodidak, merupakan proses pembelajaran yang bisa dilakukan apabila ingin menjadi seorang penyanyi.
Penyanyi yang Bernyanyi
Bernyanyi memang merupakan sebuah media bagi seseorang untuk mengekspresikan diri. Namun, kalau sudah dijadikan lahan mata pencaharian, maka dibutuhkan komitmen untuk menjalaninya.
Why? Saat seseorang penyanyi bernyanyi, lagu yang dinyanyikannya memang tidak harus membawa sebuah pesan, akan tetapi selayaknya memiliki arti, pesona, serta kesan mendalam, minimal, dapat menciptakan suasana yang seharusnya dihadirkan saat itu.
Untuk bisa melakukannya, seseorang perlu melatih dan mengasah kemampuan bernyanyinya, agar mampu membawakan lagu dengan penuh penjiwaan, menghayati makna yang terkandung didalam lagu, sehingga dapat menyanyikan lagu dengan benar, seperti yang dikehendaki oleh pencipta lagu.
Adanya talenta yang diasah untuk menghasilkan kemampuan bernyanyi dengan baik, memang bisa dikomersilkan, menjadi pemasukan keuangan atas pundi-pundi penghasilan seseorang.
Oleh sebab itu, pada saat seseorang sedang bernyanyi, maka ada 2 nilai yang bisa dihadirkan : antara nilai-nilai ekonomis dan nilai-nilai emosional.
Proyeksi pemenuhan nilai-nilai ekonomis, selain dapat dilihat dari upaya seseorang yang memilih berkarir di dunia tarik suara dan musik, juga terlihat jelas pada diri seseorang yang memanfaatkan “ketenaran” dirinya untuk turut mengambil tempat dalam ranah dunia tarik suara profesional secara aji mumpung.
Sedangkan pemenuhan nilai-nilai emosional, selain dapat ditemukan dalam diri seorang penyanyi solo, dapat pula dilihat dalam diri seseorang yang bergabung dalam kelompok paduan suara.
Bernyanyi adalah Soal Rasa dan Ekspresi Diri
Pada dasarnya, kita dapat mengetahui bagaimana suasana hati seseorang melalui dendang lagu yang dinyanyikannya.
Hal ini bisa kita lihat dari lagu-lagu yang dinyanyikan oleh seseorang yang senang bernyanyi sambil mandi. Jika sedang senang, lagu-lagu ceria yang akan dinyanyikan. Saat sedang kasmaran, lagu-lagu romantis atau berthema cinta yang diperdengarkan.
Ketika merasa ingin lebih dekat pada Tuhan, lagu-lagu rohani yang disenandungkan. Dan saat dirinya sedang bersedih atau sedang gundah, maka lagu-lagu mellow akan keluar dari mulutnya.
Dendang sebuah lagu memang bisa menggugah rasa, mengilhami diri, mengubah suasana hati, dan menjadi bagian dari ekspresi diri, karena seseorang yang bernyanyi, ikut larung dalam suasana yang dihadirkan oleh sebuah lagu.
Irama dan lyric sebuah lagu memang bisa menggetarkan jiwa. Bila sedang penat, bila sedang diliputi rasa bahagia, atau bila sedang bersedih... bernyanyilah ! Ketika mulut seseorang mulai bernyanyi, dapat dirasakan perubahan suasana hati dan emosi diri oleh karenanya.
Tidak salah kalau kemudian dikatakan, bernyanyi bisa menjadi media terapi bagi diri seseorang, yaitu untuk membantu seseorang agar bisa mengungkapkan emosi / perasaan yang ada didalam dirinya.
Lewat bernyanyi, ketenangan hati bisa diperoleh tanpa harus menghadirkan suatu tindak kekerasan (penyerangan secara fisik), tanpa harus mengucapkan kata-kata kasar pada orang lain, atau bahkan, tanpa harus minum obat-obatan anti-depresan.
Enjoy your life with singing.
.Sarlen Julfree Manurung
Masalah pengelolaan keuangan pribadi dari pemilik warnet, merupakan alasan utama, kenapa usaha warnet yang sudah menjadi sumber pemasukan besar bagi pemiliknya, tidak dapat dipertahankan. Sang pemilik tidak memiliki kemampuan untuk kegiatan maintenance komputer dan sejumlah peralatan lain yang rusak atau membutuhkan upgrating.
Issue penutupan sebenarnya sudah ada sejak bulan Mei kemarin. Namun berhasil diselamatkan oleh sejumlah teman-teman yang memiliki "kedekatan emosional" dengan warnet tersebut. Mereka menyelamatkan pembiayaan perbaikan dan biaya koneksi warnet. Sedangkan biaya pembayaran tagihan listrik dan gaji karyawan, tetap pada tanggung jawab pemilik warnet.
Namun, kondisi ini tidak dapat dipertahankan karena sang pemilik, oleh karena kesulitan keuangan yang dialaminya, tidak dapat berbuat lebih. Padahal dalam setiap bulan, satu per-satu komputer mulai colaps. Sisa 5 komputer yang ada, adalah hasil kanibal dari yang rusak itu.
Dari 10 komputer yang ada, hanya 5 yang aktif. Meskipun hanya 5, namun para karyawan warnet masih bisa mengusahakan adanya pemasukan sebesar 4,2 juta/bulan. Dipotong dengan berbagai biaya sebesar 2,8 juta/bulan, masih ada sisa dana 1,4 juta/bulan sebagai keuntungan bersih.
Padahal, komputer yang dipakai, sudah mulai rewel... Dengan kemampuan sang manajer warnet, Rio Krismawan, kondisi komputer yang aktif, masih bisa dipertahankan.
Yaa... gitu deh... tadi sudah disampaikan padaku kalau warnetnya mau tutup setelah koneksi internet terputus kalau belum dibayar sampai dengan tanggal 10 bulan ini.
Dengan punya dengar, sang pemilik mengatakan, kalau ada yang mau menginvestasi, dia gak masalah kalau bangunan ruko miliknya tetap dipakai sebagai warnet. Tapi dengan syarat, orang yang ingin investasi, membayar kontrak ruangan sebesar 22 juta/tahun, karena Beliau membutuhkan dana sebesar itu dalam waktu dekat. Wahhh... lumayan besar...
Katanya lagi, komputer yang ada, mau dijual secara lelang. Melihat kondisi komputer yang ada, aku pikir, bisa dapat 7 juta untuk nilai jual keseluruhannya (kecuali komputer server tentunya), sudah bagus. Untuk komputer yang sudah crash, mungkin hanya monitor dan chasing serta sejumlah komponen CPU-nya saja yang masih dipakai.
Apabila ingin invest, maka dibutuhkan dana setidaknya 40 juta lagi, yaitu untuk membeli komputer baru, agar tidak lambat dalam koneksi komputer. Setidaknya dengan dana 40 juta, dapat terbeli 10 komputer bagus dan 1 printer.
Sebenarnya, sudah ada yang mau invest dana 35 juta dengan menggunakan uang pribadinya. Tapi itu artiinya, komputer yang ada, hanya bisa diupgade dan diperbaiki. Itu pun gak semua. Berdasarkan perhitungan matematis, masih belum memaksimalkan pemasukan keuangan.
Perhitungannya, kalau 10 komputer aktif, pemasukan yang bisa diraih (setidaknya) bisa mencapai angka 8 hingga 10 juta-an per-bulan. Jumlah pemasukan sebesar itu bisa diperoleh, karena warnet tempat aku berkreasi dan mengecek e-mail itu, sudah memiliki banyak pengunjung tetap dan tidak memiliki pesaing yang kompetitif didaerah sekitarnya (dalam radius 750 meter).
Jumlah pemasukan itu, belum dihitung kalau warnet tersebut dimaksimalkan pemasukannya dengan memasukkan jenis usaha lain didalamnya, seperti menjual aksesoris komputer, membuka sudut kafe, menyelenggarakan game online, dsb. Artinya, warnet tempat aku nongkrong itu, merupakan sumber dana yang pasti profit.
Saat ini, selain dari usaha warnet, pemasukan hanya berasal dari jasa pengetikkan, jasa print (tulisan dan foto), penjualan minuman, burning CD, scanning, jasa desain grafis, jasa servis komputer, dan jasa edit film.
Ruangan warnet yang cukup luas, masih bisa dimanfaatkan untuk mengadakan jenis usaha yang telah aku sebutkan diatas. Artinya, jumlah pemasukan keuangan masih sangat mungkin untuk dimaksimalkan.
Sebenarnya, aku ingin menyelamatkan warnet itu. Selain banyak history kehidupan (termasuk bertemu dengan Ira, pacarku), di tempat itulah aku memposting tulisan-tulisan aku dan menjawab e-mail yang masuk (saat ini, inbox e-mail yahoo aku sudah 20100 mail, sedangkan e-mail di gmail ada 7000 e-mail... banyak yaaa...).
Aku agak sulit untuk pindah ke warnet lain karena para karyawan warnet itu memiliki sifat yang familiar dan tidak pasang muka jutek ke pelanggan. Segala kebutuhan pelanggan, dilayani serta dipenuhi dengan santai dan penuh senyum.
Meskipun belum dibayar dengan jumlah gaji yang maksimum, namun mereka tetap setia menjalankan tugas sebagai orang-orang yang dapat diandalkan. Ada 3 orang karyawan, dan masing-masing karyawan, mempunyai kemampuan yang berbeda-beda sehingga setiap kasus atau masalah yang ada, dapat ditangani dengan maksimal.
Warnet itu banyak jasanya bagiku. Tapi sayang, aku gak punya kemampuan dana untuk "menyelamatkan" keberadaannya. Sejumlah teman lain yang aku hubungi, belum bisa mengambil keputusan karena mereka harus mempersiapkan diri untuk pengeluaran dana menjelang Lebaran. Artinya, masih nunggu 2 bulan lagi kalau mau dana tersedia.
Aku benar-benar berharap, ada teman-teman di multiply ini, mau menginvestasikan dana untuk menyelamatkan keberadaan warnet yang telah membuat aku bisa belajar banyak tidak hanya tentang dunia tulis-menulis, akan tetapi juga teknologi, politik, dan yang terpenting adalah... pergaulan untuk mendapatkan sebanyak mungkin teman.
Jumlah dana yang dibutuhkan, memang tidak sedikit (sekitar 65 juta-an). Tapi aku percaya, apabila rekan-rekan melihat buku catatan keuangannya, warnet itu dapat menjadi sumber devisa keuangan pribadi yang menjanjikan.
Aku benar-benar berharap, ada dari antara rekan-rekan yang dapat membantu aku untuk menyelamatkan warnet tempat aku nongkrong itu... cause i need that place for work and make much creation.
Segala sesuatunya, masih bisa dibicarakan... Atau ada diantara rekan-rekan sekalian yang bisa memberi aku saran yang besar kemungkinan dapat menyelamatkan keberadaan warnet itu?
Help me guys...
GBU All
.Sarlen Julfree Manurung
Tadi sore, aku bertemu dan berdiskusi dengan Mbak Puji dan Mbak Lestari, utusan dari www.jawaban.com yang mengurus penukaran hadiah yang kemarin sempat tertukar dengan pemenang lainnya.
Kami cukup banyak membicarakan hal-hal yang patut dikoreksi dalam kegiatan Cibfest 2008 kemarin. Semuanya terkait pada bagaimana etos kerja www.jawaban.com dalam melaksanakan sebuah kegiatan yang melibatkan banyak peserta dan memanfaatkan teknologi, dapat dirubah untuk mendapatkan kualitas yang terbaik, yang sesuai harapan. It's all about they integrity...
Iya, nama www.jawaban.com memang sudah besar dan memasyarakat, namun mereka belum sampai pada puncak kualitas yang terbaik. Selain dari penyelenggaraan lomba Cibfest 2008, aku sering melihat, mereka agak lambat dalam hal updating website mereka.
Kembali mengenai Cibfest, secara pribadi aku mengatakan kepada mereka kalau aku kecewa dengan cara kerja dan sikap tidak konsisten yang mereka tunjukkan. Aku juga katakan kepada mereka, kalau kritikan yang aku berikan kemarin dan tadi, adalah untuk membuat mereka menjadi yang terbaik serta tahu bagaimana proses yang baik dan benar untuk menyelenggarakan kegiatan dalam bentuk online atau apapun.
Mereka sendiri mengatakan, kalau kendala terbesar adalah terbatasnya jumlah karyawan yang bisa mensiasati pekerjaan rutinitas mereka dengan mengelola kegiatan lomba yang mereka lakukan.
Mereka juga bilang, kalau mereka sedang ada event, satu karyawan bisa menghandle sejumlah job. Oleh karena itulah, mereka tidak dapat mempersiapkan acara dengan kualitas yang diinginkan. Mereka juga mengaku, kalau mereka baru pertama kali mencoba untuk melakukan kegiatan seperti Cibfest 2008.
Aku katakan pada mereka, memang, suatu keadaan bisa menjadi kendala. Namun, sebuah aturan main atau kejelasan konsep dalam membuat suatu acara, harus tetap dijalani dan gak bisa buat rules sendiri. Sekarang semua tergantung kesiapan saja, kalau memang belum siap, seharusnya gak usah dipaksakan untuk membuat acara. Tunggu dan review lagi, sampai segala sesuatunya memang sudah siap menjalaninya.
Sejujurnya, sebelum mengikuti Cibfest 2008 yang mereka selenggarakan, aku memang jarang membuka website jawaban.com. Tapi aku tahu, mereka sudah memiliki nama. Oleh karena itu aku bilang pada Mbak Puji dan Mbak Lestari, jangan karena kebesaran nama, mereka tidak menjaga kualitas tampilan. Bagaimanapun, banyak orang yang sudah mengenal www.jawaban.com. Jadi rasa-rasanya, media ini harus bisa tetap fokus serta menunjukkan profesionalitas kerja.
Meskipun masih banyak kekurangan, aku salute dengan usaha yang mereka lakukan. Mereka ingin menjadi pioneer dalam mengembangkan kegiatan penulisan blog yang bertujuan untuk pekabaran Firman Tuhan. Langkah awal mungkin harus tertatih-tatih. Tapi kedepannya, mereka harus bisa lebih baik dari yang kemarin.
Thanks, www.jawaban.com. Oleh karena Cibfest 2008, aku mendapatkan banyak bahan pembelajaran. Semoga saja, dari acara tersebut, www.jawaban.com, juga mendapatkan hal yang sama.
Kepada Mbak Puji dan Mbak Lestari aku katakan : sebuah kritikan ada untuk membangun, bukan menjatuhkan. Itu artinya, orang lain sayang sama jawaban.com dan sangat berharap, jawaban.com dapat terus memberikan yang terbaik dalam kegiatan pelayanannya.
Sukses untuk www.jawaban.com. Thanks untuk hadiahnya... Thanks, sudah memberikan aku satu kebanggaan, yang belum tentu, semua orang dapat melakukannya. GBU.
.Sarlen Julfree Manurung
Keadaan yang ada, bukan much of trouble, tapi gak tahu kenapa, dalam otak ini, ada aja yang aku pikirkan. Kayaknya semua hal aku pikirkan. Padahal, aku sempat meninggalkan rutinitas aku untuk berolah-raga di rumah... bersih-bersih dan berbenah...
Yang membuat aku sebal, aku hanya memikirkan satu hal... Ada beberapa hal yang aku pikirkan memang, tapi kisah dibawah inilah yang membuat aku mikir terus... blub...
Awal mulanya, dari kedatangan hadiah kemenangan aku di cibfest 2008 kemarin. Ternyata, isi dari paket yang dikirimkan itu, tertukar dengan pemenang lainnya. Padahal, hadiah yang salah kirim itu, adalah hadiah yang membuat aku benar-benar berusaha serta bekerja keras untuk mendapatkannya. Tidak sedikit dana, tenaga, dan waktu aku habiskan. Segala daya upaya untuk meraih dukungan, benar-benar aku jalani.
Ternyata, bukan hadiah itu yang aku dapat. Pihak panitia memang tidak dengan jelas menyebutkan hadiah kemenangan apa saja yang akan diperoleh masing-masing kategori. Aku pikir, hadiah yang salah kirim, adalah hadiah yang membuat aku bersusah payah untuk mewujudkan salah satu kebanggaan diri tersebut.
And i'm wrong... Tapi, ya sudahlah. Yang penting aku dapat hadiah juga. Meskipun kecewa dengan sistem kerja pihak penyelenggaraan, aku tetap menganggap diriku sebagai seorang pemenang. Terserah deh... Satu hal yang pasti, banner kemenangan yang ada di halaman home MP aku ini, tidak akan aku cabut...
Kemarin, pihak panitia menelpon aku. Mbak Puji Lestari yang mewakili www.jawaban.com meminta maaf atas "tragedi" itu. Why tragedy? Karena hadiah yang salah kirim itu, adalah hadiah yang aku idam-idamkan...
Demi keamanan, aku minta untuk bicara dengan pihak yang bertanggung jawab. Beberapa hal aku sampaikan untuk bahan koreksi. Namun Mas Martinus, orang dari www.jawaban.com yang bertugas mengirimkan hadiah kemenangan itu, memberikan jawaban yang mutar-mutar.
Sebelll... Lalu aku minta untuk bicara dengan ketua panitia penyelenggara. Tapi ternyata telpon yang selanjutnya datang come from the boss, pemimpin redaksi www.jawaban.com.
Aku lalu berbicara dengan Pak Yuel, the boss. Kepadanya aku memberikan sejumlah kritikan dan saran. Pikirku, karena bicara dengan the boss, gak ada salahnya aku menyampaikan kritik serta saran kepada Beliau.
Hal-hal yang aku sampaikan diantaranya :
Pertama, aku menyampaikan kalau aku harus mengirimkan pesan sampai 3 kali kepada Mbak Puji untuk mengetahui kapan hadiah kemenangan aku, dapat aku terima. Bukan cuma satu kali lhooo, tapi tiga kali...!
Pada saat pertama kali aku tanyakan, Mbak Puji bilang, ada masalah administrasi. Aku diminta bersabar. Tapi, 2 minggu aku tunggu-tunggu, gak juga ada kabar. Aku kirim lagi e-mail pertanyaan yang kedua dengan pertanyaan yang sama kepada Mbak Puji.
Mbak Puji bilang, keterlambatan terjadi karena masalah administrasi. Sistem administrasi (a/k. sistem kerja) yang diterapkan di kantor www.jawaban.com, membuat hadiah aku "menggantung" entah dimana.
Pikirku, sudah hampir sebulan lamanya, administrasi membuat hak aku menjadi lama aku dapatkan?
Lucunya lagi, setelah kiriman e-mail yang ketiga (karena aku gak punya no.telp kantor www.jawaban.com), aku diberitahu kalau hadiah kemarin sudah dikirim.
Lhooo... aku 2 kali nanya, kenapa aku gak dikasih tau kalau hadiahnya sudah di jalan? Kenapa harus aku bertanya lagi baru aku diberitahu kalau hadiahnya sudah siap diantar dengan paket?
If they have a good regulation administration system in they office, konfirmasi yang aku sampaikan, seharusnya tidak harus terjadi secara berulang hingga berkali-kali. Padahal mereka punya data diri aku, lengkap...
Kedua, kepada the boss, aku mengkritik kepesertaan dari acara cibfest 2008. Berdasarkan data dan informasi yang aku miliki, ada beberapa orang yang memiliki kaitan dengan kantor www.jawaban.com, namun ikut menjadi peserta. Ketika aku mengetahuinya, aku pikir, mungkin mereka adalah panitia bayangan, sebagai tim advance yang melihat dan turun langsung untuk membaca isi blog para peserta. Tapi kemudian, aku menyimpannya saja di dalam hati.
Well... Apabila kita memperhatikan ketentuan kegiatan acara lomba yang berlaku umum, seharusnya, mereka yang memiliki kaitan atau hubungan kerja dengan pihak penyelenggara, tidak dapat menjadi peserta.
Sepengetahuan aku, mereka yang tidak bisa ikut itu : karyawan, keluarga karyawan, pihak sponsorship, biro iklannya, dan pihak-pihak yang memiliki kontribusi atas kegiatan pihak penyelenggara lomba.
The boss memberi sanggahan kalau acara itu terbuka untuk umum. Well... walaupun terbuka untuk umum, tetap saya, orang-orang yang memiliki hubungan dengan pihak panitia penyelenggara, tidak boleh ikut serta.
Ketiga, aku bilang sama the boss, kalau saat conference pengumuman pemenang, aku tidak bisa masuk ke ajang chat conference itu.
Aku yakin, mereka tahu kalau aku adalah salah seorang nominator calon pemenang (yang akhirnya memang jadi pemenang), tapi kenapa justru aku gak bisa masuk?
Pada saat itu, aku mengatakan kepada modie conference itu secara PM, "Apakah kalian sudah memikirkan sebelumnya kalau keadaan ini akan terjadi?"
Sang modie bilang : Sudah dipikirkan, tapi gak bisa diantisipasi karena semua ikut log on.
Membaca jawaban sang modie, jelas aku tertawa. Kalau memang telah disiapkan rencana , kenapa gak bisa diantisipasi, kenapa tetap crash juga...??? Kenapa lebih banyak yang gak bisa masuk dari pada yang bisa ikut conference?
Dibenakku saat itu muncul satu pertanyaan lain : Antisipasi seperti apa sih yang mereka lakukan kalau ternyata teknologi yang mereka gunakan untuk pengumuman pemenang, ternyata tidak membuat acara pengumuman itu sukses dan berjalan sempurna?
Tahu gak, kemenangan aku justru diberitahu oleh orang lain.
Hal itu aku katakan juga pada the boss, sang pemimpin redaksi www.jawaban.com. Saat itu the boss bilang, bahkan kami sempat menolak calon peserta yang ingin ikut kegiatan cibfest 2008 karena sudah banyak yang berpartisipasi.
Kalau tahu sudah membludak, kenapa selama masa voting, tidak diumumkan kalau kepesertaan sudah ditutup? Kenapa dibiarkan gak dibatasi tanpa pemberitahuan?
Lalu, hal keempat, adalah : aku diminta untuk "bekerja sama untuk memperbaiki kesalahan yang anak buah the boss lakukan."
Jujur, aku gak suka dengan kalimat itu. Aku gak bersalah, kenapa aku yang harus memperbaiki kesalahan itu? Bukankah justru aku ini adalah salah seorang yang dirugikan? Kenapa aku juga dikonotasikan sebagai orang yang ikut bersalah?
You use wrong words, Sir...
Rasa tidak suka aku ditanggapi dengan cukup emosional oleh the boss karena (mungkin), aku dianggapnya ingin memperlambat penukaran hadiah yang salah.
Beliau tidak mengapresiasikan dengan baik kritikan yang aku berikan itu. He's so emotion... Benar-benar marah. Terlihat dari panggilan untuk aku menjadi Anda dan Saudara, dari yang tadinya Bapak.
Ucapan mulutku selanjutnya memang menunjukkan kalau aku gak perduli dengan kemarahan Beliau. Dikasihtau kok, malah marah...
Sebelum aku deal untuk penukaran hadiah yang salah kirim, aku meminta sama the boss untuk mendapatkan nomor telepon dari pemenang lain yang hadiahnya tertukar dengan hadiahku. Tujuannya, untuk konfirmasi. Tapi Beliau bilang, itu tidak bisa dilakukan dengan alasan kode etik.
Lalu aku bilang lagi sama Beliau : aku hanya ingin konfirmasi apakah benar ada kesalahan penukaran hadiah (karena ketidak-telitian dan kecermatan alias kesalahan mereka), kenapa aku tidak diberikan akses yang mereka miliki? Bukankah dalam hal ini aku juga dirugikan?
Well... aku bilang lagi, aku mau menghindari adanya penipuan. Aku gak perduli, mau bawa-bawa Kekristenan kek, pokoknya aku harus mengkonfirmasikannya dengan orang yang hadiahnya tertukar. Bukankah belakangan ini banyak orang yang memberikan "pengakuan" untuk maksud penipuan, bahkan mereka gak peduli dengan menyertakan agama sebagai alasan agar lancar menipu?
Dua argumen itu akhirnya diterima oleh the boss...
Pada saat menunggu jawaban.com memberikan nomor telepon pemenang yang hadiahnya tertukar denganku, benak pikiran aku mengatakan : "Ooohhhh... begini toh, etos kerja orang Kristen?'
Yaaa... etos kerja. Aku memang tidak membayar untuk menjadi peserta acara tersebut. Cuma daftar di website jawaban.com dan memberikan informasi berupa keterangan diri. Tapi sangat jelas, menolak kritik serta saran dari orang lain, yang sesungguhnya bisa membantu memperbaiki pelaksanaan acara selanjutnya agar menjadi lebih baik, adalah sebuah kebodohan...
Sangat disayangkan sekali kalau jawaban.com merasa sudah "besar" sehingga tidak mau menerima saran atau kritikan dari orang lain. Kekurangan dan kesalahan yang dikritisi, adalah untuk memperbaiki, bukan untuk menghancurkan. Akan tetapi, "kebesaran nama" dari www.jawaban.com, tidak membuat mereka memikirkan akan hal tersebut.
Fakta memang kalau Kekristenan tidak akan bisa dikalahkan. Tapi itu bukan berarti, orang Kristen gak bisa dikritik. Selain untuk memperbaiki kekurangan atau sesuatu hal yang salah, kritik juga ada agar kita jangan menjadi sombong, keras kepala, atau selalu mengangkat dagu kalau berjalan.
Artinya, kritik itu ada karena orang lain ingin mendukung... Apalagi kalau hal ini menyangkut etos kerja.
Memang, aku menulis ini atas dasar rasa kecewa. Capek rasanya 3 bulan aku mengikuti kegiatan cibfest 2008. Selain berkreasi, aku juga harus membujuk orang lain agar mau aktif memberikan voting untuk kemenangan aku.
Kegiatan itu aku jalani melalui warnet karena aku gak punya akses internet di rumah. Bisa dibilang, ada kali, jumlah dana yang besarannya hingga jutaan rupiah yang aku habiskan.
Yaaa... awalnya memang kecewa... Tapi, setelah deal penukaran hadiah itu aku setujui untuk dilakukan, aku merasa, aku adalah benar-benar seorang pemenang.
Alasannya : Aku gak mau mengambil hak yang bukan hak aku, dan aku merasa benar karena telah memberitahukan hal yang benar untuk kebaikkan.
Selanjutnya, aku berharap, orang-orang Kristen memperbaiki etos kerjanya. Ungkapan yang mengatakan : HARI INI HARUS LEBIH BAIK DARI HARI KEMARIN, DAN HARI ESOK HARUS LEBIH BAIK DARI HARI INI... itu benar.
Salah satu hal yang bisa membuat kita menjadi lebih baik itu, adalah mau mendengarkan saran dan kritik dari orang lain. Why? Sebab orang lain yang melihat kita, cara kerja kita, dan hasil kerja kita. Jadi, orang lain juga bisa melihat, kalau ada yang kurang atau salah sehingga layak untuk diperbaiki melalui ungkapan kritik.
Kalau mau didengar orang lain, belajarlah untuk mau mendengarkan orang lain. Kalau mau menjadi besar, berbesar hatilah menerima kritikan orang lain... Itulah dua ungkapan yang bisa mendorong kita untuk maju...
.SJM
